Banteran

0
432
Ilustrasi dokar/ Sumber: walikukundesaku

Kampung Selalu Punya Cerita

Gangkecil menghadirkan tulisan-tulisan ringan tentang kampung, mengajak pembaca untuk menikmati sudut-sudut kampung masa lampau maupun masa kini. Karena Kampung Selalu Punya Cerita

__________

Pagi belum terang. Suara ringkik kuda terdengar dari beberapa rumah. Di rumah paling ujung, dekat belokan, seorang paruh baya tampak memijit punggung kuda. Caranya, kuda diikat di bawah pohon, orang tersebut menginjak-injak punggungnya. Aroma perapian dari kandang kuda tak jauh dari situ tercium dari jalan.

Di pagi yang lain, pemilik kuda menuntun kudanya dan berjalan-jalan mengelilingi kampung. Saat melihatnya, saya membayangkan naik kuda seperti pendekar di sandiwara radio Tutur Tinular yang kami dengarkan tiap hari.

Tapi itu pemandangan sekitar 30 tahun silam, era 90-an. Ketika banyak warga kampung mengais rejeki dari menarik kereta kuda penumpang. Tapi warga menamainya bukan delman, melainkan dokar. Masyarakat memanfaatkan dokar untuk pergi ke pasar atau saat punya hajatan. Dokar menjadi alat transportasi paling favorit kala itu, terutama untuk jarak pendek.

Di kampung itu, ada satu gedung sekolah yang dikelilingi pohon kelapa. Anak-anak kecil tak ada yang berani mendekat kalau malam tiba. Cerita seram membayangi anak-anak yang kemudian memilih menjauh. Maklum bagi anak-anak, cerita seram sungguh menyenangkan. Takut tapi selalu diceritakan.

Setidaknya ada dua tempat paling ditakuti anak-anak. Pertama, pohon mangga di tengah sawah. Pohon itu memang kerap berbuah lebat, tapi lantaran angker, tentu tidak ada yang berani mengambil. Jangankan mengambil, saat mencari jangkrik malam hari, anak-anak akan memilih sawah yang jauh dari pohon mangga tersebut. Warga menyebutnya dengan sawah kepoh.

Kedua adalah sendang atau sumber air. Sebenarnya sendang ini lain dusun, tapi saking terkenalnya, maka cerita seram sampai ke telinga anak-anak. Cerita perempuan penunggu sendang yang kalah duel dengan kyai masjid kampung yang kemudian menjadi istrinya. Tentu saja ini cerita rekaan yang entah datang dari siapa. Tapi mulut anak-anak begitu panjang, hingga cerita itu menjadi hidup dan hidup.

Kampung itu disebut Banteran. Entah apa maksudnya. Banteran boleh dimaknai sebagai banter-banteran atau dalam bahasa Indonesia berarti balapan. Mungkin merujuk tradisi masyarakat yang memelihara kuda dan menjadikannya sumber rejeki untuk menarik penumpang.

Tapi, sekali lagi itu dulu, kini kampung itu telah berubah. Rumah-rumah tak lagi terbuat dari bambu. Kandang-kandang kuda sudah tidak ada. Dokar sudah raib digantikan dengan becak motor. Ya, sebagian pemilik kuda beralih menjadi penarik bentor atau becak motor.

Cara baru menggantikan cara lama. Orang-orang baru menggantikan orang lama. Tapi, ingatan tak mudah hilang. Ya, saya menjadi bagian dari kampung yang secara administratif masuk Desa Ngemplak, Kecamatan Baureno. Dulu, masuk kampung ada gardu panggung. Anak-anak suka nongkrong di situ sambil menghitung kendaraan yang lewat. Di situ ada kentongan. Tapi gardu panggung itu juga sering jadi tempat tidur orang gila. Sayang, gardu itu kemudian roboh dalam kecelakaan bus Rajawali jurusan Bojonegoro-Surabaya yang lantas menjadikan pertigaan itu dikenal dengan nama telon rajawali.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here