Berkah Lupa dan Ingatan – Ingatan; Esai R.K. Narayan

0
224

Pernah dikatakan tentang Faraday bahwa ia sering dalam keadaan kosong-pikiran sehingga butuh terus menerus menulis pada potongan kertas sebagai pengingat apa yang berikutnya mesti ia lakukan . Di sakunya selalu tersedia ratusan kertas kecil; kadang kertas-kertas itu bahkan tak tersentuh karena tak ada cara untuk mengingatkannya akan keberadaan mereka.

Para jenius sebagian memang tipikal orang dengan pikiran kosong. Mereka memiliki alasan untuk itu; otak mereka selalu memikirkan dan penuh dengan hal-hal yang agung juga mulia. Hal itu bisa dipahami. Tapi kenapa orang orang awam seperti kita dibuat menderita mengenainya?

Perhatikan wajah seseorang: “wajahmu keliahatan cukup akrab” merupakan formula yang elegan untuk menutupi kesalahan yang tak termaafkan. Wajah yang terlihat setiap hari di belakang meja sebuah bank atau kantor pos bisa tak lagi dikenali di jalanan. “Ia orang baik dan senang membantu, tapi di mana saya pernah melihatnya?” kau mengatakannya dalam hati. Akan sangat kasihan jika hal ini menyebabkan kepahitan, karena tak ada yang perlu disalahkan untuk itu. Kita semua begitu mulia dengan mendapatkan rahmat berupa ingatan. Ia (ingatan) jadi teramat bahaya ketika kita sedang memikirkan sebuah nama.

Kau merasa amat percaya diri bahwa seluruh nama-nama yang kau butuhkan telah diberi label dan tempat yang sesuai dalam pikiran sehingga bisa mengingatnya kapanpun di kehendaki. Kesempatan datang. Di tengah kalimat yang begitu lancar dan penuh martabat Anda kemudian baru menyadari bahwa tak satupun ingatan yang bisa Anda panggil ulang.

Ide-ide Anda jadi berantakan, Anda jadi ngawur dan tak nyambung dan merasa susah payah mengingat-ingat nama yang kini hanya sebatas angan yang mengawang belaka. Orang lain melihat Anda dengan senyum kecut ketika anda mulai mengusap rambut dan tersedu. “hal itu ada di bibirku beberapa waktu lalu”. Nah, sekarang anda pada situasi yang aneh, sebagaimana jika anda tersungkur kebelakang.

Lalu, ketika kesempatan itu tak lagi ada, ingatan akan nama itu muncul di depan anda begitu saja dan tak akan lagi hilang sampai anda mengulangnya dalam situasi yang tak relevan.

Ada banyak saran tentang bagaimana ingatan bisa diasah dan dikembangkan. Tak satupun dari saran-saran itu bisa saya praktikkan. Kebanyakan dari saran itu berdasarkan apa yang biasa disebut sebagai pemikiran asosiatif. Ia bekerja sebagaimana berikut: saya tak mampu mengingat angka 14. Apa yang bisa saya lakukan sekarang adalah mengingat 13 di satu sisi dan 15 di sisi lain. Atau contoh lain, ketika saya tak mampu lagi mengingat di mana saya meletakkan segerombol kunci, yang saya lalukan berikutnya adalah duduk dan secara mental kemudian mengingat seluruh tempat-tempat yang saya singgahi dalam waktu 3-4 jam terakhir.

Kegiatan seperti akan membuat orang awam sangat lelah sehingga bisa menimbulkan menurunnya kepentingan dan rasa tertarik pada benda-benda yang hilang. Dengan sendirinya orang yang memilki ingatan yang kuat mestinya tak lagi sering menempatkan benda pada tempat yang salah.

Anak usia di bawah empat tahun bisa dipahami sebagai makhluk yang paling ideal dalam segala hal. Makhluk yang memiliki kesenangan agung dalam hidup. Mereka bisa memiliki hal tersebut karena mereka tak sadar akan keberadaan sesuatu yang kita sebut ingatan.

Mereka tak punya batasan jelas akan masa lalu  dan masa depan. Banyak dari keinginan dan rencana mereka tempatkan pada esok hari. Mereka mampu mengingat dengan baik apa saja yang terjadi pada jam-jam terakhir. Jika mereka hanya mengingat teguran yang diberikan para orang tua, rasa sakit yang mereka derita, frustasi akan masa kecil, maka sejak itu mereka akan berhenti menjadi anak-anak. Namun, mereka tak bisa lama mengalami keadaan gembira ini. Yang kemudian terjadi, seorang pemberi les privat datang ke rumah dengan perkalian dan aturan tata bahasa yang mengharuskan mereka belajar dan mengingat.

Mulai detik itu tiap keadaan menjadi peermainan petak umpet antara mereka dengan ingatan sampai usia tua menguasainya.  Ketika mereka mencapai usia 75 tahun, pikirannya akan penuh dengan kenangan yang campur aduk yang membuatnya merasa bahwa kehidupan tak lagi bisa diterima.

Dengan alasan itulah, saya percaya bahwa sastrawan selalu menangis atas adanya berkah lupa. Karena, pada jenjang evolusi kita saat ini, kita belum benar-benar paham akan betapa berharganya kekuatan ini. Hal ini seumpama kita mempunyai simpanan baterai di genggaman namun tak punya tujuan khusus. Hasilnya, kita secara terus menerus menderita karena memiliki terlalu banyak atau sedikit, dan tak punya posisi yang jelas apakah kita tuan atau hamba untuk ingatan yang kita miliki.

*Diterjemahkan dari Memory halaman 92-93 dalam buku A WRITERS NIGHTMARE, Selected Essays 1958-1988

SHARE
Penulis adalah pembaca buku yang tekun, dan senang berburu kopi. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here