Dunia Serba Mendua dalam Senyum Karyamin

1
1304
foto ilustrasi: ashri kacung

Gerimis turun berbarengan angin kencang.  Warung kecil -kusam berdiri di samping gedung tinggi yang masih dalam proses pengerjaan. Hampir semua mafhum bahwa proyek besar mengundang warung-warung kecil berdiri sementara. Warung seadanya, disangga kayu-kayu bekas, beratap seng. Kursi-kursi panjang diolah dari kayu dan triplek bekas. Lantai becek akibat luberan air hujan menjadi keseharian di warung tersebut. Meski demikian, warung tak pernah sepi.

Satu-satunya barang ‘mewah’ adalah sebuah etalase kaca. Dan di sanalah bandeng, telor, ampela, tempe, sayur lodeh, ayam goreng, dan aneka makanan lain berjajar di piring-piring. Para buruh tak membutuhkan estetika warung, penataan interior, atau semacamnya. Segala yang ada di dalam etalase itulah keindahan.

Tiap jam istirahat, puluhan kuli bangunan menyesaki bangku warung reyot itu untuk mengisi perut. Makan, minum kopi atau sekedar istirahat. Mereka yang tak punya uang atau belum menerima gajian cukup bilang atau menggunakan kode untuk dicatat dalam lembar-lembar kertas panjang si pemilik warung.

“Nomor 25,” teriak salah satu kuli kepada Mbok Dhe, si pemilik warung. Mbok Dhe tak perlu memperjelas, karena semua sudah “berjalan normal”. Mendengar teriakan angka, perempuan itu kemudian membuka buku untuk mencatatnya.

Saya tidak tahu ada berapa nomor di dalam buku catatan Mbok Dhe. Buku itu lusuh, mungkin karena entah berapa kali buku itu dibuka dan ditutup dalam sehari. Saya meresapi semua dengan pikiran saya yang terus berkelana kemana-mana.

Sambil menyeruput secangkir kopi yang tak lagi panas, saya teringat cerita pendek Ahmad Tohari berjudul “Senyum Karyamin”. Karya sederhana yang melukiskan betapa menyakitkan menjadi kuli penambang batu yang tak membawa uang sama sekali bahkan untuk sekadar makan. Karyamin dengan perut lapar harus mendaki jalan sambil memikul batu. Berkali-kali ia jatuh, dan berkali-kali pula ia bangkit serta berusaha meneruskan hidupnya. Perut kosong, keringat dingin, tenaga yang mulai terkuras, lutut dan kaki yang gemetaran tak bisa lagi diajak menapaki jalan.

Ketika Karyamin berpapasan dengan penjual nasi, ia ingin berhenti dan membeli makanan. Tapi itu diurungkan. Ia malu untuk hanya sekadar minta segelas air, karena utangnya sudah lama belum bisa ia lunasi. Pikirannya makin kacau seperti ditimpa batu besar ketika ingat  isterinya di rumah yang sedang mengahadapi ancaman penagih utang. Dan lagi, ia sendiri harus menghadapi perangkat desa yang mencarinya untuk membayar sumbangan “wajib” oleh pemerintah untuk memberikan bantuan pangan pada penduduk Afrika yang kelaparan.

Apa yang terjadi pada Karyamin dan para kuli bangunan di warung reot Mbok Dhe adalah wujud dunia ini yang paradoks. Mereka (dan kita juga) selalu berada di wilayah yang saling tarik menarik. Dunia serba mendua. Fenomena tersebut bisa dilihat dari pendekatan teori humanbecoming. Meski, tentunya tidak menggunakan secara utuh teori tersebut.

Begini. Para kuli itu sedang membangun kampus, institusi pendidikan tinggi yang di dalamnya ada mahasiswa yang diharapkan menjadi lebih berbudaya. Humanbecoming merupakan teori keperawatan yang dinisiasi oleh Rosemare Rizzo Parse dengan minat utama ingin melihat bagimana manusia terus berubah dalam menghadapi paradoksikalitas kehidupan. Parse dalam teorinya memberikan tiga prinsip utama yang terdiri dari structuring meaning, configuring rhythmical patterns dan cotranscending with possibles. Pada setiap prinsip tersebut ia juga memberikan konsep serta sisi paradoks yang bisa muncul sebagai sebuah sub-konsep.

Structuring meaning. Prinsip ini melihat apa yang manusia bisa lakukan. Setiap orang selalu ingin membangun pandangan unik tentang dunia  dalam lingkup apa yang terlihat juga yang tak terlihat pada waktu keikinian. Salah satu konsepnya adalah languaging yakni melihat cara orang berhubungan dengan dunia, dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Berbicara-diam dan bergerak-diam adalah proses paradoks languaging.

Karyamin ketika menjadi bahan tertawaan teman-teman sesama kuli pengambil batu kali tentang isterinya yang sendirian di rumah, ia tak hanya diam (speaking–being silent) namun terus bergerak tanpa pernah menimpali (moving–being still) guyonan tersebut. Ia tahu benar bahwa bagi teman-temanya tak memiliki lagi hiburan selain menertawakan ketidakberuntungan manusia seperti dirinya.

Begitu juga ketika Karyamin bertemu dengan Saidah, penjual nasi yang menawarinya makan dan minum meski sedang tak membawa uang sepeserpun. Pandangan dunianya dikatakan secara eksplisit bahwa sebagaimana Saidah tak tega melihat Karyamin haus dan kelaparan, begitu juga ia tak tega dagangan Saidah terus menyusut akibat uatang-utang yang terus menggunung dan tak terbayar.

Configuring rhythmical patterns. Prinsip ini melihat manusia selalu membuat pola dalam keseharian dan pola ini menjelaskan tentang nilai dan makna diri. Salah satunya adalah  connecting-separating yakni cara manusia hidup bersama dengan yang lain dan pada saat yang sama terpisah dari yang lain.

Connecting-separating bisa dilihat pada pola sikap Karyamin tentang hubungannya dengan isteri, teman-teman kuli, Saidah dan juga korban kelaparan Afrika. Karyamin, meskipun diam tentu memikirkan isterinya yang sendirian di rumah. Saat di sungai tempat ia mencari batu, jiwanya dekat dengan rumah dan isterinya. Ia berusaha memahami perasaan isterinya di rumah ketika harus mengahadapi para penagih utang, juga pemuda-pemuda iseng. Ia secara bersamaan hadir dan dekat. Namun di saat bersamaan juga distancing, berjarak dan jauh secara material.

Cotranscending with possibles. Manusia terus berubah dan terbuka dalam kehidupan sebagaimana mereka mempunyai kemelekatan dan memilih dari kemungkinan tak terbatas tentang bagaimana menjadi, bersikap dan pendekatan seperti apa, dengan siapa berhubungan serta minat dan keinginan apa yang dicari.

Salah satu konsepnya adalah powering, yakni penggambaran tentang perjuangan hidup. Meskipun teramat banyak tantangan dan kesulitan. Pada akhirnya ketika Karyamin harus menghadapi pamong desa yang mencari-carinya untuk membayar dana Afrika, ia tahu akan tetap pushing-resisting, dalam artian tersebut Karyamin dengan pandangan hidupnya akan terus (pushing) memikul batu di pundaknya dan bergerak sambil ia melawan (resisting) keinginan pamong desa perihal dana Afrika yang tak mampu ia bayar. Jangankan membayar iuran tersebut, untuk makan sendiri saja ia harus menahan diri agar tak terlalu dalam menggali kubangan hutang.

Ketika akhirnya Karyamin tak mampu lagi menahan beban dan terpeleset jatuh ke sungai dengan senyum lebar ia menunjukkan bahwa segenap yang ia lakukan itulah being-nya. Dan kini ketika jasad karyamin terlempar ke pinggiran sungai tempat ia sehari-hari mencari nafkah, seketika itu juga ia memilih menjadi nonbeing bagi dirinya, isterinya, Saidah, teman-teman kuli, para penagih utang, para pemuda yang sering mendatangi rumahnya dan terutama pada pamong desa.

Humanbecoming sebagai sebuah teori keperawatan kiranya bisa melihat proses kehidupan seorang Karyamin yang melakukan languaging dengan tak hanya diam-diam menyimpan seluruh ketidakberuntungan yang ia alami, melainkan juga terus berusaha menjalani kehidupan. Ia mengerti bahwa dalam kancah kehidupan ada kalanya moving dan being still, sebagaimana ia paham bahwa dalam berhubungan dengan jagad di mana dia hanyalah salah satu elemen kecil saja. Di jagad itu, ada kalanya attending dan di satu sisi juga distancing.

Ketika krisis melanda Karyamin dengan segala kekuatannya ia berusaha menekan, melaju dan bergerak tapi di satu titik ia juga memilih untuk berhenti. Hingga pada garisnya Karyamin yang being itu dengan senyum merekahnya menjadi nonbeing, menjadi bukan apa-apa.

Humanbecoming dengan seluruh prinsip dan juga konsep yang dibangun hanyalah salah satu cara melihat betapa dinamisnya kehidupan manusia yang selalu berhadapan dengan paradoks kehidupan. Karyamin hadir sekaligus juga berjarak dengan manusia di sekelilingnya. Ia diam sekaligus juga melawan dengan senyumnya. Kiranya senyum Karyamin adalah sebagaimana yang dilukiskan Sujiwo Tejo dalam Kidung Kekasih-nya:

kau yang lelah

kau yang kalah

senyumlah…senyum kehidupan

___________

*) Penulis tinggal di Kota Surabaya, pernah studi 2 tahun di Thailand. Menyukai karya-karya Ahmad Tohari.

SHARE
Penulis adalah pembaca buku yang tekun, dan senang berburu kopi. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

1 COMMENT

  1. Sastra memang unik…. Setelah baca dari artikel ini di otakku terbayang kopi susu, yg mana ada campuran susu, gula, dan yg pasti kopinya. Semua tercampur sehingga menjadi nikmat. Tidak hanya dapat kopi, tapi dapat gula dan susunya. ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here