“Gandrik! Aku Putune Ki Ageng Selo”

0
1304
foto: pixabay

Ki Ageng Selo itu fakta, pria kelahiran Kotagede Jogja ini di masa kecil bernama Bagus Sunggom alias Abdurrahman II bin Ki Getas Pandowo bin Ki Bondan Kejawan bin Brawijaya V alias Bhre Kertabhumi. Bondan yang punya nama lain Lembu Peteng lahir dari istri selir, Putri Wandansari, seorang dayang yang melayani Dewi Dwarawati alias Ratu Campa. Meski bukan istri pertama, Ratu Campa berstatus permaisuri, dialah yang melahirkan Raden Patah.

Oke, tidak jauh jauh, kembali ke awal. Bahwa Ki Ageng Selo menikah dengan Nyi Ageng Bicak putri Ki Ageng Ngerang dan memiliki 7 anak juga fakta. Anak terakhir adalah Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan berputra Sutowijoyo juga fakta. Dia adalah guru Jaka Tingkir, Panjawi, dan Juru Martani, juga fakta. Dia nyata dan fakta. Begitulah…

Nah, Selo sebagai fakta sejarah ini tak terlalu kami kenal, karena legenda tentangnya lebih viral lebih dulu. Saat masih kecil, saat kami menggembala kambing di musim hujan, ibuku mengajariku doa kalau ada petir. “Gandrik, aku putune ki Ageng Selo,” begitu doanya. Saya tentu saja penasaran dan terus menanyakan kepada ibuku Selo itu rumahnya mana. “Mbah Selo yo wong seng iso nyekel gluduk,” jawab ibuku saat saya desak. “Omahe ndi aku pingin rono,” sahutku. “Gak roh,” jawab ibuku cepat, nihil tak ada penjelasan.

Untuk saat ini, tentu saya tidak mau berdebat apakah Selo yang bisa menaklukkan petir itu fakta atau legenda. Yang pasti, Grobogan sebagai sebuah kabupaten, menggunakan lambang petir yang ditangkap Selo. Di pintu masjid agung Demak terdapat gambar yang sama. Keduanya sah dan diresmikan. Saya lebih bahagia saat bisa mendoakan para pemimpin kita, alhamdulillah semalam saya juga bisa ke makam Getas Pandowo, ayah si Selo.

foto: infopurwodadi
SHARE
Politisi PKB di Bojonegoro, menyukai sejarah. Punya kebiasaan mengunjungi situs-situs kuno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here