Anda Jangan Pernah Menjadi Reseller Kebencian

0
181

Rukunnya Jokowi dan Prabowo di panggung pencak silat Asian Games sangat berbeda dengan yang terjadi di media sosial. Setiap hari di timeline kita berseliweran ujaran kebencian dari setiap kubu politik.

Mengapa kebencian itu bertaburan?

Dulunya kebencian diyakini murni sebagai penolakan terhadap suatu pemahaman. Tetapi belakangan, ilmuwan Harvard, Edward L Glaeser menemukan kebencian ternyata ada yang merupakan jualan pedagang kebencian. Para pedagang ini namanya pengusaha kebencian. Wirausahawan kebencian. Bakul sebah. Enterpreneur of hate. Mereka memanen upah dari serapah, sumpah, dan tulah.

Mengapa kebencian itu terus bermunculan?

Kebencian yang disuplai oleh pedagang kebencian tadi muncul karena ada demand dari politisi jahat. Hukum ekonomi lah.

Figur-figur politisi jahat menanam benih-benih kebencian demi mendapatkan dukungan politik. Biasanya target serangan adalah minoritas.

Kompetisi politik membuat permintaan terhadap kebencian semakin naik. Umumnya, kebencian ditebar lewat berita palsu melalui media sosial.

Yang menyedihkan lagi, ada porsi besar populasi kita menyambut taktik pedagang kebencian ini. Penerimaan mereka terhadap berita-berita palsu menebar kebencian lebih didorong kemalasan mencari kebenaran informasi. Benci kemudian bercampur dengan marah. Api disiram bensin. Tanpa disadari, jadilah mereka reseller kebencian.

Sejarah sudah membuktikan kebencian akan membawa kita ke tempat yang sangat gelap.

Satu contoh saja. Pada 27 Februari 2002 sebuah gerbong kereta api Express Sabarmati terbakar, dekat kota Godhra, Gujarat, India. Pada peristiwa itu 59 orang, banyak yang perempuan dan anak-anak tewas. Korban kebanyakan umat Hindu yang baru pulang dari perjalanan ziarah di Ayodhya.

Sekelompok umat Hindu menduga kebakaran kereta dilakukan oleh warga Muslim. Itu karena saat itu konflik tengah terjadi di antara dua kepercayaan tersebut dan lokasi kebakaran kereta di Gujarat menjadi wilayah mayoritas dihuni umat Islam.

Kebakaran itu memicu penyerangan terhadap umat Muslim di sejumlah wilayah di Gujarat. Korban tewas berjatuhan hingga angka seribu. Ternyata, berdasarkan penyelidikan, Hakim Pengadilan Tinggi India Umesh Chandra Banerjee menyatakan kebakaran kereta Sabarmati Express di Gujarat terjadi bukan karena ulah warga Muslim, tapi murni kecelakaan. Data resmi korban adalah 790 muslim dan 254 Hindu. Bahkan ada yang menyebut angkanya bisa lebih dari itu.

Sampai hari ini, bentrokan di Gujarat bukan hanya menjadi trauma bagi korban yang selamat, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Mengutip Amartya Sen, ada kesalahan mendasar manusia dalam memandang identitasnya. Ada tendensi di antara politisi, ilmuwan atau masyarakat umum untuk mendudukkan manusia lain pada satu identitas saja.

Karakteristik seseorang hanya dilihat dari satu identitas saja seperti warna kulit, etnis, agama atau suku. Padahal konstruksi identitas seseorang dengan hanya melihat satu dimensi meninggalkan celah dengan meminggirkan pluralitas pada dimensi lain. Masih ada dimensi sosial, keluarga atau kelompok profesi yang saling mengikat seseorang dengan sesama warga bangsa.

Contohnya begini: Identitas paling kuat yang melekat pada saya adalah alumni Universitas Hwarakadah. Pada dimensi lain, selain alumni Universitas Hwarakadah saya juga Milanisti. Dalam kelompok identitas alumni Hwarakadah itu bakal terdapat identitas lain yang plural. Di samping saya yang Milanisti tulen, ternyata ada alumni Hwarakadah yang Juventini, Parmanisti atau Interisti.

Dalam banyak kasus, identitas tunggal yang kuat menjadi sumber bencana kemanusiaan. Saat Hutu membantai Tutsi di Rwanda, Amartya Sen mengingatkan bahwa seorang Tutsi yang dibunuh Hutu tidak bisa dilihat hanya dari identitas Tutsi saja, bahwa selain Tutsi dia memiliki kesamaan identitas dengan pembunuhnya, sesama Rwanda, sesama Afrika, atau sesama umat manusia.

Begitulah efek kebencian, tanpa kita sadari dampaknya membawa dalam gulita. Jika anda adalah pembeli atau reseller dagangan kebencian dari para enterpreneur ini, anda bakal menggemukkan pundi kekayaan mereka. Sebaliknya risikonya besar sekali. Negeri yang anda tinggali bisa tercerai berai.

Musuh kita, bukanlah kubu liyan di luar kita. Musuh kita adalah pedagang-pedagang kebencian yang suka menyebar fitnah dan berita palsu. Musuh kita adalah politisi yang suka berkomentar bloon. Musuh kita adalah pembangkit sentimen SARA di tempat yang plural. Yakinlah dan menjauhlah dari para pedagang kebencian yang sudah mati nuraninya, beku empatinya, dan mahabesar daya rusaknya.

Belakangan sedang viral sebuah pesan dari negeri Jiran, yang politiknya juga terbelah. Berikut saya kutipkan:

KFC tidak pernah menjelekkan McD
McD tidak pernah mengata-ngatai KFC. Keduanya kini menjadi yang terhebat di dunia. Sama-sama dari Amerika.

Mercedes Benz tidak pernah berusaha merusak reputasi BMW
BMW tidak pernah berusaha mematikan Mercy. Dua-duanya hebat, sama-sama dari Jerman.

Ferrari tak pernah berusaha menjatuhkan Lamborghini.
Lamborghini juga tidak pernah memusnahkan Ferrari. Dua-duanya hebat. Sama-sama dari Italia.

Kita tidak perlu memfitnah yang lain agar orang tertarik dengan kita. Kita tidak perlu memburukkan orang lain agar kita tampak bagus.

Kita hanya perlu menghormati lawan, menghormati teman dan saling membantu sebagai anak bangsa.

Kehebatan tidak akan abadi dengan cara menghancurkan orang lain.

Marilah kita selalu rapat berbaris menyongsong persaingan global, bergerak dalam langkah bersama menuju bangsa yang lebih cemerlang seperti cita-cita founding fathers.

Jika kemudian anda dihadapkan pada masa kompetisi politik seperti saat ini, saringlah figur-figur yang ada. Pilihlah yang berciri negarawan bukan politisi. Kata James F Clarke: politisi hanya berpikir pemilu ke depan, negarawan memikirkan generasi mendatang.

 

SHARE
Jurnalis senior dan pengamat olahraga, kini tinggal di Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here