Berkunjung ke Makam Wali Kidangan, Raden Keturunan Kerajaan Pajang

0
404
foto: dwi khoirotun nisa'

Makam Wali Kidangan barangkali masih terdengar asing di telinga anda. Maklum, karena memang lokasinya yang berada jauh dari pusat keramaian. Makam Wali Kidangan terletak di Dusun Kidangan, Desa Sukorejo, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Untuk menuju lokasi, kita perlu menaiki sekitar 500 anak tangga. Lokasinya jika ditempuh dari kota jaraknya sekitar 25 km.

Saya sendiri sebenarnya sudah lama mendengar nama itu. Tapi baru Senin, 20 Agustus 2018 lalu sempat ke sana. Pagi-pagi sekali kami kesana. Saya, suami, dan anak. Sekitar jam 6 pagi, sambil jalan-jalan pagi lah niatnya.

Sesampainya di lokasi, kami mendapati beberapa warga sedang mengambil air di sumur yang berada di depan sebelah kanan pintu masuk anak tangga menuju makan. Maklum, musim kemarau membuat warga kesulitan mendapat air.

Setiba kami di Makam Wali Kidangan, suasana masih sepi. Satu-satunya warung yang berada di dekat pintu masuk juga masih tutup. Mungkin karena masih sangat pagi. Akhirnya setelah ngobrol sebentar dengan warga yang mengambil air di sumur, kami langsung menuju makam. Karena lokasi yang berada di tengah hutan pohon jati, maka tak heran jika daun-daun pohon jati terlihat sangat berserakan di sepanjang tangga yang kami naiki. Bahkan terkesan tidak terawat. Padahal secara infrastruktur sudah lumayan bagus.

Setelah sampai makam, kami sempatkan untuk tahlilan sebentar. Setelah itu kami langsung turun lagi. Sesampainya di bawah, kami langsung membuka bungkusan serabeh, kudapan yang kami beli di dekat gerbang masuk (depan Indomart), karena memang perut kami sudah lumayan keroncongan, terutama si kecil. Hihi

Saat kami makan serabeh di dekat Kantor Sekretariat, terlihat beberapa orang bersarung sedang asyik ngopi di warung. Persis setelah kami makan, datanglah bapak-bapak pada kami.

“Kok injing buk?,” beliau menyapa kami dengan ramah.

“Injih bapak, sambil jalan2 pagi,” kami pun menjawab sapaan beliau dengan hangat.

Ternyata beliau adalah Juru Kunci Makam Wali Kidangan, namanya Mbah Katrup. Berkat beliaulah kami mendapat sedikit cerita tentang Mbah Wali Kidangan.

Jadi, berdasarkan penuturan beliau, Mbah Wali Kidangan ini diyakini sebagai makam dari Raden keturunan Kerajaan Pajang yang dulu melarikan diri untuk mencari ketenangan dan akhirnya bertapa di puncak Kidangan hingga ajal menjemput. Kata beliau, namanya adalah Raden Sentono (Kalau kita searching kita akan menemukan nama Syekh Mukodar/Pangeran Kumbang Ali-ali/Pangeran Narasoma).

“Jadi, makam ini sudah ada ribuan tahun lalu di sini. Di makam yang di atas sana tertulis beliau menginggal tahun 1018, berarti kan sudah 1000 tahun yang lalu. Sekarang sudah 2018,” Mbah Katrup menjelaskan.

“Apa banyak peziarah yang datang ke sini, pak?” tanya saya penasaran.

“Lho, banyak mbak. Ada dari Yogyakarta, Blora, dan kota-kota lain. Bahkan dari Ujungpandang dan Papua pun ada yang pernah kesini,” ujarnya dengan semangat menggebu-gebu.

“Tapi dari lokal Bojonegoro sendiri sedikit ya pak? Hehehe,” tanyaku.

“Iya, mbak,” jawab beliau singkat.

Menurut beliau, para peziarah banyak yang datang pada hari Kamis Legi dan Jum’at Pahing. Akan lebih banyak lagi yang datang pada saat haul, yakni pada malam 1 Suro (1 Muharram). Para peziarah banyak yang meyakini bahwa jika berdoa di sana banyak yang maqbul (diterima). Termasuk Bupati Bojonegoro terpilih kemarin,  Dr. Hj. Anna Mu’awanah juga katanya sempat kesana sebelum pemilihan.

Air yang cukup melimpah dari sumur yang berada di dekat pintu masuk anak tangga itu juga bisa dikatakan sebagai bukti keberkahan dari mbah wali. Karena di daerah sana termasuk sangat susah air saat musim kemarau.

Sebenarnya Makam Wali Kidangan ini juga sudah cukup mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Bojonegoro. Terbukti dibangunnya sarana pra sarana yang ada di sana (dibangun sejak 2011). Ya… Tinggal perawatan dan pelestariannya saja sih yang kurang mendapat perhatian, hehehe

Bagi warga Bojonegoro yang penasaran dan belum pernah kesana, silahkan bisa meluangkan waktu kesana. Cukup recommended, karena bagaimanapun Makam Wali Kidangan termasuk salah satu wisata religi lokal yang perlu kita berdayakan dan ramaikan kembali. Terutama agar anak-anak kita kelak mecintai ulama’, mencintai daerahnya, serta tidak melupakan sejarah masa lalu.

Demikian tadi cerita singkat kami saat mengunjungi Makam Wali Kidangan for the first time. Karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah, jadi mungkin saja kami akan kembali di lain waktu. Ya, sekedar untuk jalan-jalan saja atau mendengar cerita lain dari Mbah Juru Kunci. Terimakasih, Mbah, atas ceritanya.

Bjn, 22 Agustus 2018

SHARE
Penulis adalah dosen STAI Attanwir, Bojonegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here