Air Mata Sholat Idul Fitri Sendiri di Rumah

0
534
Sumber: Freepik

Setelah Berbuka puasa terakhir di bulan Ramadhan tahun 1441 H, terdengar lantunan takbir dengan pengeras suara dari masjid dan mushola. Malam takbir ini memang berbeda, tidak ada takbir keliling, tidak ada konvoi dan arak arakan, situasi ini linier dengan larangan pemerintah yang bertujuan memutus mata rantai wabah covid 19 dengan tidak berkumpul, tidak mudik, dan segala kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa.

Kalau setelah sholat magrib dan isyak di rumah, kami sudah terbiasa melantunkan takbir bersama keluarga kecilku di tempat sholat dalam rumah kami. Akan tetapi kebiasaan yang tidak biasa terjadi menjelang fajar, setelah bangun tidur di hari raya idul fitri 1 syawal 1441 H, yang biasanya setelah mandi sunnah idul fitri, kami sekeluarga sholat subuh berjamaah, kemudian berangkat ke masjid dengan pakaian serba baru, untuk menunaikan sholat idul fitri berjamaah.

Tapi tidak untuk kali ini. Minggu pagi 24 Mei 2020. Setelah kami sekeluarga menggunakan pakaian serba baru, saya cuma bisa berpesan kepada sang istri dan anak anak, untuk membawa sajadah sendiri dan menggunakan masker, kemudian mereka berangkat ke masjid. Akan tetapi saya memilih tidak.

Sang istri bertanya, kenapa tidak ikut jamaah sholat Id di masjid? Saya pun menjawab, saya sholar Idul Fitri di rumah saja, kemudian pembantu saya mbak Suminah juga menyahut, iya tetangga desa juga dilarang sholat Idul Fitri di masjid, cuma masjid sini aja yang boleh. Tentu dengan memperhatikan menggunakan protokol kesehatan.

Kemudian saya juga meneruskan jawaban, karena pemerintah menghimbau untuk meniadakan sholat idul fitri di masjid,. Saya memilih mengikuti anjuran tersebut, karena saya menjadi bagian dari pengambil kebijakan di mana saya juga harus memberikan contoh bagi masyarakat.

Selang beberapa menit, sang istri dan anak anak sudah berangkat ke masjid bersama mbak Suminah. Tinggallah saya sendirian di rumah. Saya melaksanakan sholat subuh sendiri (memang agak kesiangan), di tempat sholat yang ada di rumah kami. Usai sholat shubuh, keadaan masih seperti biasa.

Akan tetapi kejadian luar biasa terjadi saat usai sholat subuh, saya melantunkan takbir sendirian, air mata ini tiba-tiba mengalir deras dari kedua mata. Seakan dunia seisinya ini sangat kecil, kecil dan sangaaat kecil sekali. Ternyata hanya Tuhan Allah lah yang Maha Besar, yang mampu mengubah semuanya, semuanya dengan sangat mudah. Sesuatu yang normal bisa menjadi tidak normal, positif bisa menjadi negatif, A bisa jadi Z begitu pula sebaliknya, mengubah sesuatu yang baik menjadi sesuatu yang tidak baik, semua di bawah kuasa Allah.

Selesai Takbir beberapa kali, sambil mengusap air mata yang deras, saya lanjut sholat Idul Fitri sendiri, sepi. Setelah takbiratul ihram pada rokaat pertama, saya lanjut takbir 7 kali, di sela sela takbir 7 kali tersebut sebelum membaca Surat Alfatihah, air mata ini semakin deras bercucuran keluar dari kedua mata. Di dalam pikiran saya terbersit pikiran sepanjang sejarah hidup saya baru kali ini sholat idul fitri sendiri di rumah, Tuhan memang Maha Kuasa, bisa mengubah keadaan dari hal yang biasa menjadi tidak biasa.

Tak hanya itu, pikiran saya menjadi kemana-mana. Pikiran yang paling ekstrem keluar dari benak saya, saat ini saya sholat sendiri, menghadap sang Ilahi sendiri, besok pun kalau mati saya juga sendiri, mempertanggungjawabkan segala perbuatan saya di dunia ke hadapan Gusti juga sendiri. Semua serba saya pertanggungjawabkan sendiri. Kali ini saya sendiri tidak ada teman bahkan keluarga yang mendampingi, saya benar benar kecil di hadapan Tuhan. Allahuakbar (Tuhan Maha Besar) itu memang benar ada nya. Saya adalah makhluk yang sangat kecil yang tiada daya di hadapan Tuhan. Begitu sampai selesai rokaat yang kedua hingga salam, yang terbersit dalam benak saya hanya satu ALLAHUAKBAR TUHAN MAHA BESAR itu memang haq dan benar adanya. Gusti mampu membuat semuanya jungkir balik. Dan air mata ini semakin deras bercucuran.

Baru kali ini saya sholat sunnah idul fitri di luar kebiasaan, merasakan betapa saya benar benar mengingat kebesaran Tuhan.

Usai salam saya lanjut melantunkan takbir beberapa kali sambil menutup dengan doa dengan masih berurai air mata kemudian mengakhirinya karena takut ketahuan anak anak pulang dari masjid.

Salam

Minal Aidhin wal faizin

Mohon maaf lahir bathin

Sementara tidak usah bersalaman dan saling berkunjung, karena ini demi kepentingan kita bersama.

 

24 Mei 2020

SHARE
Penulis adalah Founder Komunitas Sedekah Bergerak (KSB) dan anggota DPRD Bojonegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here