Asal Mula Garam di Madura, Tak Lepas dari Penyebaran Islam

0
207
Ilustrasi petani garam/Sumber: Pixabay

Garam menjadi bumbu masak nomor satu bagi masyarakat Indonesua, khususnya jawa. Hampir semua masakan diberi garam. Tak heran jika di semua dapur keluarga, pasti ada garam. Pastinya di dapur rumahmu juga kan?

Salah satu daerah penghasil garam adalah Pulau Madura. Madura boleh dibilang penghasil garam paling besar di Indonesia. Terdapat 15.000 hektare lahan garam di pulau Madura. Tapi pernahkah kamu mengetahui cerita asal mula adanya garam di Madura?

Garam bagi masyarakat Madura boleh disebut sebagai denyut nadi kehidupan. Garam mempunyai bentangan sejarah panjang. Masyarakat Madura mempercayai, keberadaan garam tidak bisa dilepaskan dari sosok Angga Suta atau Syekh Abdulrahman, penyebar agama Islam di pulau Madura.

Angga Suta adalah sosok yang dipercaya berasal dari jazirah Arab yang mempunyai dua saudara, yakni Syekh Kebasa dan Raden Ayu Kinancing atau Indu Sari. Syekh Abdulrahman (Angga Suta) menyusul ayahnya yang seorang penyebar agama Islam di Ujung Matahari yang kemungkinan besar adalah Ujung Pandang (Makassar).

Menurut Mahbub, seorang ulama cum-budayawan di Sumenep, dalam buku Hikayat Garam (Sebutir Garam untuk Kehidupan di Bumi Seribu Masjid), dalam perjalanannya Angga Suta mampir ke tempat Sunan Gunung Jati. Sang Sunan menugaskan 15 wali untuk menyebarkan Islam di Jawa bagian Timur. Dan Angga Suta adalah termasuk dari barisan penyebar Islam tersebut yang kemudian datang di Sumenep.

Di Pinggir Papas (salah satu daerah di Sumenep), pada suatu masa terjadi wabah penyakit. Pagi sakit, malam mati. Malam sakit, siang mati. Lalu Angga Suta memerintahkan santri (bintara) bernama Samanuntuk membaca surat At Taubah selama tiga malam Jumat berturut-turut.

“Malam Jumat pertama, surat At Taubah dubaca sebelas kali, dengan selamatan kue apem. Malam Jumat kedua, dibaca 21 kali selamatannya dengan jadah dan wajik. Yang ketiga At Taubah dibaca 41 kali, selamatannya dengan kelepang atau kue tepung jagung berbungkus daun dan ketupat,” kata Mahbub (hal:43).

Setelah permohonan warga itu akhirnya wabah penyakit bisa hilang. Dan ketika sudah tenang, Angga Suta berjalan-jalan di pantai. Nah, di bekas injakan kakinya tumbuh garam. Jejak kaki Angga Suta tersebut hingga kini masih ada, yakni di sebelah utara Kantor Pegaraman 1 Sumenep.

Garam kemudian diproduksi oleh warga, dan makin lama makin meluas hingga Sampang dan Pamekasan. Garam kemudian dikenal dengan sebutan madu segara atau madu samudera.

Seiring berjalan waktu, pergolakan politik banyak berpengaruh pada garam. Pada abad ke-17, garam dimonopoli oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa setelah mendapat restu dari raja-raja Madura. Hal itu juga tak bisa lepas dari peran VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang menguasai Madura. Kuntowijoyo, seorang sejarawan ternama menguraikan agak panjang dalam bukunya Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris, Madura 1850-1940.

Produksi gram makin diperketat oleh VOC dengan membuat aturan larangan membuka lahan baru untuk produksi garam tanpa seizing VOC. Apalagi, VOC kemudian membuat aturan pengepakan garam.

Perjalanan garam kemudian berubah-ubah, mulai dari tangan VOC, kemudian di tangan Thomas Stamford Raffles dari Inggris yang mengganti sistem pak beralih ke upeti. Namun saat Inggris hengkang dan VOC menguasai Madura lagi, monopoli kembali digenggam VOC yang menjadikannya makin menguasai garam rakyat Madura.

Mulai tahun 1915, ada badan yang dibentuk pemerintah khusus mengurusi garam, yakni Dinas Monopoli Garam (Hoofd van den Dienst der Zoutregie). Sementara masyarakat Madura makin menggantungkan hidupnya dari produksi garam. Berbagai kebijakan pemerintah Kolonial menunjukkan betapa berartinya garam bagi perekonomian penjajah.

Dari sejarah panjang garam Madura, tampak bahwa garam tak bisa dipisahkan dari masyarakat Madura. Bagi Indonesia, garam juga sering menjadi polemik di bidang ekonomi, yakni saat Indonesia hendak mengimpor garam.

Sementara itu, cikal bakal Madura juga mempunyai cerita panjang. Tapi cerita-cerita itu selalu menautkan Madura dengan Jawa. Salah satunya adalah cerita tentang Raden Segoro yang disebut-sebut sebagai raja ketiga Kerajaan Medang Kemulan bergelar Sri Maharaja Rakai Panunggalan.

Raden Segoro sendiri adalah anak dari ibu bernama Bendoro Gung. Alkisah, Bendoro Gung merupakan anak dari Sanghyang Tunggak yang memerintah Medang Kamulan. Sang raja marah karena Bendoro Gung mengandung dan tidak mau berbicara siapa bapaknya. Sang Raja pun memerintahkan untuk membunuh sang putri.

Dalam buku Sejarah Madura Selayang Pandang karya Abdulrachman (1971) diceritakan seorang patih membawa sang putri ke tengah hutan. Sesampai di tengah hutan, pedang patih ternyata tidak mempan menggores kulit sang putri. Sehingga sang patih meyakini bahwa putri itu bukan bermain serong, akan tetapi kehamilannya adalah atas kehendak Tuhan.

Lalu oleh patih, sang putri dinaikkan ke atas rakit dan dihanyutkan ke laut hingga terdampar di pesisir kaki gunung Geger. Di pulau itulah sang putri kemudian melahirkan putra yang tampan dinamai Raden Segoro. Mereka berdua adalah penduduk pertama di Pulau Madura.

________________

Garam selalu ada di setiap masakan

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here