Bertapa di Warung Kopi

0
1483
artvalue.com

Sejak Kiva Han ( sebuah kedai kopi di Turki yang tercatat eksis pada 1475), warung kopi selalu menjadi tempat paling asik buat rasan-rasan dan berbagi cerita. Namun, baru di jaman warganet inilah, warung kopi berubah menjadi tempat sakral yang dijadikan lokasi untuk bertapa.

Saat ini, hampir semua orang yang datang ke warung kopi, tiba-tiba berubah menjadi filsuf yang suka merenung dan mencari hikmah di balik berjatuhannya dedaunan, mendengar suara semut berlarian, hingga berbicara pada diri sendiri. Mereka yang masih banyak berbicara, bisa dipastikan belum masuk kategori pewarung yang sakti.

Setelah memesan sebuah minuman, para pengunjung langsung menatap khusyuk sebuah batu kotak bercahaya. Kepada batu itu, mereka membaca, mendengar dan berbicara. Seperti seorang kawan yang telah lama tidak berjumpa, mereka berbagi cerita. tak penting siapa yang ada di dekatnya. Yang terpenting, bisa memeluk sunyi di dalam kebisingan.

Kemajuan zaman membuat orang kembali ke zaman batu. Sebuah peradaban sebelum ada bahasa.  Di mana, tidak banyak manusia berbicara antara satu dengan yang lainnya. Mereka semua sibuk dalam diam, sibuk berdialektika dalam kesunyian–sibuk mengurus nasib masing-masing.

Bagi people zaman now, warung kopi menjadi ruang kontemplasi paling teduh. Ini yang menjadikan orang zaman sekarang sakti mandraguna. Mampu menghadirkan sepi di dalam keramaian, sekaligus bisa meramaikan sesuatu di dalam kesepiannya— sebuah gaya hidup yang gagal dilakukan people zaman old.

Secara logika, masyarakat saat ini jauh lebih tenang dan tidak gupuhan. Sangat tuma’ninah dan tidak mudah tergoda keriuhan lingkungan sekitar. Aku ‘ada’ karena aku diam, mungkin begitu prinsipnya. Lingkungan sekitar hanyalah ornamen ruangan. Sedangkan ruang yang sebenarnya, tidak menampakkan diri. Saat seorang pengunjung menjatuhkan gelas misalnya, tidak bakal  berdampak apapun pada ritual pertapaan mereka.

Namun anehnya, di dalam ketenangan ritual pertapaan, para pertapa milenial itu justru membangun sebuah keriuhan sendiri, melalui jempol tangan mereka. Sebuah keriuhan ghaib yang berdampak secara mawujud di dunia nyata.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here