Agustusan Dan Guyonan Kehidupan

0
1130

Pernahkah kita berpikir, kenapa ada lomba Agustusan? Jika jawabannya: untuk merayakan kemerdekaan Indonesia, yang melalui proses perjuangan dan bukan hasil pemberian penjajah, tentunya itu jawaban yang sudah sangat biasa. Seharusnya ada jawaban lain. Jawaban yang lebih menghibur, tentunya.

Saya mengetahui dan mengenal lomba Agustusan pada akhir 1990-an. Itu karena saya lahir dan merasakan masakecil di tahun-tahun tersebut. Tentunya, pada tahun itu, kemeri(u)hannya agak berbeda dibanding dengan tahun sekarang. Jika dulu mengikuti lomba ada rasa penuh antusias, saat ini agak enggak. Jangankan antusias, konsentrasi aja kurang.

Gimana mau antusias, lha wong dikit-dikit ambil gambar, cek timeline media sosial, lalu upload foto beserta caption bertema kemerdekaan. Giat seperti ini yang terasa sedikit mengganggu kekhusyukkan perlombaan. Tapi, mau gimana lagi, memang sudah zamannya seperti ini. Ya, biarkan saja mengalir seperti air.

Dari sejumlah sumber yang pernah saya baca, tradisi lomba Agustusan mulai marak pada 1950 an, beberapa tahun pasca proklamasi kemerdekaan. Di mana, waktu itu banyak rakjat Indonesia yang masih terbawa dampak euforia bebas dari dekap penjajahan. Tentunya, sangat bahagia.

Merasakan kemerdekaan itu ibarat seperti orang yang jatuh cinta, lalu cintanya direstui calon mertua. Saat seseorang jatuh cinta, kita tahu, 12 area di dalam otak akan saling terhubung, melepaskan senyawa kimia pemicu rasa bahagia seperti oksitosin, dopamin dan adrenalin.

Nah, kombinasi tiga hormon ini menghasilkan euforia pada bagian yang berhubungan dengan fungsi kognitif otak. Fungsi kognitif inilah yang memicu efek kreatif muncul. Karena itu, saat merasakan bahagia, kreativitas berlebih biasanya mulai bermunculan. Menurut saya, keberlebihan kreativitas itulah yang memunculkan berbagai tradisi lomba agustusan.

foto: metronews.com

Berperang = berlomba?

Oke, bolehlah kita memaknai sedikit penjelasan itu sebagai sisi imajinasi ilmiah dari kelahiran lomba Agustusan. Tapi, tidak kah kita bertanya kenapa harus ada lomba Agustusan? Jika memang itu sebagai dampak euforia kebahagiaan akibat sebuah frasa sakral bernama “Kemerdekaan”, kenapa bentuknya perlombaan?

Di beberapa negara bangsa, pasca menang dari sebuah peperangan, baik pasukan maupun masyarakatnya, jarang yang memilih perlombaan sebagai wasilah mengungkapkan kebahagiaan. Yang ada, mereka biasanya merayakannya dengan sajian pesta. Lalu, kenapa di tempat kita justru yang ada malah perlombaan.

Jika lomba adalah berjuang dan bersaing, bukankah perlombaan menjadi simbol dari berperang itu sendiri? Berperang untuk saling mengalahkan lawan dalam lomba makan kerupuk, misalnya.  Itu menunjukkan bahwa setelah perang usai, kita justru ingin “berperang” lagi dan lagi, bukan? Hanya, bedanya, ada unsur “guyon” dalam perang kali ini.

Kalau menurut saya, mungkin jawabannya seperti ini: unsur “guyon” lah yang menjadi kunci dari berbagai lomba Agustusan yang kita ikuti dan rasakan itu. Dalam proses berperang melawan pesaing pada lomba Agustusan, ada satu rasa yang tidak pernah tertinggal: bahagia. Kalah ataupun menang dalam proses perlombaan, kita jarang sekali merasa kecewa.

Setelah perlombaan selesai digelar, misalnya. Yang ada justru tertawa dan saling memaafkan. Entah menertawakan kekalahan ataupun memaafkan kemanangan orang lain. Nah, memaafkan kemenangan orang lain inilah yang sangat jarang kita temui akhir-akhir ini. Barangkali, kita disuruh mencontoh tradisi Tujuhbelasan agar mudah menerima dan memaafkan, saat musuh kita mendapat anugerah kemenangan.


Guyon Agustusan

Jika hidup adalah “perjuangan, perlombaan ataupun persaingan” seperti yang kerap dikatakan para motivator cum moralis itu, tentu kita bisa membelokkan sedikit makna dari berjuang, berlomba dan bersaing tersebut menjadi “perjuangan, perlombaan ataupun persaingan” dengan konteks guyonan, seperti lomba Agustusan. Sehingga, tak ada yang kecewa bagi yang kalah sekaligus tak ada yang jumawa bagi yang menang.

Di dalam lomba Agustusan, yang menjadi pusat kenikmatan adalah proses perlombaan, bukan hasil dari apa yang telah dilombakan. Sebab, siapapun yang menang, toh semuanya akan tertawa karena merasakan nikmatnya proses perlombaan. Lomba Agustusan menunjukkan pada kita bahwa hasil tidak selalu menjadi penentuan menang kalah dari pertarungan.

Barangkali, jika kita mampu memaknai dan membaca tanda dari kehadiran lomba Agustusan; tidak ada lagi suporter sepakbola yang marah-marah dan merusak fasilitas umum hanya gara-gara klub kebanggaannya kalah bertanding, tidak ada lagi seseorang yang kecewa hanya karena cintanya tidak direstui takdir, dan tidak ada lagi tim sukses yang menyimpan dendam hanya karena jagoannya kalah saat mencalonkan diri menjadi pemimpin.

Itu menjadi alasan kenapa Gus Dur tidak terlalu marah ketika diturunkan dari kursi Presiden oleh para lawan politiknya pada Juli 2001 lalu. Bahkan, Gus Dur juga melarang para Banser dari berbagai daerah untuk menduduki Jakarta. Justru, dengan tenang Gus Dur melambaikan tangan pada masyarakat hanya menggunakan kaos oblong dan kolor saja.

Selain ingin menunjukkan bahwa jabatan hanya pakaian semata– sehingga jangan terlampau serius menghadapi kehidupan– barangkali beliau  juga ingin menunjukkan pada kita bahwa jika perlombaan sudah selesai, berarti saatnya guyonan dihadirkan.

Sebab, meskipun Sang Pencipta menyuruh kita untuk berusaha, sejatinya, hidup ini hanya proses guyonan saja. Seserius apapun kita menjalaninya, toh ada takdir sebagai garis halus yang menentukan segalanya. Ingat! Bukan berarti kita tidak boleh berusaha lho ya.

Usaha itu perlu (sebagai i’tikad baik untuk mengisi takdir, siapa tahu, dengan i’tikad baik, Tuhan mengubah takdir dari yang buruk menjadi baik). Tapi,  setelah berusaha sekuat tenaga, ada kalanya kita kembalikan semua pada Sang Sutradara, sambil meyakini bahwa apapun ketetapannya, adalah hal baik bagi kita semua.

 

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here