100 Tahun PK Ojong, Hidup Sederhana Berpikir Mulia

0
254
PK Ojong dan keluarga/Sumber: Kompas.id

Pada 25 Juli 2020 lalu, genap 100 tahun Petrus Kanisius Ojong atau biasa dikenal dengan nama PK Ojong. Bersama Jacob Oetama, ia mendirikan Intisari dan kemudian Kompas. PK Ojong dikenal sebagai seorang yang ringan membantu, pejuang kemanusiaan, seorang jurnalis, pendidik dan pendiri berbagai lembaga.

Judul di atas Hidup Sederhana Berpikir Mulia merupakan judul buku biografi PK Ojong karya Helen Ishwara (Kompas, 2001). “Gigih dan konsisten, keterlibatannya dalam pekerjaan besar membangun Indonesia Baru yang bersendikan kesamaan martabat manusia, menghayati kemanusiaan, tidak mengenal diskriminasi, berkesejahteraan sosial dengan pilar keadilan sosial,” kata Jacob Oetama dalam pengantar buku tersebut.

PK Ojong lahir di Bukittinggi Sumatera Barat dengan nama Auw Jong Peng Koen pada 25 Juli 1920. Pendidikan terakhirnya Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1946-1951. Di dunia jurnalistik, ia pernah menulis untuk harian Sin Po dan Keng Po. Tahun 1946-1961 menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Star Weekly. Tahun 1965 bersama Jacob Oetama mendirikan Kompas.

Ia meninggal pada 31 Mei 1980. Istrinya, Catherine Ojong menemukan suaminya meninggal di ranjang dengan buku terbuka dan kacamata di sampingnya. Usianya belumlah tua, yakni 60 tahun. Ia meninggalkan enam anak: Harli, Handi, Sasongko, Irwan, Sri Melani dan Sri Mariani.

Sosok Sederhana

Helen Ishwara menulis dalam bukunya (2001) bahwa PK Ojong adalah sosok yang sederhana. Ia sering nongkrong di warung sate pinggir jalan. Kalau sudah demikian, jarang yang tahu bahwa ia adalah pemimpin bisnis Kompas. Bingkai kacamata dan sepatunya ketinggalan zaman.

Bahkan, saking sederhana penampilannya, saat ke kebun persik di Niagara, Kanada ia pernah ditawari bekerja sebagai pemetik buah. Tawaran itu tidak dianggapnya sebagai penghinaan. “Katanya, sebagai pemimpin, orang harus menjadi teladan kesederhanaan supaya para bawahannya tidak ikut-ikutan konsumtif.” (hal: 2).

Mochtar Lubis, jurnalis dan sastrawan, sekaligus penerima hadiah Magsaysay menulis tentang PK Ojong dalam majalah Horison XV/183: Hidupnya penuh dengan kegiatan untuk masyarakat dan bangsanya. Sebagai manusia pribadi Ojong adalah seorang teman yang penuh setia kawan yang suka menolong kawan yang sedang dalam kesulitan.

PK Ojong dan Kesenian

PK Ojong sangat menyukai karya seni. Sejak tahun 1970, ia menyukai membeli karya seni rupa, khususnya lukisan, patung dan keramik. Kepeduliannya tak hanya membeli karya seniman saja, melainkan ia juga membelikan cat akrilik untuk dibagi-bagikan kepada seniman. “Bapak pernah ke Bali membawa cat akrilik dan dikasihkan ke seniman-seniman muda berbakat,” kata Harli, salah satu anaknya sebagaimana dikutip dari Harian Kompas edisi 25 Juli 2020.

Koleksi-koleksinya menjadi investasi tinggi. Awalnya untuk menyimpan dan memamerkan koleksi-koleksi PK Ojong, dibangun Gramedia Art Gallery, lalu mendapat ruang lebih besar saat Jacob Oetama mendirikan Bentara Budaya tahun 1982, saat ia sudah meninggal.

SHARE
Penulis sedang mencoba menjadi pembaca yang baik. Tidak suka kopi tapi suka bercerita ngalor-ngidul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here