Cerita Timur Budi Raja: Lelaki Itu Tiba-tiba Ingin Menulis Surat

0
93
Ilustrasi/Sumber: Pixabay

LELAKI itu sungguh tak pernah mengenal percakapan. Ia dengan sengaja menjauh dari keramaian. Ia menjauh dari kumpulan orang-orang.

Bila pada suatu ketika kita jumpai ia tengah berkata-kata, janganlah heran padanya, sebab yang demikian itu ingin didengarnya sendiri saja. Sama perihalnya dengan bila ia bernyanyi. Dan kita, sekali lagi dibikinnya tak mengerti, bahwa bernyanyi yang sedang dilakukannya itu hanya sebuah pelampiasan dendam, karena ia sangat membenci kesedihan yang berlarut-larut atau pun kenangannya.

Begitulah, di taman ini —sebuah tempat yang membuatnya berbahagia -, ia mengigau pada malam-malam yang pekat. Ia menceracau sendirian pada malam-malam yang lain. Ia berteriak-teriak sehabis-habisnya. Ia meraung-raung sejadi-jadinya. Ia setubuhi gelap. Ia bernyanyi dengan suara serak sumbang. Dengan nada-nada yang gelisah. Seusai-usainya.

Kemudian pagi. Dan di subuh yang mendamaikan perasaannya itu ia tertidur.

Di taman ini, pada siang hari yang sedikit mendung, lelaki itu dapat melihat orang-orang yang putus asa letih berjalan. Ia saksikan orang-orang yang setengah hati mencintai hidup, lalu lalang mengumpat kesal. Kepada matahari, awan, kerikil, hujan atau pun juga bahkan, kepada gerimis yang menjatuhkan diri dengan bimbang.

Tapi di taman ini pula, ia tak paham betul bagaimana orang-orang yang lain teramat sederhana mengawini hidupnya. Dada mereka keras bergemuruh bunyinya. Rindu mewarnai nafas mereka. Dan nyanyian yang mereka perdengarkan kecil-kecil saja adanya. Diterima oleh mereka dengan suka cita apa pun yang didapat dari kerja. Dipungut juga oleh mereka apa yang ditemukan di jalan dengan air muka yang bersahaja.

“Dan lelaki itu? Dan lelaki itu?” tanya kalian kepadaku.

Yap! Lelaki itu entah mengapa malam ini begitu riangnya. Ia tertawa-tawa. Ia menertawakan malam. Ia menertawakan kesunyian. Ia menertawakan ketakutan dan kesendiriannya.

Setelah itu ia tersenyum.

Ia tak mengharapkan dunia berbalik mengasihaninya. Ia tak menginginkan seseorang datang dan tersenyum sambil memberikan sesuatu kepadanya.

Kini, ia merasa lelah. Kelelahan yang luar biasa. Lalu ia merasa hampa dan terasing kembali. Ia tiba-tiba berharap bisa bangun lebih pagi dan menyambut dunia dengan ramah. Tidak ada lagi hantu kenangan dan kemurungan masa lalu.

“Besok, saya akan menulis surat untuk saya kirimkan kepada Aslan.” ucapnya seorang diri. Nama yang disebutnya, mungkin sahabatnya.

Dan pada saat kalian tak hendak bertanya lagi tentang lelaki itu kepadaku, dia tengah tertidur. Lelap. Lelap sekali.

Bangkalan 2002 — 2003

_____

(.) Timur Budi Raja, menulis puisi, naskah pertunjukan, esai sastra dan bergiat mengaransir puisi-puisinya ke dalam bentuk musik puisi. Banyak menerbitkan buku, diantaranya Tentang Yang (Fiction Writers & Font, Makassar International Eight Festival & Forum, 2017).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here