Hari-hari Penuh Ketakutan

0
375
ilustrasi: pinterest

“Pak, semoga kau mempercayaiku,” ujar Takin sambil tangan kanannya gemetar memegang handphone Oppo baru miliknya.

“Aku sungguh takut setelah kejadian itu. Namun, aku tak akan menceritakan kisah ini padamu sebelum kau berjanji padaku untuk mempercayai keseriusanku bercerita,” imbuhnya

Kropak hanya diam. Dia merasa heran, kawan baik yang dia kenal sejak kecil itu, terlihat tidak seperti biasanya. Biasanya, dia tak pernah takut pada apapun. Tidak hanya pada manusia,bangsa jin pun dia tidak pernah takut. Itu membuatnya sedikit penasaran dengan apa yang dialami Takin, teman baiknya itu.

“Lha, kan bulan Ramadan, setan-setan sudah pada dikrangkeng,” ungkap Kropak sambil menunggingkan senyum kecil penuh arti.

“Pak, jangan menganggapku bergurau kali ini. Aku serius,”

Sambil mendengar sayup-sayup anak-anak menderas kitab suci–dan sesekali makan telo yang ada di depannya–Kropak mulai menanggapi curhatan sahabat baiknya itu sedikit lebih serius.

“Iya-iya, aku hanya tidak percaya saja. Ini bulan puasa, kita berada di depan masjid dan kau takut. Setan mana yang berani datang kesini, Bro?,”

“Sejak seminggu lalu, Pak. Aku bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, aku bertemu dengan banyak benda-benda yang secara ujug-ujug mampu berjalan dan mengejarku. Kau tahu, Pak. Benda-benda itu adalah benda mati yang, yang…. Dan mereka mengejar dan seolah ingin memukuliku, Pak. Bukankah itu sesuatu yang mengerikan?” tutur Takin sambil secara tidak sadar menggenggam erat handphone barunya itu

“Benda apa maksudmu?,”

“Hampir semua benda, Pak. Semua benda yang aku gunakan seolah ingin mengancamku,”.

“Iya, apa saja misalnya?”

“Mulai sepatu, sendal, sepeda motor, komputer, pakaian, bahkan handphoneku juga ikut-ikutan, Pak. Kau bisa bayangkan, benda-benda itu secara tiba-tiba memiliki kaki dan tangan. Dan mereka, semua benda tadi, mengejarku, Pak. Jujur aku sangat ketakutan,” terang Takin sambil menyeka keringat dingin yang mulai merembas di sekujur tubuhnya.

“Lha, Cuma mimpi gitu kog takut?,”

“Bukan hanya sekali, Pak. Tiap hari, tiap kali aku tidur, selalu diikuti mimpi itu,”  jawab Mutakin

“Kog bisa, ya?” tanya Kropak heran.

Takin memejamkan mata sejenak. Sesekali dia mengatur nafasnya. Seolah tidak menghiraukan apa yang baru saja ditanyakan sahabatnya tadi.

“Dan yang paling mengerikan, Pak. Status-status medsos yang pernah aku tulis, hampir setiap bagiannya, mulai kata, kalimat hingga paragrafnya, tiba-tiba memiliki tangan dan kaki, lalu berdiri dan berlarian mengejar dan ingin memukuliku, aku benar-benar takut. Maukah kau menemaniku mencari orang pintar, Pak?” tanya Takin.

“Aneh sekali, ya. Selama ini, kamu dijuluki pendekar medsos cum aktivis sosial dan sangat terkenal. Bahkan, status maupun perdebatan-perdebatanmu selalu diikuti heroisme penggemar yang tak pernah bosan memberi like dan komentar dukungan,” kata Kropak

Takin terdiam, Kropak terdiam. Sesaat, mereka berdua meredam suara. Mendengarkan lantunan anak-anak yang masih tampak semangat ndarus Al Quran.

“Benda-benda dan status medsos tadi, mereka mengejar dan memukuliku. Awalnya, aku berusaha melawan. Tapi, setelah mereka kalah, mereka datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Status medsos dan benda-benda tadi terus berganda. Aku kalah dan aku ketakutan. Aku tak berani tidur, Pak”

“Kog bisa, ya? Status medsos bisa memukulimu. Status seperti apa yang memukulimu? Apakah status dakwah berujung perdebatan yang  kerap kau tulis itu juga memukulimu?,” tanya Kropak lagi.

“Ah aku lupa, Pak. Mereka sangat banyak sekali dan yang jelas itu status medsos yang aku tulis sendiri,” jawabnya.

Suasana sejenak hening. Suara anak tadarus sudah mulai redup dan hilang, menyisakan gemerisik sandal-sandal kecil yang berlarian pulang. Kini, hanya angin malam yang menemani Kropak dan Takin di beranda masjid. Angin malam yang sebelumnya lembut, tiba-tiba terasa kencang menjelang lesus. Lalu kembali hilang lagi berganti angin yang lembut.

Kropak yang sebelumnya tampak biasa dan bersuara cempreng, mulai terlihat berbeda. Wajahnya mendongak miring. Dengan sorot mata sangat tajam, dia tampak melihat jendela yang ada di samping kirinya. Takin terheran, dia mulai merasa asing dengan kawannya itu.

“Takin,” seru Kropak dengan suara berat penuh wibawa, sambil tetap menatap tajam jendela. “Kau harus berhati-hati,” lanjutnya.

Takin terdiam penuh takzim. Melihat gelagat kawannya yang tiba-tiba berubah itu, dia merasa seperti sedang mendengar pengumuman hasil kelulusan: patuh dan penuh kecemasan.

“Kau harus berhati-hati, Nak. Tidak semua yang kau anggap benar adalah kebenaran umum yang harus diamini oleh setiap orang, meskipun itu sebuah kebenaran. Tidak pula kekurangan harus menjadi hinaan. Sebab, kau tidak tahu. Mungkin itu sebuah kemuliaan, hanya saja matamu belum mampu melihatnya,”

Takin hanya diam. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya.

“Nak,” lagi-lagi Kropak berbicara dengan suara tegas dan menggunakan panggilan yang tidak biasa.

“Keberuntungan dan keapesan hidup itu sudah diatur oleh Nya. Dan Dia (Allah) bisa saja merubah skenario hidup orang dari yang beruntung menjadi apes maupun sebaliknya. Bisa jadi, orang yang kau anggap apes dan kau hina itu lebih beruntung dari dirimu dan memiliki doa yang lebih manjur dari doa-doamu. Kau dan aku hanya bagian kecil dari ciptaan-Nya, yang tak memiliki keberuntungan apapun kecuali itu atas izin- Nya” lanjut Kropak penuh kharisma.

“Kau masih ingat wejangan Kyai Soleh sebelum kita boyong?,” tanya Kropak yang seolah tak butuh jawaban dari Takin.

“Kyai pernah berpesan, jangan pernah sombong dan menghina orang lain. Meski secara kasat mata ilmu kita lebih tinggi dari orang itu. Sebab, kita tidak tahu, bisa jadi orang yang kau anggap rendah itu memiliki kemuliaan lebih tinggi darimu. Hanya, keterbatasan akal dan rasamu yang takmampu melihatnya. Kau harus berhati-hati, Nak. Harus,” pungkasnya.

—Sejenak semua hening—

“Lhoh, kog diam. Tadi sampai mana ceritanya?,” tanya Kropak dengan suara yang kembali cempreng seolah seperti tak tahu apa yang baru saja terjadi.

Sambil sesekali menelan ludah, Takin masih tertegun dengan apa yang Kropak katakan barusan. Dia diam dan tak berbicara melihat perubahan yang dia saksikan pada kawannya itu.

“Mas-mas, tolong kumandangkan pemberitahuan sahur ya, ini sudah jam 3 je. Aku mau bersih-bersih jeding dulu ini,” kata Lek Tohir, marbot mesjid yang tiba-tiba memecah keheningan Takin dan Kropak.

_________

*) Penulis menyukai kopi, buku dan cerita-cerita. Juga jurnalis tinggal di Bojonegoro.

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here