Bacalah ‘Karma’ dengan Aroma Espresso

0
373

Membaca tiga cerita pendek dalam buku Karma and Other Stories karya Rishi Reddi tak ubahnya menyelami ketakutan, kegelisahan, kecemasan, kemarahan juga serangkaian perasaan lain yang dialami oleh anak manusia yang tercerabut dari tradisi tanah kelahirannya.

Hidup jauh dari tempat tinggal sehari-hari dengan seluruh nilai dan kebudayaan yang masih membekas tentu jadi masalah tersendiri. Ia seperti pisau occam ketemu daging segar yang bergairah membuat luka yang disengaja. Hal ini yang kemudian diolah oleh Risihi Reddi, kehidupan orang-orang India di Amerika memberinya inspirasi untuk bercerita tentang kesulitan-kesulitan dan betapa kikuk orang yang berasal dari dunia ketiga yang kemudian mesti beralih, beradaptasi atau menyerah pada kilau gemerlap dan kemajuan Barat (Amerika). Ah…rasanya tak sedramatik itu lah…mosok budaya barat terus yang menang, ayolah Rishi buat cerita yang lebih menyenangkan.

KARMA
Shankar Balareddy seorang Professor Colonial History dan Prakash Balareddy seorang Cardiologist dua orang saudara yang satu miskin tak punya pekerjaan dan satunya kaya dengan penghasilannya sebagai dokter Spesialis Jantung. Shankar ‘diusir’ dari rumah saudaranya sendiri untuk tinggal di tempat lain.

Sewaktu mencari pekerjaan di kantor unemployment ia menemui burung camar yang tergolek di pinggir jalan, mengambilnya dan membawanya ke rumah sakit hewan. Hari berikutnya ia lakoni kegiatan yang sama dan mendapati lebih banyak burung yang kebingungan dan tak mampu terbang. Hingga kemudian ia memberanikan diri untuk meminta pekerjaan di rumah sakit hewan. Beruntung salah satu staff sedang kecelakaan dan tak bisa masuk dalam beberapa waktu. Shankar menggantikan pekerjaanya yang adalah membersihkan kandang, memberi makan, mengontrol suhu dan menyiapkan peralatan medis untuk intervensi di ruang bedah.

Anda bisa bayangkan betapa tragisnya sorang professor melakukan pekerjaan murahan begitu di dunia penuh gemerlapan negara maju. Tentu saja ini bisa and abaca sebagai sebentuk kekekalahan yang sangat materiil. Hari-harinya kemudian ia isi dengan membawa burung yang kebingungan tak bisa terbang, hingga akhirnya migrasi burung itu berakhir dan ia hanya menemu satu burung di jalanan.

Sebelum cerita usai ia mengingat sewaktu bersama saudaranya ketika masih di sebuah desa di India, melihat dua pasang burung di dahan pohon lalu saudaranya meminta-nya untuk menembak salah satu, hingga burung itu kemudian jatuh dan mati. Baginya ia kemudian menyadari bahwa ia melakukan hal salah, karena dua burung itu sedang bereproduksi dan itu artinya ia tak menghargai keberlangsungan hidup.

Orang India sulit untuk tidak percaya pada karma, bahwa karena ia pernah berurusan dengan burung maka kehidupan kemudian membawanya kembali untuk menemui lingkaran burung dengan keadaan yang berbeda. Secara bangunan cerita, cerpen ini ingin menunjukkan bahwa karma ada dan hidup melalui cerita seputar burung. Tugas cerpen ini secara struktural saya kira membangun cerita bagaimana Shankar akan (dan apada akhirnya) berurusan kembali dengan dunia burung. Kenyataan bahwa Shankar yang pernah melalui berbagai pekerjaan; menjadi sopir taksi dan penjaga toko yang keduanya tak sukses dan aura kemarahan dengan saudaranya dibangun dengan asumsi karma-nya di masa lalu.

Ketika pada suatu saat Shankar menyadari bahwa ia mesti berbuat baik, menghentikan kemarahan dan menolong sesama (bersedekah pada tuna wisma) dan menghargai siklus kehidupan meskipun pada binatang sekalipun, jiwanya mulai membaik meski konflik dengan saudaranya masih ia simpan. Lingkungan Amerika tak menyediakan kemungkinan untuk ia bisa tetap hidup dalam nilai budaya orang india bahwa keluarga (besar) meski hidup bersama dalam satu atap. Shankar secara moral juga patut disalahkan atas ketidaksuksesanya melalui jalur pendidikan hingga menghambat adiknya yang telah sukses untuk menikah terlebih dahulu. Konflik keluarga menjadi pintu masuk untuk mengurai dan menceritakan sisi lain dan mengembangkan bangunan cerita. Akhir cerita yang sederhana tanpa membuat kejutan namun cerita diolah dengan bahasa yang halus dengan sulaman cerita atau fragmen yang koheren. Meskipun cerita ini masih dibangun dengan menghadirkan dua kontradiksi saudara, miskin vs kaya. Bahwa yang kaya dengan kecongkakanya dan yang miskin dengan kesederhanaan dan kebaikannya.

BANGLES
Seorang ibu yang hijrah ke Amerika untuk ikut dengan anaknya karena suaminya meninggal, namun ketika ia ingin pergi ke kuil dan mengirimkan puja ke almarhum suaminya ia tak menemukan kuil yang seperti yang ia bayangkan ada di india. Dia berharap tiap sabtu bisa pergi ke kuil dan diantarkan oleh puteranya, namun ia hanya dititipkan untuk pergi ke kuil bersama tetangga. Cucunya yang kemudian tumbuh dengan budaya Amerika dianggapnya tak punya kesopanan. Akhirnya ia tak lagi kuat untuk tinggal bersama anaknya dan menjual harta satu-satunya yang ia jaga, gelangnya—(mungkin untuk pulang ke india). Lagi-lagi soal kekalahan, dengan mengkontraskan tradisi versus modernitas.

Rishi menjaga dengan apik ritme cerita hingga tidak tergesa-gesa untuk mengakhirinya dengan sebuah tikungan yang menyentak. Juga tak saya rasakan kejutan selama cerita berlangsung. Ia membuka tabir keresahan seorang ibu yang masih memegang nilai tradisi hindu, mengembalikan kenangan sang ibu ketika suaminya meninggal dengan harus melucuiti semua perhiasan dan hanya menyelipkan satu gelang, menyambungnya dengan perkumpulan ibu-ibu rumah tangga Iindia yang punya ikatan satu dengan yang lain lalu menyulam dengan rapi ketidak-mauan seorang anak lelaki untuk menemani secara rutin sang ibu ke kuil dengan mencarikan pengganti.

LAKSHMI AND THE LIBRARIAN
Kisah ini menyoal persahabatan Lakshmi, seorang ibu rumah tangga yang mengisi harinya dengan membaca dan meminjam buku di perpustakaan dan akhirnya akrab dengan petugas yang bernama Filian. Hingga suatu hari ia melihat gelagat Filian tak seperti biasanya dan berusaha mendapatkan kesempatan untuk bertanya langsung. Filian sedih karena ibunya meninggal dan sudah sepuluh tahun ia tak menemuinya. Kedekatan dengan Filian akhirnya menumbuhkan rasa simpati sampai ketika ia tidak menemukan Filian lagi di perpustakaan maka ia berusaha telpon dan pergi ke rumahnya dengan membawakan sup.

Pertemuan yang mestinya bisa singkat itu akhirnya berlangsung seharian, ketika usai dan saat lakshmi keluar ia berpapasan dengan salah seorang temannya dan waktu itu tak seperti biasanya Lakshmi memakai jeans (bukan sari). Lakshmi ketakutan bahwa temannya akan bercerita kejadian ini pada yang lain dan akhirnya sampai ke suaminya. Lakshmi membayangkan bahwa suaminya akan menuduh ia berselingkuh dengan Filian sang penjaga perpustakaan, namun dugaan itu hanya dipikarannya saja, ia dan suaminya melanjutkan kehidupan dengan tanpa mempersoalkan kejadian Lakshmi di rumah Filian.

Sumber: elamovement.wordpress.com

Cerita pendek yang ditulis Rishi bagi saya membeberkan bagaimana mengelola ketegangan dan menuliskan ide sederhana dengan bahasa sederhana. Pada cerita Bangles misalnya saya merasakan bahwa pergi ke kuil atau menyimpan gelang bisa menjadi permasalahan, begitu juga dengan buku dan kehidupan bertetangga pada Lakshmi and the librarian. Ketiga cerita pendek di atas juga menunjukkan bahwa interaksi manusia baik dengan manusia yang lain ataupun dengan objek lain yang berada dalam kehidupan hampir selalu menimbulkan ketegangan.

Manusia juga tak henti-hentinya selalu menyimpan makna dan penafsirannya sendiri, ketakutan Lakshmi bukankah wujud penafsirannya akan peristiwa bahwa ketika ia sedang keluar dari rumah Filian ada orang lain yang (dikenal) melihatnya. Begitu juga dengan Sang Ibu dalam Bangles yang menafsirkan keluarga anaknya sudah banyak terkontaminasi oleh budaya amerika, anak-anak mereka dibiarkan berlarian di kuil dan tidak menghormat pada pendeta, tidak menyapa nenek mereka dengan kalimat penghormatan. Benturan nilai-nilai kebudayaan modern dan tradisional menjadi teramat nyata, dan masih menjadi ide yang tetap bisa diolah untuk tujuan bercerita atau menjadi catatan sejarah.

Menulis cerita pada akhirnya tak hanya soal menunjukkan kelihaian bertata bahasa, melainkan juga bersetia pada ide sederhana namun membangunnya dengan penuh perhitungan. Rishi bukanlah penulis yang lahir dari tradisi bakat ataupun kepiawaian bawaan, ia tumbuh dari sekolah menulis yang ditempuhnya dan juga usaha terus menerus untuk membangun, merobohkan, menata ulang bangunan cerita yang ia ciptakan.

***

Di sebuah sore yang gerimis, saya duduk menikmati suara jazz Norah Jones. Kenapa jazz? Tentu ini soal selera. Sesaat setelah lelah melakukan aktivitas seharian saya rebahan sambil membaca beberapa cerita pendek. Dan tanpa rencana akhir-akhir ini saya menempatkan The Long Day Is Over sebagai salah satu playlist pengantar baca dan istirahat, mungkin karena saya saking malasnya menambah daftar putar lagu dari folder musik yang acak-acakan, sebagaimana semrawutnya tatatan baju baju -kalo itu masih bisa disebut sebagai tatanan- kumal di kotak lemari seorang santri desa di sebuah pesantren semi-modern, anda bisa tanyakan hal ini lebih jauh pada sosok Wahyu Rizki.

Intro mempesona melalui sentuhan piano bertempo pelan, disusul iringan perkusi yang sederhana. Di antara sunyi kamar, deru kipas angin, tumpukan kertas kerja dan buku serta tubuh yang lelah, suara jazzy Norah melemaskan otot, mengajak bersantai dan istirah sejenak. Petikan akustik yang tak begitu dominan menciptakan harmoni lembut dan membelai telinga. Begitu lenguhan vokal Norah sampai pada lirik “the looooong day….” saya kira semua beban seharian luruh bersama aliran kopi hangat yang masuk kerongkongan. Tak perlu teringat apapun, tak akan ada apapun karena hari yang teramat panjang serta tahun yang busuk akan segera berakhir. Begitu pula dengan rencana, capaian, harapan, gagasan ataupun piutang, semua akan menemui ujungnya .

Bulan demi bulan berlalu tanpa banyak membaca. The Investigator karangan penulis Perancis Philippe Claudel menjadi yang pertama selesai setelah mangkrak lama, Hayy Ibn Yaqdhan karya Ibn Thufail menjadi yang kedua karena lumayan tipis dan memberikan ingatan kembali akan jangkauan akal manusia pada hal-hal yang bersifat subtil dan ilahiah. Di antara membaca novel tersebut saya selingi membaca beberapa karya Budi Sardjono, YB Mangunwijaya, Chinua Achebe, C.L.M Penders dan tentu saja Rishi Reddi.

Nah, bacalah Karma dengan aroma espresso dan sedikit selingan jazz.

SHARE
Penulis adalah pembaca buku yang tekun, dan senang berburu kopi. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here