Empat Mazhab Jurnalistik di Bulan Puasa

0
440
ilustrasi: mindrocketmediagroup.com

Berprofesi sebagai jurnalis, terutama media lokal , adalah kerja yang tak boleh lelah. Tak mengenal tanggal merah dan tak selalu bisa ikut tarawih berjamaah. Namun, yah, mau gimana lagi. Harus cerdas menikmati, mensyukuri dan sesekali mengakali.

Dengan kelelahan yang menderu, kamu bisa membayangkan jika bulan puasa datang, bulan khusyuk dengan potensi malas keluyuran sebesar 900 VA itu, sudah dipastikan mampu menghilangkan subsidi semangat untuk keluar kamar. Ini memicu jurnalis mendadak jadi cerdas. Selain cerdas mengelola waktu, juga cerdas merumuskan apa yang bakal diketik di medan layar penghakiman menjelang deadline.

Siang di bulan puasa, memang sedikit berbeda dengan siang di sebelas bulan lainnya. Perbedaannya, cukup besar. Selain godaan tidur siang lebih tinggi dari biasa,  puasa adalah bulan suci. Sangat tidak elegan jika justru digunakan buat mampir ngopi. Kita tahu,  pekerjaan jurnalis jika dipikir-pikir adalah memeram renung di warung kopi, berburu info lewat gawai. Sebab, hidup bekerja tak lebih dari sekadar mampir ngopi bukan?

Yaps, tahu, Kan? Jadi, jika kamu jurnalis dan saat bulan puasa masih saja seperti hari-hari biasanya—melamun di warung kopi— ini tentu bukan pilihan yang bijak. Alih-alih kamu hanya melamun, tentu bakal meng-kaffah kan lamunan itu dengan secangkir kopi dan beberapa linting puntung inspirasi, so-called: Mukak! Dan itu nggak banget lah.

Bulan puasa bulan ukhrowi. Begitu kata ustadz. Bulan yang gak asyik banget jika masih harus memikirkan urusan duniawi; memperhatikan masalah keburukan birokrasi; maupun mengikuti isu perkelahian tokoh itu dan ini. Intinya, bulan puasa adalah bulan yang hanya nikmat jika berada di kamar dan menghabiskan waktu untuk membaca buku dan menderas kitab suci tidur menunggu adzan maghrib berkumandang.

Jadi, jangan heran jika di bulan puasa, jurnalis agak sulit dicari di tempat-tempat nongkrong seperti biasanya. Mereka pasti nongkrong di ruang yang luar biasa. Ruang yang tak tersentuh sinar matahari, tentunya. Bukan-bukan, ini bukan karena mereka malas dan enggan keluar rumah. Masalahnya sederhana, mereka malas menghirup polusi dunia yang semakin riuh dan fana. Mulia sekali kan, ya?

Namun, meski enggan berhadapan dengan sinar matahari, bukan berarti mereka ngorok di depan layar televisi, lho ya. Justru, mereka bekerja lebih giat dari biasanya. Jika biasanya mereka hanya muter-muter sambil nunggu fenomena alam terjadi, saat seperti ini, mereka lebih memilih jemput bola melalui duduk meditasi — tentu, dengan pikiran yang kesana-kemari.

Mereka tidak lagi menunggu fenomena alam terjadi, juga enggan silaturahmi ke  kantor-kantor birokrasi. Lebih dari itu–meski hanya bermeditasi– hakikatnya, mereka sedang mencari, mengintai, memburu, sekaligus memasang sensor melalui sinyal yang dikirim ke berbagai galaksi. Saya mencoba merangkum dari ratusan mazhab meditasi bagi para jurnalis yang enggan berhadapan dengan sinar matahari di bulan puasa, menjadi hanya empat mazhab. Berikut, empat mazhab yang kerap diimani.

  1. KULHU AE

Madzhab pertama ini hanya bisa dilakukan jurnalis berpengalaman. Setidaknya, mereka yang pernah mengenyam dunia “tulis-menulis dalam tekanan” minimal 5 tahun. Mereka bakal menjapri sejumlah narasumber yang sudah kenal dengan sangat baik melalui aplikasi Whatsapp (WA) untuk menanyakan informasi. Ingat, jurnalis senior bisa dipastikan sangat berpengalaman menghemat pulsa.

Jika tidak ada info yang bisa ditulis, mereka tidak langsung menyerah begitu saja. Melainkan, menggojek tema lainnya. Misalnya, menanyakan kabar burung piaraan atau tokoh pilihan pada Pilbup tahun depan. Setelah suasana lebih santai dan ringan, dia bakal kembali bertanya—tentu, pertanyaan-pertanyaan “kunci” yang mudah dijabarkan. Berikutnya, apapun yang dikatakan si narasumber ini, sudah bisa dibikin berita. Kulhu ae, Lek. Kesuwen: straight news pun siap disajikan.

  1. NDARUS

Berasal dari kata taddarus, menderas: memperhatikan atau menyimak dengan seksama barisan teks. Pada mazhab kedua ini, tak ada syarat apapun bagi jurnalis. Baik jurnalis junior maupun senior bisa melakukannya. Caranya pun sangat mudah. Bahkan, lebih mudah daripada menghafalkan mars partai nganu. Cukup baca berita di media lain dengan seksama.

Setelah mendapat simpul masalah dan siapa yang berwenang berbicara, tulis lagi berita itu menggunakan gaya kalimat yang agak berbeda. Setelah itu, kirim pesan pendek ke narasumber yang bersangkutan. Tak penting dibalas atau tidak. Jika dibalas, bersyukurlah. Jika tidak, cukup tulis: pihak terkait belum bisa dikonfirmasi. Straight news pun siap disajikan. Sstt…tapi ini tidak dianjurkan.

  1. BIL GHOIB

Cara ini lebih susah dari dua mazhab sebelumnya. Harus dilakukan jurnalis senior dengan kedekatan pada narasumber melebihi kedekatan syariat belaka. Jika jurnalis yang hanya bermodal dalil-dalil terjemahan dari google, saya yakin tidak bakal mampu melakukan jurus dengam maqom hakikat ini. Sebab, tanpa berada di lokasi, bisa tetap menulis berita secara rinci layaknya berada di lokasi.

Mazhab ini mengajarkan, jika sudah mumet tak dapat berita, tenang saja. Tak usah geser pantat agar pahala berdzikir tetap dicatat malaikat. Cukup ambil telepon dan hubungi satu narasumber yang berhubungan dengan harga kebutuhan pokok. Cari tahu tentang apa yang terjadi. Jika tidak ada fenomena apa-apa, suruh si narasumber melalukan sidak ke toko-toko modern untuk ngecek harga. Cari  saja alasan petugas negara jangan enak-enakan saja, tapi harus tetap kerja meski enggak puasa.

Setelah memastikan bakal ada sidak ke toko-toko modern dengan alasan stabilitas keamanan negara harga kebutuhan pokok, tutup dulu teleponmu. Bisa kamu tinggal untuk nonton tivi atau membaca-baca buku. Setelah yakin sidak selesai dikerjakan, hubungi lagi yang bersangkutan. Catat apa yang sudah dilakukan. Sambil sedikit memberi sentuhan dramatisasi suasana, straight news pun siap disajikan.

  1. KHILAF..AH! 

Mazhab ke-empat ini mazhab paling akhir. Jangan dipilih jika masih ada pilihan yang lain. Sebab, ini jurus pamungkas Rengkah Gunung, bisa membuat blunder jika tidak dilakukan dengan cara yang jitu dan baik. Begini, anggap saja tidak ada fenomena apa-apa, semua narasumber tidak bisa dihubungi karena tidur siang dan kamu malas memikirkan isu. Maka, kamu bisa mengirim lagi tulisan (features, misalnya) yang sudah kamu kirim sebelumnya sambil sesekali berdoa dalam hati agar redaktur yang kamu kirimi tulisan, semalam nonton pertandingan bola dan hari ini ngantuk menjelang tak terjaga. Sehingga, berita yang pernah ditolak itu bisa diloloskan. Namun, jika redakturmu tidak suka nonton bola dan tidak mudah mengantuk, bersiap-siaplah untuk berkata: “Maaf, saya khilaf,” sambil mengimani bahwa apapun masalahnya, Khilaf.. Ah solusinya.

_________

*) Penulis adalah jurnalis muda yang suka berimajinasi.

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here