Biji Kepedulian Telah Ditaburkan

0
233
Ilustrasi: Pixabay

“Kopinya mas Bara. Silahkan!” ucap Bu Tia, pemilik warkop langgananku. Lamunanku jadi berantakan.

“Bu, boleh aku pinjam pulpen dan kertas. Bekas nggak apa-apa?” pintaku.

“Ada. Ini mas,” jawabnya singkat sambil mengulurkan pena dan kertas. Lalu dia melanjutkan aktivitasnya, bersih-bersih meja, merebus air, dan entah apa lagi.
Pena kecil itu tak berdaya. Seperti diriku yang tak berdaya hendak menulis apa. Aku bukan penulis, aku bukan sastrawan, aku bukan keduanya. Aku cuma penikmat kopi usai mengantar anak sekolah. Aku tidak paham struktur tulisan yang baik.

Pagi yang sepi pecah. Lalu Lalang kendaraan bermotor, hiruk pikuk antrian di kantor pajak, keluar masuk kendaraan di tempat belanja modern seolah membentuk pola labirin atau formasi dalam sebuah perang Mahabarata dalam legenda.

Gemuruh mengharu biru entah………..

Tak kalah gemuruh para pelanggan warkop Bu Tia mulai berdatangan, mulai wartawan, kontraktor, pegawai bank, NGO, tokoh politik, seniman, anggota dewan, guru dan entah siapa lagi, semuanya ikut cancut gemrenggut segolong rembuk membahas calon bupati dan wakil bupati pada pilkada 2018 mendatang. Mulai berita hoax sampai howex.

Menghiasi pembicaraan mereka yang menggelegar saut menyaut, sambung menyabung tanpa ada putus, ada yang jengkel, ada yang marah, ada yang mendukung, ada yang kecewa tentang pergantian pengurus partai seolah mewakili semua rasa yang ada di hati manusia.

Aku hanya diam. Ingatanku melesat pada artikel tentang pergolakan Ottoman (Mehmed II) dalam penaklukan Konstatinopel. Rasa marah, benci, jengkel, kehilangan, sedih, bahagia, trauma semua pernah dipentaskan di panggung sang waktu. Di mana di tahun 1453 itu juga memunculkan sebuah tempat bernama Kiva Han, sebuah tempat pelipur lara, yang dikenal sebagai kedai kopi tertua di dunia.

Kiva Han tak serupa warkop Bu Tia. Warung Bu Tia sempit, kumuh, tak teratur, tak ada tempat parkir, yang serasa menghimpitnya, apalagi setelah suaminya meninggal, dia harus menanggung beban keluarga, tiga anak yang masih kecil dan semua kebutuhan seolah tidak memberi ruang gerak pada Bu Tia. Hanya Bu Tia sendiri bisa merasakan semua di antara gemuruh perbincangan tentang Pilkada.

Hari beranjak siang, satu persatu pelanggan meninggalkan warung. Sunyi merayap segera menyapa tempat itu, sesunyi hati Bu Tia. Aku masih tetap di tempat memegang pena. Pena belum bergerak, berdiri tegak di atas kertas kosong tanpa meninggalkan goresan apa pun di sana.

“Kopi Bu Tia.”

“Ya mas Dree. Sebentar yaaa,” jawab Bu Tia.

“Mas Bara kok sendirian? Mana temen-teman yang lain?” tanya Dree menyapaku. Namaku sebenarnya agak panjang, Barranjawani. Tapi sering dipanggil Bara. Entah apa makna dari nama yang diberikan oleh orang tuaku itu, hingga kini aku belum tahu.

“Sudah pada pergi mas,” Jawabku.

Aku tak begitu menanggapinya. Seolah enggan berbicara meski mas Dree sudah memulai percakapan. Suasana hening membatu.

“Ada apa Bu Tia, kelihatannya kok gundah gulana?” tanya Mas Dree beralih pembicaraan.

“Ya Mas Dree, jualan seharian penuh kemarin setelah aku hitung penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi sekolah tiga anak, uang jajan dan lain-lain. Rasanya kalau mengandalkan pendapatan warung kecil ini, aku tidak akan mampu memenuhi kebutuhan mereka, belum lagi kalau ada pelanggan yang ngutang, untuk kulakan rokok aja harus menghitung betul agar kebutuhan lain dapat terbeli. Yah begini lah Mas Dreee setelah bapak meninggal beban ini serasa berat aku rasakan.” Keluh Bu Tia.

“Kalau mau kerja di luar, mau kerja apa, umur juga sudah tua dan kemungkinan itu sudah tidak mungkin.”

“Sabar Bu Tia. Kita hidup ini tinggal menjalani semua sudah diatur oleh-Nya. Begini Bu… bagaimana kalau warung ini diperbaiki biar kelihatan bersih nyaman, agak luas dan tidak semrawut.”

“Uang dari mana Mas Dree, untuk belanja harian bisa lancar saja sudah bersyukur,” sela Bu Tia.

“Pokoknya Bu Tia gak usah mikir itu, yang penting Bu Tia tetap semangat jualan dan yakin.” Mas Dree meyakinkan. Seolah berharap beban Bu Tia akan terkurangi.

Entahnya Mas Dree, ucap Bu Tia.

Hidup Bu Tia memang penuh benturan keras. Belum lama suaminya meninggal, beban utang biaya selamatan belum juga terbayarkan, anak pertamanya yang tak lulus tiba-tiba mengalami gangguan jiwa. Semua harapan untuk kuliah sirna. Bu Tia hanya dihujani air mata saat bercerita, tentang anak pertamanya. Kala warasnya dia rajin baca. Mungkin itu sebabnya di saat gangguan jiwa kayak saat ini, dia sering ngomel-ngomel, nyanyi-nyanyi dan baca-baca koran bekas dengan khidmadnya. Kadang diselingi baca puisi hingga bikin para penikmat kopi meringis geli. Tanpa aku sadari merekam beberapa puisinya hingga juga ikut hanyut dalam isinya.

Kata “Pengasih” di dalam goresan tenang
Kata “Penyayang” Dalam suara yang lantang
Tidak minta imbalan barang
Tidak minta dipuji dalam sunyi
Tidak minta suci dalam bernyanyi
Tidak minta disanjung dalam senandung
Tidak pernah mengenal kata “bingung”
Ah, ternyata dua Nomina kata “Pengasih” dan Kata “Penyayang” tak kira tentang TUHAN!!!
Ini yang waras aku atau dia, dalam hatiku bertanya.
…………………..
Lagi-lagi dia berpuisi dan koran bekasnya.

Aku membaca karena
Aku mendengar, melihat dan aku merasakan
Bangsaku masih tertinggal
Aku membaca karena
Negaraku kesepian tak punya teman
Untuk berutang tanpa ancaman
Aku membaca karena
Ketidakadilan masih merajalela merenggut PRITA (pribumi dan tanah air)
Aku membaca karena
Aku berutang pada Tuhanku
Aku berutang pada Orangtuaku
Aku berutang pada alam Negriku
Aku berutang pada diriku
Aku membaca karena
Aku pernah bernyanyi
Padamu negri aku berjanji
Padamu negri aku berbakti
Padamu negri aku Mengabdi
Padamu negri jiwa raga kami
Aku membaca karena
Aku ingin mengerti dan dimengerti
Aku membaca karena
Aku ingin BERGUNA!!!!!!!!!!!!!!!!!

Puisi-puisi dan nyanyian itu pun terhenti. Bagai berlatih mimic wajah, putra pertama Bu Tia ini pun tiba-tiba menangis. Air matanya bercucuran. Dia menyebut satu persatu kesedihannya. Kesedihan ibunya dan saudara-saudaranya. Orang-orang mulai benar-benar memerhatikan setiap ucapan anak gila dadakan ini. Beberapa orang di warung pun menyadari, tak ada anak yang sanggup menghadapi kenyataan buruk dalam hidup. Apalagi terus menerus. Membabi buta. Tanpa ampun.

Ratapan anak itu selesai. Ponsel Mas Dree terus dipegang dengan tangan kanan-kiri. Jari-jarinya terus menginjak-injak layar berukuran mini. Tampaknya, dia sedang mengabarkan sesuatu kepada semua sahabat, kerabat dan keluarga dekat. Hatinya telah hancur lebur oleh puisi, nyanyian dan ratapan si anak gila. Dia sadar betul, kesetiakawanan tidak terbatas pada teman di desa, di sekolah, di kampus atau di Lembaga formal. Bu Tia juga kawan Mas Dree.

Orang-orang baik yang telah dihubungi Mas Dree berbalas. Niat mulianya terjawab dengan bergegas. Tanpa pikir panjang, bahan-bahan bangunan siap dikirimkan. Beberapa kuli dan tukang bangunan juga berdatangan. Warungnya dibongkar, dirobohkan dan dihancurleburkan. Tapi dihancurkan untuk dibangun kembali. Tiap ruangan, pojok-pojok bangunan dan pelatarannya kini tampil gemilang. Bu Tia pasrah atas nikmat tak terkirakan ini. Mirip pasrah saat suaminya hilang dipanggil Tuhan.

Warung Bu Tia kini sudah rapi dan bersih. Mas Dree juga tuntas memberi tanpa pamrih. Ayat suci Tuhan “Min Haistu La Yahtasib” pun benar-benar terbukti pada hidup keluarga yang penuh kasih.

Dentang jam pun berbunyi. Aku pun membayar kopi pahitku.

SHARE
Penulis menyukai membaca sastra dan buku-buku gerakan sosial. Lebih memilih mengelola warkop Ponpin sambil terus menulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here