Kalau Kau Bukan Anak Raja, Jadilah Penulis

0
261

Menjadi penulis adalah proses panjang. Bukan usaha satu dua hari saja. Perlu ketekunan dan tekad yang kuat. Tapi, bukan berarti menjadi penulis hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu saja. Siapapun bisa menjadi penulis dan menerbitkan buku.

Wahyu Rizkiawan adalah salah satu penulis Bojonegoro yang saat kecil tak pernah bermimpi menjadi penulis. Kehidupan keluarganya biasa-biasa saja dan juga bukan dari kalangan penulis. Namun, ia membuktikan bisa menulis beberapa buku di usia 31 tahun. Ia juga sangat produktif menulis berbagai jenis tulisan, yakni esai, cerpen dan opini.

“Saya tak pernah mengira bisa menulis atau menjadi penulis. Saya hanya suka membaca,” kata Wahyu Rizkiawan, Minggu (19/7/2020). Berikut petikan wawancara lengkap dengan penulis Gurat Cerita Orang-orang Biasa (2019) ini.

T: Bagaimana cerita Anda memulai menulis?

J: Proses menulis yang saya tekuni saat ini, sangat dipengaruhi kebiasaan membaca di masa kecil dulu. Di rumah, orang tua saya hobi sekali mengumpulkan buku-buku di almari. Buku-buku itu yang pada akhirnya mengisi pengalaman membaca saya, saat masih kecil.

Meski tak terlalu hobi membaca dan hanya beraktivitas sebagai guru di dunia pendidikan non formal, ibu dan bapak sangat mendorong anak-anak mereka untuk senang membaca. Hal itu membuat saya menemui banyak buku di rumah. Kebiasaan saya membaca buku, terbentuk dari sana.

Bapak yang sangat mengidolakan Zaid bin Tsabit (penulis Wahyu Al Qur’an), pada akhirnya memberi nama anak pertamanya (saya), Wahyu. Dengan harapan kelak saya suka menulis layaknya Zaid bin Tsabit. Mungkin benar jika nama adalah doa. Dari sana, entah bagaimana, saya akhirnya suka menulis.

T: Apa menjadi penulis memang cita-cita sejak kecil?

J: Saya tak pernah mengira bisa menulis atau menjadi penulis. Saya hanya suka membaca. Dan belum pernah kepikiran untuk bisa menulis. Tapi karena Bapak pernah berharap punya anak yang suka menulis, pada akhirnya hidup mengarahkan saya mengalami proses menyukai menulis dan bahkan saya ditakdirkan menjadi penulis.

Saya mulai belajar menulis secara serius saat awal-awal masa kuliah. Gara-garanya dipantik sebuah kutipan dari Imam Al- Ghazali: Kalau kau bukan anak raja, dan bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis. Sejak saat itu, saya belajar menulis.

Saya meyakini bahwa selain takdir, menulis sangat dipengaruhi lingkungan. Saat masih kecil, saya sering melihat buku di rumah. Sering melihat orang membaca. Lalu, saat dewasa, saya bertemu dengan beberapa penulis lokal. Bertemu dengan komunitas menulis. Hal itu, diakui atau tidak, membuat saya akhirnya suka menulis.

T: Bagaimana cara menjaga energi menulis?

J: Saya menulis karena saya pernah dan masih membaca. Tiap kali usai membaca, selalu ada yang ingin saya tulis. Proses kreatif yang saya alami, kebanyakan sekadar transformasi informasi: menerima informasi, mengendapkan, mengolah, dan membuat informasi baru dari sudut pandang saya sendiri.

Membaca, dalam hal ini tak sekadar membaca teks. Tapi juga membaca suasana. Membaca keadaan. Atau dalam bahasa pesantren, biasa diistilahkan sebagai proses membaca ayat kauliyah dan ayat kauniyah. Dari proses pembacaan itu, biasanya saya bisa langsung menulis.

T: Apa usai membaca selalu menulis? Apa rahasia agar konsisten menulis?

J: Konsistensi menulis saya sangat dipengaruhi proses membaca. Sesungguhnya, ini dialami setiap orang. Coba bayangkan: hampir setiap hari, mulai bangun tidur hingga terlelap lagi, setiap orang pasti selalu mengalami proses membaca. Entah sekadar membaca status WA atau saat melintasi sebuah jalan, tak sengaja membaca reklame kecil di jalanan. Dari sana, ada informasi masuk ke dalam kepala.

Dan dari informasi yang didapat itu, bisa dikelola sebagai sebuah tulisan. Entah tulisan yang mempertebal informasi itu, atau justru sebuah tulisan yang berseberangan dari informasi yang didapat tadi. Tulisan, kerap kali saya ibaratkan sebagai cermin atas informasi yang didapat. Karena setiap hari kita sering mendapat informasi, tiap hari menulis pada akhirnya menjadi sebuah keniscayaan.

T: Bagaimana Anda memaknai aktivitas menulis?

J: Menulis, menurut saya, seperti berbicara atau bercerita atau kadang-kadang menggerutu pada seseorang. Ia hadir karena memang ada yang pernah atau sedang masuk di kepala atau hati kita. Sehingga tinggal mengeluarkan (dengan medium tulisan).

Menulis kadang seperti gelas air yang disiramkan. Ketika sebuah gelas terisi air, kita bisa mengeluarkan air itu dengan mudah. Mengisi air kedalam gelas adalah membaca, sedang menyiram (mengeluarkan) air dari gelas adalah proses menulis. Untuk bisa menyiram air dari dalam gelas, kita harus sering mengisinya. Biar gelas tidak kosong.

T: Sebagai penulis tentu Anda mengamati juga dunia literasi Bojonegoro. Bagaimana menurut Anda?

J: Dunia literasi atau penulisan di Bojonegoro sesungguhnya sudah sangat bagus. Ini dibuktikan dari banyak hal. Misal, banyak penulis hebat dan produktif di Bojonegoro. Selain itu, banyak pula komunitas-komunitas yang berbasis dunia tulis-menulis di Bojonegro. Banyak penulis lintas usia. Dari remaja, dewasa, hingga sudah tua. Semua ada di Bojonegoro.

Kalaupun ada yang kurang, hanya jumlah toko buku yang masih sedikit. Lalu geliat pasar buku juga sedikit. Kalaupun ada, itu sekadar upaya-upaya indie dengan segmen kecil dari para pegiat literasi. Belum sampai pada upaya yang besar. Tapi bagi saya, setidaknya itu sudah cukup bagus.

SHARE
Penulis sedang mencoba menjadi pembaca yang baik. Tidak suka kopi tapi suka bercerita ngalor-ngidul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here