Blandongan, Mato, Joglo Kopi, Kebun Laras, Basa Basi, Lico, dan …

0
308
foto: Farchan Noor Rachman/minumkopi.com

Jogja itu kopi atau teh? Eh, maksudnya orang Jogja itu lebih dikenal suka ngeteh atau ngopi? Sependek pengetahuan saya, orang Jogja lebih suka ngeteh. Teh di Jogja hampir sama nikmatnya dengan teh di Surakarta. Di beberapa angkringan Jogja, rasa tehnya tak ada duanya. Apa ini karena Surakarta dan Jogja punya sejarah sama, yakni sama-sama berawal dari Mataram? Ah, tentulah tidak. Analisis yang terlalu jauh.

Mari kita membincang kopi dengan kacamata kuda saja. Maksud saya kacamata personal sebagai penikmat kopi (saya ini kadang-kadang mengklaim tahu banyak tentang kopi padahal nol besar). Jangan terlalu spaneng, stel kendo. Saya suka ungkapan teman saya, bahwa ngopi bukan penyebab masalah di asam lambung. Tapi penyebab asam lambung naik adalah gara-gara ngopi dengan jadwal waktu yang tidak istiqomah. Nggak percaya? Boleh dicoba.

Saya penikmat kopi sejak (sejak kapan ya? Anggap saja sejak kemarin). Dua tahun lebih berada di Jogja, belum banyak panggon ngopi yang saya datangi. Pertama kali di Jogja, saya pengen merasakan ngopi di angkringan. Saya kaget, karena kopi disajikan di gelas cantelan macam es teh. Maklum, di tempat saya di Jawa Timur, ngopi ya di cangkir. Tapi nggak apa-apa wong cuma cara penyajian saja yang beda.

Lalu, saya pun mulai mencari panggon-panggon ngopi. Di kepala saya, daftar panggon ngopi di Jogja itu banyaakkkk banget. Tapi ya itu, banyak yang nggak kesampaian dengan sederet alasan. Jadinya panggon yang saya datangi ya itu-itu saja. Terkadang bareng teman, terkadang tolah toleh sendirian. Seperti sekarang, sambil nulis catatan nggak penting ini. (padahal berangkat tadi pengennya melanjutkan nulis hasil penelitian, tapi jebule nulis ini).

Dari sekian daftar panggon ngopi yang saya sebut di judul, saya selalu memesan satu jenis kopi saja, yakni sukop alias susu kopi. Sukop di lidah saya mirip kopi susu ala warkop Giras di Jawa Timur. Meski tentu saja sukop di Blandongan, rasanya beda dengan sukop di Basa Basi. Pun demikian sukon di Joglo Kopi beda rasanya dengan sukop di Lico, dan seterusnya dan seterusnya. Sama-sama sukop, tapi beda rasa. Maklum, peraciknya kan beda. Wong kadang di satu panggonan ngopi saja bisa beda jika peracik kopinya lebih dari satu orang.

Apa yang menyenangkan dari ngopi di beberapa panggonan itu? Tentu saja selain sukop, saya menikmati suasananya. Dan suasana panggon ngopi banyak ditentukan oleh suasana hati. Jadi pada waktu a misalnya saya pengen ngopi di Basa Basi, tapi pada lain waktu saat suasana hati b saya pengen ngopi di Joglo Kopi, meski tempatnya berselabahan. (Kalau kamu bagaimana?).

Setelah sering menikmati ngopi di beberapa panggonan tadi, saya mencoba menarik kesimpulan. Bahwa ngopi bukan cuma soal kopi dan panggonan. Tapi juga soal “klik” antara kopi, panggon, dan soul (jiwa). Panggonan yang bersih dan wah belum tentu menghasilkan rasa nyaman waktu ngopi. Tautan tiga hal itu bolehlah diteliti lebih lanjut.

Oh ya, ngobrol tentang ngopi, saya jadi ingat kebiasaan teman saya di Gresik yang ngopi dengan cara unik. Di Gresik (dulu tahun 2004, entah sekarang, hehe) hampir semua warkop ramai sekali. Teman saya ini suka pesan kopi hitam, lalu mengambil 3 butir telur ayam kampung. Kopi dituang di lepek, dan 3 kuning telur ditumpahkan ke lepek. Setelah ditunggu beberapa detik, kopi dilepek disruput sekaligus dengan 3 kuning telur.  Saya nggak bisa membayangkan rasanya.

Juga ada teman saya yang ngopi mirip minum es teh. Saat kopi disajikan, ia nggak butuh waktu lama menghabiskannya. Mirip orang minum es teh dengan sedotan besar.

Sik ta, tulisan ini sebenarnya karepe apa sih? Saya sendiri bingung.

 

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here