Dolanan

0
138
Bermain kelereng/Sumber: Pixabay

Di Surabaya, sejak 2017 lalu ‘berdiri’ Kampoeng Dolanan. Kampung ini berisi relawan-relawan yang mempunyai visi sama, yakni melestarikan permainan tradisional atau biasa disebut dolanan. Yakni di Kelurahan/Kecamatan Siwalankerto.

DI sejumlah daerah lain, seperti di Yogyakarta juga terdapat kampoeng dolanan yang konsisten melestarikan permainan tradisional, seperti gobak sodor, betengan, dakon, egrang, dan lain sebagainya.

Keberadaan Kampoeng Dolanan di Surabaya cukup menarik untuk dikaji lebih dalam. Lantaran mengusung tema pelestarian, para relawan membuat aneka kegiatan yang sifatnya mendorong pelestarian permainan tradisional, mulai kegiatan yang ditujukan untuk nilai pendidikan hingga ekonomi.

Di Kabupaten Bojonegoro, dolanan masih menjadi tradisi sebagian anak-anak. Meski makin hari makin terdesak oleh game online, namun dolanan masih menjadi dunia favorit bagi anak-anak terutama di kampung-kampung. Ketika pendidikan kelas dihindari akibat pandemi covid-19, anak-anak ‘terpaksa’ membentuk kelompok-kelompok kecil permainan. Saat game online masih dibatasi oleh orangtuanya, maka dolanan menjadi alternatif bagi anak-anak.

Dolanan tentu berbeda dari bermain game online. Meski game online juga diklaim mempunyai manfaat cukup banyak, namun dolanan tetap tak tergantikan sebagai sarana mengembangkan kepribadian anak. Dalam permainan tradisional, banyak mengarahkan anak pada nilai-nilai kebersamaan, persaingan sehat, olah pikir dan fisik, serta berbiaya murah.

Daryanto dkk. pada tahun 2017 meneliti tentang dolanan anak dan manfaatnya. Setidaknya ada lima manfaat dolanan anak yang diungkapkannya. Yakni nilai kebersamaa, kejujuran, ekonomis, sosial dan kecerdasan. Anak-anak bermain di halaman rumah dengan peralatan sederhana.

Mereka yang punya masa kecil era 90 an, tentu masih ingat dengan tradisi berkumpul di malam hari di masa panen tembakau. Ketika orang dewasa sibuk merajang tembakau, anak-anak akan berkumpul di halaman rumah, membuat rumah-rumahan dari ‘widik’ dan bernyanyi-nyanyi. Di langit, bulan keemasan menggantung menemani musim kemarau.

Lalu jika liburan sekolah tiba, anak-anak akan berkumpul di halaman rumah. Mereka bermain kelereng, mobil-mobilan pakai kulit jeruk. Keseruan dolanan tak akan tergantikan oleh aktivitas lainnya. Dolanan menjadi sesuatu yang dinantikan oleh anak.

Kini, tentu saja bentuk permainan telah berubah. Namun tak ada salahnya tetap berusaha melestarikan dolanan yang punya banyak manfaat bagi anak. Mungkin perlu mengaca pada kampoeng dolanan yang sudah ada di sejumlah daerah, di Bojonegoro juga perlu ada kampoeng dolanan. Kampoeng ini yang akan menjadi pusat pelestarian permainan tradisional. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjadi pioner pelestarian dolanan ini.

Di Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, pernah didorong untuk menjadi Kampoeng Dolanan. Yakni jalan-jalan kampung dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain permainan tradisional. Saat ini perlu didorong lebih massif untuk upaya pelestarian dolanan.

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here