Hujan dan Perlawanan Kami

0
358

Minggu kemarin (19/11), Ngaostik Mini Fest #3 kembali digelar. Sebelumnya, melalui rapat yang panjang (karena disertai reading group), kami (kru Ngaostik) memutuskan beberapa hal. Pertama, Ngaostik harus digelar di kecamatan lain, tidak melulu di sekitaran kota (Kecamatan Bojonegoro). Kedua, konsep acara harus sederhana, tapi berkesan. Tidak memberatkan dan menyusahkan siapapun. Ketiga dan yang paling utama dalam acara Ngaostik Mini Fest #3 adalah semua harus senang, sehingga tidak boleh ada yang kesusahan.

Dari tiga keputusan di atas, kami menyepakati bahwa acara akan dilaksanakan di daerah Bojonegoro Selatan. Pilihan itu kemudian jatuh di rumah Valen, di Dander. Rumah Valen memiliki halaman yang cukup luas, sehingga cocok untuk dijadikan tempat menggelar Ngaostik Mini Fest #3. Dua minggu sebelum acara, kami melakukan survey tempat. Kedatangan kami, selain untuk meminta ijin kepada tuan rumah, juga untuk memetakan letak panggung, lahan parkir, dan lahan untuk menggelar lapak baca.

Semua persiapan sudah mantap. Kitab puisi yang akan dibedah sudah terbit. Musikalisasi puisi telah dibuat oleh komponis handal andalan Ngaostik, Mas Oky Kemiry. Musisi handal, pangeran bergitar, yakni Radilan, eh Radinal Ramadhana juga sudah sangat siap. Dia sudah mengosongkan jadwalnya di tanggal 19 hanya untuk tampil di Ngaostik Mini Fest #3. Penyair-penyair muda juga akan datang meramaikan.

Buku-buku juga telah siap dibawa dengan Tossa oleh Feri. Pokoknya, semua sudah sangat siap. Satu hal yang kurang hanyalah kehadiran Mas Wisnu, yang tiba-tiba harus berangkat ke Kalimantan. Tapi, kami yakin ruhnya akan tetap hadir bersama kami di Ngaostik Mini Fest #3. Tepat di hari minggu (19/11), Bojonegoro mendung sedari pagi. Ramalan cuaca dari BMKG mengatakan bahwa Bojonegoro akan turun hujan hari itu.

“Mari lawan prediksi BMKG!!” Ujar Mas Rizky di dalam grup WA Ngaostik.

Pada waktu itu, Dander sudah mendung. Petang. Tetapi, Okky, penyair muda yang puisinya begitu fenomenal berkata bahwa dirinya sudah bercengkrama dengan Zeus dan Poseidon, “tidak ada hujan hari ini.” Karena Okky sudah berkata demikian, maka kami harus percaya. Semangat kami kembali lagi. Mendung itu tidak akan berarti apa-apa. Kami sangat yakin.

Menjelang acara, di jam 2 siang. Bojonegoro diguyur hujan gerimis. Tiba-tiba Valen memberikan kabar bahwa Dander hujan deras. Mungkin, ada kekeliruan yang terjadi saat pertemuan Okky dengan para Dewa. Kuduga, Dewa salah menangkap maksud Okky, atau memang pembicaraan Okky terlampau tinggi untuk ditangkap maksudnya oleh para Dewa. Entahlah …

Beberapa waktu kemudian, hujan reda. Kami melanjutkan rencana dengan menata buku untuk dilapakkan dan beberapa lainnya menata panggung dan latar. Reading Group tetap dilaksanakan, dipandu oleh Mas Tohir. Baru sampai pada pembacaan paragraph ke-5, hujan kembali turun. Kami bergotong-royong untuk memasukkan buku-buku yang sudah digelar, sound system yang sudah dipasang, dan juga lampu beserta property lainnya.

Hujan reda beberapa saat setelahnya, kami kembali menata buku, sound system, dan lampu-lampu. Tapi, sesaat kemudian, hujan kembali turun. Takdir seperti sedang mempermainkan kami. Hal itu terjadi sekitar 3 hingga 4 kali, dan kami juga sudah 3 hingga 4 kali menata-kukuti semua barang. Feri, Faizal, Fay, Diki, Mas Ikal, Mas Tulus dan banyak teman lainnya harus melebarkan dada dan menguatkan lengan serta kaki untuk kegiatan ‘angkat-angkat’.

Aku jadi ingat kesialan-kesialan tokoh ‘Aku’ di dalam buku berjudul Lapar (Hunger) yang kami baca. Tapi, hujan hari ini bukan kesialan. Kami mencoba meyakinkan diri, hujan tetap sebagai berkah. Sembari berteduh, kami membicarakan rencana cadangan. Jika hujan tidak kunjung reda, maka terpaksa acara dilanjutkan di dalam rumah Valen. Beberapa orang setuju, karena memang tidak ada pilihan lain serta acara tidak boleh dibatalkan. Beberapa lagi tidak setuju karena mengurangi kesyahduan Ngaostik.

Di ruang tamu rumah Valen, kursi-kursi sudah dipindahkan ke ruang tengah, sehingga ruang tamu itu tampak lega. Ehtapi tunggu, ada yang menjadi pikiranku…

“Lho, Mas, kalau di dalam, bagaimana nanti penampil yang membutuhkan gitar dan biola?”

Mas Tohir dan Mas Rizky mendekat. Mereka juga memikirkan apa yang sedang aku pikirkan. “Gini, Chus, Ngaostik tidak boleh dibatalkan. Kita harus tetap jalan.” Ucap Mas Rizky sangat meyakinkan. Aku sepakat dengan itu.

“Justru enak kalau di dalam. Nggak perlu pake Microphone.” Mas Tohir menegaskan.

“Tapi, gini, Hir. Kalau di dalam, kamu kentut saja bakal kedengaran.” Ujar Mas Rizky.

“Kalau di dalam, kita ndak bebas gerak,” ucapku.

“Lha terus, bagaimana?”

Aku dan Mas Rizky yang bertugas sebagai penakdir acara, hari itu harus berpikir sangat keras. Sampai akhirnya Mas Rizky bertanya, “ada yang sedang tidak fit?”. Kami menggeleng. “Gini, teman-teman, hujan itu sesuatu yang harus disyukuri. Tidak boleh disalahkan. Kita memang tidak bisa menghentikan hujan. Tapi, hujan juga tidak akan pernah bisa menghentikan langkah kita.” Seperti biasa, Mas Rizky mengucapkan itu dengan sangat meyakinkan. “Kalian sudah lama tidak bermain hujan, Kan? Nah, ini saatnya kita Ngaostikan sekaligus hujan-hujan.”

Setelah itu, acara resmi dibuka. Saya dan Mas Rizky memutuskan membuka acara tersebut di tengah rintik hujan. Saya dan Mas Rizky ndepipis di bawah genteng rumah Valen. Sedangkan para penampil dan penonton ndepipis di teras rumah lainnya untuk melindungi diri dari hujan. Tanah lapang yang sebelumnya digadang-gadang sebagai ruang audiens, hanya menyisakan terpal kedinginan dengan genangan air hujan di atasnya.

Namun, acara tetap kami lanjutkan. Kami  tetap berbicara layaknya masih ada penonton di depan kami. Meski di depan kami hanya ada terpal dan rintik hujan saja. Tiba-tiba Okky ke tengah lapangan sambil membawa lap. Tak disangka, pemuda itu hujan-hujan dan mengelapi terpal yang ada di depan kami. Seluruh penonton pun mengikuti apa yang Okky lakukan. Acara terus berlanjut hingga hujan pun menyerah pada keteguhan hati kami.

Penampilan pertama adalah pembacaan puisi Memeluk Rindu karya Tulisan Linda. Setelahnya disusul dengan penampilan Mas Ilham, Mas Tulus, Mas Ikal, sampai Om Danial. Om Danial bahkan mnyanyikan lagu TTG yang berjudul Hujan. Tidakkah menurut kalian itu syahdu sekali?

Sebagai penutup, musikalisasi puisi yang digarap oleh Mas Oky berhasil membuat baper seluruh penonton. Ditambah kolaborasi Dinal dan Tika yang menyatu, maka lengkap sudah apa yang kami inginkan. Berkesan dan menyenangkan. Sayangnya, Mas Wisnu, yang tempo hari turut hadir dalam pertemuan dan menyumbangkan ide-ide briliannya, tidak dapat hadir.

“Ruhku hadir di setiap bulir hujan.” Kata Mas Wisnu melalui pesan WA, “hujan itu kiriman dari Kalimantan. Satu tetes air mata dari Kalimantan, berdampak guyuran hujan di Jawa Timur.”

Saya sempat berfikir, serindu itukah Mas Wisnu pada Ngaostik hingga dia membiarkan tubuhnya menyublim menjadi awan mendung yang kemudian mencair, meneteskan airmata hujan. Atau memang ada sosok yang sedang dia rindukan? Semoga seluruh partikel udara mendoakan apa yang dia inginkan.

Di akhir acara, kami tertawa terbahak-bahak penuh kelegaan. Beginilah seharusnya, semua harus senang dalam kondisi apapun. Hingga berakhirnya acara, kami masih diliputi perasaan bahagia, yang kemudian kubungkus dan kubawa pulang bersama gemerlap bintang yang terlihat malu-malu menatap kami semua.

 

SHARE
Alumni FISIP Unair Surabaya yang tertarik di dunia jurnalistik. Pernah jadi sekretaris Persma Unair. Pemangku adat sekaligus juru bicara Ngaostik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here