Jepang

0
312
Suasana kampung Samin di Dusun Jepang/Sumber: Istimewa

Kampung Selalu Punya Cerita

Gangkecil menghadirkan tulisan-tulisan ringan tentang kampung, mengajak pembaca untuk menikmati sudut-sudut kampung masa lampau maupun masa kini. Karena Kampung Selalu Punya Cerita

__________2

Tentu saja yang dimaksud dari judul tulisan ini bukan nama negara yang pernah menjajah Tanah Air. Bukan. Tapi….ah mari langsung saja.

Begini. Jelang Tahun Ajaran Baru 1990, saya diajak bapak ke Kota Reog Ponorogo. Tujuannya mengunjungi pesantren. Selepas SMP saya rencananya masuk ke pondok modern. Namun gagal. Pinjam truk perusahaan kayu tempat bapak bekerja sebagai mandor. Untuk sopirnya nyambat tetangga yang memang berprofesi sebagai sopir truk.

Kami bertiga melewati jalan raya Padangan menuju Ngawi. Saya membayangkan naik di atas kepala ular raksasa yang menyibak rerumputan dan pepohonan. Sesekali tampak ular lebih lebih gesit menyalip kami. Ada landak yang menyeberang jalan. Dan kawanan kerbau berjalan pelan. Kepala naga yang kami naiki menyusuri jalur umum di tengah-tengah semak belantara. Ya, adegan itulah yang tampak seandainya direkam dengan kamera kelas VGA rendah melalui pesawat tanpa awak dengan ketinggian 500 meter dari objek.

Dan adegan sebenarnya adalah truk kami enkel (Belanda) kuning muda merek Mitsubishi naik turun berkelak-kelok mengikuti jalannya. Senang di hati rasanya. Hutan masih lebat. Sinar dluha malu-malu mengintip celah-celah daun jati dan trembesi.

Berhenti ngaso sebentara di TPK Watujago. Buka bontotan nasi dengan lauk sambel dan telur dadar. Watujago masuk Desa Meduri Kecamatan Margomulyo. Masih daerah Bojonegoro, namun ke alun-alun Ngawi tinggal 15 kilometeran. Dibandingkan ke alun-alun Bojonegoro harus menempuh jarak 60 kilometer. Di sini agak ramai dan lebih terang.

“Di kedalaman hutan sana ada sebuah dusun.” Sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah barat daya, Lek Hari, sopir kami mulai bercerita. “Konon, bilamana ada seorang bayi dilahirkan di dusun itu, maka akan dinamai dengan tempat atau suasana brojol nya.’’ Penduduknya disebut Wong Samin, tak ada yang mau membayar pajak. Punya tradisi dampulan. Ada pula prinsip mereka duwekku-duwekmu, duwekmu-duwekku.

“Maksudnya apa lek?” tanyaku gak paham. Itu cerita yang kudengar dulu.

***

Awal 2005 hingga akhir 2007 (saya bekerja di wilayah Margomulyo) hutan masih lebat dengan pohonnya. Tapi sebatas di kanan-kiri jalan. Jika lebih masuk sekira lima puluh meter, hanya terlihat tunggak-tunggaknya saja. Sepertinya setiap jalan yang masuk wilayah hutan kompak. Jalan kecamatan, poros kabupaten, lebih-lebih jalan nasional seperti Padangan-Ngawi. Semua jalan-jalan itu sepakat menjaga pohon-pohon yang ada di pinggir kanan-kirinya. Jalanan itu seakan berkata: ‘’tebang saja, kakek buyut kalian ikut menanamnya. Tapi kanan kiriku jangan ditebang habis.”

Hidup di wilayah ini 24 jam selama 2 tahun lebih sedikit, sedikit banyak saya tahu desah nafas penduduknya. Kerjaku sesekali mengunjungi keenam desanya. Melayani masyarakat. Dari pekerjaanku ini lalu saya beberapa kali bertandang ke dusun yang pernah diceritakan oleh Lek Hari dulu. Namanya Dusun Jepang.

Jika kamu ingin bertemu dan ngobrol dengan Wong Samin, bisa datang dengan rute dari pendopo kecamatan Margomulyo, jalan 300 meter ke arah Ngawi (selatan) lalu belok kanan, masuk jalan desa. Lebih masuk lagi sampai persimpangan jalan. Belok kiri menuju Desa Kalangan, kalau lurus ke Dusun Jepang. Saat ini lebih mudah di pertigaan tersebut telah dibangun monumen berupa patung Samin Surosentiko setengah badan oleh Bupati Anna Mu’awanah.

Dari pertigaan ini hingga ke ndalem Mbah Harjo Kardi hanya tiga kilometer. Dengan bersepeda motor tanpa helm atau sepeda pancal akan merasakan sejuknya udara pedesaan. Bagaikan sirkuit versi pendek dari trac Padangan-Ngawi. Naik turun belok kiri kanan. Dan bila ingin lebih seru sesekali keluar jalur aspal mengikuti jejak penggembala atau perambah hutan. Memacu kendaraan di sela-sela pohon jati. Tentu pada saat musim kemarau.

Mbah Harjo Kardi adalah sesepuh dusun tersebut yang juga masih kuat memegang ajaran Ki Samin Surosentiko yakni sedulur sikep. Sebenarnya di dusun ini tidak beda jauh dengan dusun-dusun lain di pinggir hutan. Mayoritas bercocok tanam di persawahan dan tegalan milik sendiri atau lahan hutan. Sambil merawat hewan ternak seperti sapi dan kambing. Beberapa berprofesi sebagai pedagang, perangkat desa, pegawai negeri, dan guru.

Bedanya dengan dusun lain adalah Jepang sangat komunal dan punya tokoh sentral yang menjadi anutan mayoritas. Anak-anak kelahiran Jepang tahun 80an telah mengenyam pendidikan dari yang hanya lulusan SD, lulusan SMP, bahkan sudah tak terhitung dengan jari yang sarjana.

Di dusun Jepang sudah lama ada SD Inpres Pak Harto, masjid, beberapa mushola, dan belum genap lima tahun ada PAUD dan Raudhatul Athfal (TK) didirikan oleh putra asli wong samin, M. Miran QR. Pak Miran bahkan lulusan Pesantren Pabelan Magelang dan juga sudah menempuh pendidikan pasca sarjana. Beliau saat ini menjabat Kepala KUA Kecamatan Kasiman Bojonegoro. Sedang putra mbah Harjo pun berprofesi sebagai ASN di kecamatan.

“Sebenarnya di Dusun Jepang sudah ndak ada lagi Wong Samin, saat ini semua hanyalah eks samin,” kata Pak Miran suatu hari pernah mengatakan pada saya.

Tidak mau bayar pajak itu hanya zaman kolonial Belanda. Dampulan atau ambruk mendekati di luar perkawinan sudah hilang. Ambruk itu seorang lelaki calon suami menginap di rumah calon isterinya beberapa hari. Dampulan hidup bersama tanpa akad perkawinan yang sah. Itu semua stereotif yang dilekatkan ke sebuah komunitas. Padahal perilaku-perilaku seperti itu juga ada di sebagian masyarakat pinggiran bahkan masyarakat terdidik. Kebiasaan-kebiasaan itu sudah tidak ada lagi.

SHARE
Penulis beberapa kali menerjemahkan sastra Arab, dan suka nguliner dan jalan-jalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here