Estafet AJI Bojonegoro Merawat Independensi Jurnalis

0
158
Suasana Konferta AJI Bojonegoro

Ada semangat baru di penghujung 2020. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro menggelar Konferensi Kota (Konferta) ke-4. Tepatnya pada Sabtu 26 Desember 2020. Konferta berjalan cukup lancar, meski dengan nuansa berbeda dari konferta-konferta sebelumnya akibat pandemi covid-19.

Konferta tentu tak sekedar pergantian ketua, sekretaris dan pengurus lain. Lebih dari itu, konferta menjadi penyegaran pemikiran, penyegaran tujuan, dan bahkan bisa jadi meredefinisi makna jurnalis. Tergantung siapa yang memaknainya.

Konferta kali ini berjalan cukup singkat namun penuh makna. Diawali dengan bedah buku yang dimulai pukul 09.30 WIB, konferta dilanjutkan dengan proses pemilihan ketua dan sekretaris pada pukul 13.00 WIB. Semua rangkaian acara tuntas dilaksanakan sekitar pukul 15.30 WIB.

Hasilnya, Deddy Mahdi (jurnalis MNC) dan Tulus Addarma (jurnalis beritajatim.com) secara aklamasi terpilih menjadi ketua dan sekretaris AJI Bojonegoro periode 2020-2023. Mereka menggantikan kepengurusan sebelumnya yang dinahkodai Amrullah Ali Moebin dan Khorij Zainal Asrori sebegai ketua dan sekretaris.

“Selamat pasangan Dedi dan Tulus periode 2020-2023. Tantangan jurnalis makin besar, sehingga perlu saling bahu membahu mewujudkan cita-cita organisasi,” kata Sekjen AJI Indonesia, Revolusi Reza yang mengikuti jalannya Konferta melalui daring.

Deddy dan Tulus boleh dibilang mewakili kalangan jurnalis muda Bojonegoro. Mereka selalu kritis meski terkadang harus dihadapkan pada realitas-realitas yang tak selalu berpihak pada jurnalis. Mereka juga begitu loyal pada organisasi AJI.

“Kita dulu membuat forum mahasiswa jurnalis Bojonegoro. Kita sudah membangun komunikasi jaringan keluar. Nanti akan kita kembangkan lagi,” begitu kata Deddy usai dirinya terpilih sebagai Ketua AJI Bojonegoro.

Deddy (kanan) dan Tulus yang terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Bojonegoro

Perjalanan AJI Bojonegoro

Saya boleh dibilang adalah anggota AJI Bojonegoro ‘pinggiran’. Ketika organisasi AJI Bojonegoro belum dideklarasikan, saya menjadi jurnalis Koran SINDO di Bojonegoro. Beberapa kali diskusi dengan mas Jatmiko (Tempo), Ahmad Yakub (Media Indonesia) dan dan Anas AG (Radar Bojonegoro). Maklum merekalah teman di ‘lapangan’.

Ketika itu, organisasi kewartawanan di Bojonegoro cukup banyak. Kebanyakan organisasi lokal dan belum ada organisasi dengan punya AD ART secara nasional. Sementara isu ‘di luar’, profesi jurnalis lebih identik dengan profesi mencari-cari kesalahan orang, meminta uang ke narasumber, dan lain sebagainya. Sehingga kehadiran AJI di Bojonegoro dirasa cukup penting.

Hingga akhirnya AJI Bojonegoro dideklarasikan pada 11 April 2011 di Grha Wiyata Perak, gedung yang cukup sederhana di dekat eks terminal Bojonegoro. Puluhan jurnalis hadir, yakni dari Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. “Konsekuensi tentang independensi menjadikan banyak teman yang belum berani bergabung,” kata M Yakub, Koordinator Pendirian AJI Bojonegoro, sebagaimana dikutip dari laman Tempo.co

Sayang, saya tak bisa ikut menyaksikan deklarasi tersebut. Lantaran, saya yang waktu itu menjadi jurnalis Koran SINDO harus pindah tugas di Jakarta. Meski, saya tetap dicatat sebagai anggota AJI Bojonegoro. Kepengurusan pertama AJI Bojonegoro adalah Sujatmiko (ketua) dan M Roqib (sekretaris).

Lalu Konferta ke-2 AJI Bojonegoro digelar di Wisma Toyo Aji Bojonegoro Minggu 8 Maret 2014. Hasilnya Anas Abdul Ghofur sebagai ketua dan Khorij Zainal Asrori sebagai sekretaris. (Anas AG telah almarhum, Al-fatihah). Lalu Konferta ke-3 digelar pada Sabtu, 29 Juli 2018 di Griya Dharma Kusuma Jalan Trunojoyo. Konferta ke-3 memilih Amrullah Ali Moebin dan Khorij Zainal Asrori sebagai ketua dan sekretaris.

Tantangan Besar

Konferta ke-4 AJI Bojonegoro dibuka dengan diskusi bedah buku ‘Dinamika Jurnalisme di Tengah Pandemi Covid-19’. Obrolan buku tersebut seakan mengantarkan pada bentang tantangan jurnalisme di masa pandemi dan pasca pandemi mendatang.

Sugeng Winarno, dosen saya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang hadir dalam bedah buku secara daring, membeber tantangan besar jurnalisme. Jurnalisme adalah produk intelektual, katanya. Sehingga kemampuan jurnalis untuk mengolah data dan mencari informasi yang benar sangat diperlukan.

Apalagi, karya jurnalistik hadir dan ‘beradu’ dengan tulisan-tulisan di media sosial untuk dikonsumsi pembaca. Media sosial telah mengubah lanskap jurnalisme dunia. “Saya menyebutnya ini sebagai infodemi, yakni ketika banjir informasi,” kata Sugeng Winarno.

Beberapa peserta juga membeber pengalaman dan analisa kritis tentang wajah jurnalisme di tengah pandemi. Saya pun mencoba membeber sedikit fakta hasil survei yang dilakukan Kominfo pada Oktober 2020. Salah satu hasilnya, 76% responden mendapatkan informasi dari media sosial. Dan Indonesia masih berada di level 3 (dari 5) terkait literasi digital.

Meski tingkat kepercayaan masyarakat akan informasi dari media sosial tidak setinggi dari media online, namun bagaimanapun prosentase besar kebiasaan masyarakat mencari informasi lewat media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalis.

Ada sebagian kalangan memang pesimis terhadap masa depan jurnalisme karena ‘termakan’ oleh media sosial. Namun, saya berkeyakinan hal itu tak akan terjadi. Jurnalisme tetap sangat dibutuhkan masyarakat. Ketika media sosial banyak diisi konten hoax, ujaran kebencian, dan lain sebagainya, maka saatnya jurnalisme menawarkan informasi benar, valid dan obyektif. Profesionalitas jurnalis menjadi garda depan mengembalikan kepercayaan publik pada informasi yang disajikan jurnalis.

Saya selalu teringat optimisme Tom Rosenstiel, seorang pakar jurnalistik yang menulis esai panjang berjudul ‘News as Collaborative Intelligence: Correcting the Myths About News in the Digital Age’ pada Juni 2015. Ia menyebut ada tiga ‘obat’ untuk mengatasi kekhawatiran banyak pihak pada jurnalisme. Yakni perkuat kemampuan teknologi, bersinergi dengan masyarakat (komunitas), dan mewujudkan jurnalisme profesional. Tiga obat itulah yang akan menyelamatkan jurnalisme di masa mendatang.

Selain itu, media sosial juga ‘memaksa’ jurnalis menjadi ‘new journalist’ yang berbeda dengan jurnalis-jurnalis sebelum ada media sosial. Salah satu perbedaan tersebut adalah personal branding. Pada era media sosial, ketika teknologi informasi berkembang cukup pesat, jurnalis bisa menjadi dirinya sendiri sekaligus menjadi karyawan dari perusahaannya. Maka tidak heran jika jurnalis kini juga suka ngevlog, punya chanel Youtube sendiri, punya website sendiri yang boleh jadi berbeda dengan apa yang dikerjakan di perusahaan tempatnya bekerja.

Pandemi covid-19 juga memaksa jurnalis dan lembaga pers untuk bertransformasi, mengubah cara kerja, memaksimalkan peran teknologi informasi dalam kerja-kerja jurnalistik. Jurnalis pun menemui tantangan-tantangan baru, terkait hubungan dengan narasumber, sesama jurnalis, atau jurnalis dengan perusahaan tempatnya bekerja. Pada kondisi ini, penghargaan sebesar-besarnya pada jurnalis yang tetap merawat independensi dan selalu kritis.

Dunia jurnalistik memang selalu berubah, namun kini perubahan itu begitu cepat berkejaran dengan media sosial, menghadapi ketidakpercayaan publik, dan pukulan ekonomi sebagai dampak pandemi. Tantangan besar itulah yang kini dihadapi jurnalis dimanapun, termasuk bagi organisasi profesi jurnalis seperti AJI.

Namun, sebesar apapun tantangan itu, semua akan mudah dicarikan solusi jika jurnalis berorganisasi, bergandengan tangan, saling bekerjasama, ngopi bareng, ngobrol bareng, dan berproses bersama.

Akhir kata, selamat kepada Deddy dan Tulus yang menahkodai AJI Bojonegoro periode 2020-2023. Salam kebebasan pers. Salam kopi cangkir.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here