E-book di Tengah Hiruk Pikuk Hari Buku 

0
239
Ilustrasi: static.wixstatic.com
Buku elektronik lebih mudah dibawa kemanapun tanpa menyita banyak ruang.  Selain itu, harga buku elektronik dipastikan lebih murah daripada buku fisik. Sehingga memudahkan penggunanya untuk menabung demi masa depan.

————————

Saiful Yuda kebingungan. Berulangkali dia melihat ke berbagai sisi kamar kos yang selama beberapa tahun ini melindungi tubuhnya dari air hujan. Bukan, bukan masalah hujan yang membuat Yuda kebingungan. Yuda bingung karena hari ini kekasihnya sedang ulang tahun. Dan, seperti yang para pembaca duga-duga, dia tidak tahu perihal hadiah apa yang ingin dia berikan pada kekasihnya itu.

Dia sempat kepikiran mengirimi kekasihnya itu sebuah buku, mengingat, bertepatan dengan hari buku sedunia. Tapi, karena buku-buku yang dia miliki mayoritas bertema serius dan antimainstream dan dia tahu kekasihnya itu kurang  suka, dia pun memutuskan  tidak jadi  mengirimi buku. Sebab, untuk membeli buku baru, tokonya lumayan jauh. Kota juga sedang diguyur hujan. Mengirimi buku menjadi opsi yang lekas dia lupakan.

Dia teringat salah seorang kawannya, Sudharma atau Budiman atau panggil saja dia Tulus, saat ini menjadi admin sebuah portal artikel yang cukup terkenal. Dia pun menghubungi temannya itu untuk minta izin menulis artikel di portal tempat dia bekerja dengan maksud menghadiahi hari ulang tahun kekasihnya itu dengan sebuah artikel tulisannya.

“Apa? hadiah berupa artikel?,” tanya Tulus berusaha mengaget-ngagetkan diri, “Itu keren, tapi apa tidak lebih baik kamu mengiriminya E-book saja?”

“Waini, ide brilian” ucap Yuda dalam hati sambil tersenyum jahat.

Entah Yuda jadi menulis artikel atau tidak,  atau dia jadi beli buku elektronik (e-book) atau tidak, hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu. Tapi, kehadiran E-book yang memberi dampak positif di saat-saat genting, tentu pernah dirasakan banyak orang. E-book memang jawaban bagi para pembaca yang mendamba efektivitas dan efisiensi proses baca-membaca.

Radinal Rama, salah seorang pehobi baca buku mengatakan, buku elektronik memang memberi dampak positif di saat-saat genting. Dalam hal reading mingguan di salah satu komunitas baca buku yang dia  ikuti misalnya, tanpa adanya buku elektronik, barangkali dia sulit mengikuti pembahasan dan diskusi. Sebab, Hunger, buku karya Knut Hamsun yang dia baca bersama teman-temannya hanya satu. Itupun sempat ketelingsut di sebuah tempat yang tidak ada satupun orang mengetahui tempatnya. Akibatnya, para anggota menderas buku menggunakan buku elektronik. Selain efektif, kemungkinan hilang buku elektronik sangat kecil. Sekecil keinginan manusia untuk menjadi kaya tapi enggan bekerja.

“Buku elektronik atau e-book sangat membantu. Terutama karena bisa dibawa kemana-mana dan tidak mudah hilang,” katanya.

Keberadaan buku elektronik memang sangat memudahkan pembaca-pembaca buku yang malas membeli buku fisik. Buku elektronik lebih mudah dibawa kemanapun tanpa menyita banyak ruangan.  Selain itu, kalaupun beli, harga buku elektronik dipastikan lebih murah daripada buku fisik. Sehingga memudahkan penggunanya dalam menabung demi masa depan.

Wajar jika anak-anak generasi milenial seperti Saiful Yuda dan Radinal Rama sangat terbantu dan menganggap kehadiran e-book sebagai penolong di saat-saat genting. Cara kerja e-book terbukti berhasil dinikmati seiring karakter masyarakat muda modern yang suka efektivitas dan membenci keribetan.

Tapi, tidak semua generasi milenial menganggap e-book segalanya. Ada beberapa pembaca buku yang memang tidak bisa mengganti kegandrungan pada  buku fisik dan tetap mempertahankan kesukaan membaca buku fisik daripada e-book. Bukan karena konservatif, tapi memang ada kenikmatan berbeda dari buku fisik yang tak mampu dihadirkan e-book.

Seorang reader lainnya, Chusnul C, mengaku lebih menyukai buku biasa daripada e-book. Menurutnya, itu soal kebiasaan. Selain itu, e-book dibaca melalui laptop atau ponsel yang pastinya saat kelamaan membaca, radiasi dari gadget akan berimbas pada mata. Karena itu dia lebih memilih buku biasa.

“Emang terkesan kuno, tapi mengubah kebiasaan itu susah,” katanya lagi.

Dilansir dari tirto.id, orang kerap berasumsi bahwa generasi milenial lebih menyukai format digital ketimbang fisik. Dalam soal buku, anggapan itu tidak benar. Ingenta (dulu bernama Publishing Technology) merilis hasil survei atas 2 ribu orang berusia 18-34 tahun di Amerika Serikat dan Inggris. Sebesar 71 persen atau sekitar 3 dari 4 orang responden mengaku membaca sedikitnya satu buku cetak dan hanya 37 persen yang mengaku membaca buku elektronik sepanjang 2014.

Nah, kalau kamu bagaimana?

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here