Ketika Mendidik Anak-anak di Tepian Bengawan Solo Bermakna Obat

0
369

Siapapun dan dimanapun bisa berbagi ilmu. Tak harus menunggu berprofesi sebagai guru baru bisa mengalirkan ilmu kepada anak didik. Profesi apapun tak kan menghalangi aktivitas mendidik jika ada kemauan di hati. Apalagi jika makna mendidik tak sekedar berbagi ilmu tapi juga perang melawan ketidakadilan, perang melawan kebodohan, dan yang lebih utama mendidik adalah obat.

Lika liku bergaul dan mendidik anak-anak dilakoni Muhammad Roqib sejak 1999 hingga kini. Banyak cerita yang membekas dan mutiara yang diperoleh dari mendidik. Tentu jauh dari urusan uang.

Roqib, kini mendirikan yayasan bernama Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB) di tempat tinggalnya di Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Dia membangun dari nol bersama sang istri Frensi Agustina yang kemudian berkembang. Kini ratusan anak belajar di YKIB dengan melibatkan 12 guru dari bermacam latar pendidikan.

Tapi, semua tak sim salabim. Ada proses panjang mengiringinya. Roqib lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Semasa kuliah tahun 1999 hingga 2004, malam-malam ia pergi ke bantaran Kali Brantas bertemu anak-anak yang tinggal di perkampungan kumuh Jodipan. Kampung tersebut kini dikenal sebagai Kampung Warna Warni.

“Saya berangkat naik angkota, turun di Stasiun Malang, terus jalan kaki menyusuri kampung kampung itu untuk mengajar anak anak di perkampungan kumuh. Rata rata mereka anak putus sekolah, anak jalanan, penjual koran, pengamen. Jadi, waktu saya habis untuk bergumul dengan mereka,” ceritanya kepada Gangkecil, Senin (25/5/2020).

Ia bersama beberapa kawan yang satu visi kemudian membentuk Ikatan Mahasiswa Peduli Anak dan Sosial (IMPAS). Jabatan ketua dipercayakan kepadanya. Anggota IMPAS lintas fakultas, tidak hanya dari Hukum saja, pun juga tak hanya dari Unibraw.

Dari kegembiraan bersama anak-anak miskin di tepi Kali Brantas itu kemudian membuat Roqib makin bergumul dengan buku-buku pendidikan alternatif, belajar tentang konsep pendidikan Paulo Freire, konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara, konsep pendidikan pesantren Kiai Hasyim Asy’ari, hingga konsep pendidikan pesantren modern ala KH Ahmad Dahlan.

“Persoalan sosial di masyarakat perkampungan miskin kota di bantaran Kali Brantas itu sangat kompleks, tetapi saya dan teman teman terus bersemangat mengajar di sana dan berharap bisa memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan,” tuturnya.

Ia merasa di tengah masyarakatlah ia menimba banyak ilmu. Di tengah masyarakatlah ia merasai ketimpangan, ketidakadilan dan kemiskinan yang sesungguhnya. Jalan pikiran itu pula yang mengantarkannya memilih jurnalis, dan bukan jaksa, hakim, pengacara, notaris, dan lainnya saat lulus kuliah. Baginya jurnalis bisa menyuarakan kesulitan yang dihadapi masyarakat. Sepuluh tahun lebih, ia menggeluti jurnalistik.

Tapi, dunia pendidikan kembali memanggil nuraninya saat ia tinggal di tepi bengawan Solo di Purwosari. Hingga akhirnya tahun 2011, beberapa teman mendirikan komunitas Kampung Sinau di Purwosari. Komunitas itu kemudian berkembang menjadi yayasan tahun 2015.

Bagaimana awal pendidikan Yayasan Kampung Ilmu?

Saat itu, kami membuka perpustakaan untuk masyarakat sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo dan membuka kelas bimbingan belajar. Awalnya, hanya 5 siswa yang belajar, tetapi lambat laun terus bertambah dan hingga kini siswanya 150 siswa. Siswa yang lulus belajar sampai sekarang mencapai 700 siswa dari masyarakat sekitar Purwosari, Kasiman, Padangan, Tambakrejo, Gayam, dan Kalitidu. Sekarang, kami juga membuka cabang bimbel di Kalitidu.

Alhamdulillah, bimbingan belajar terus bertambah dan berkembang. Semua berkat kerja keras semua tim guru YKIB. Saat ini ada 12 guru, yang semuanya lulusan S1 dan S2, yang tergabung di tim guru YKIB. Sebagian di antara siswa itu adalah anak yatim dan piatu, anak anak dari keluarga kurang mampu. YKIB sering mengadakan berbagai kegiatan seperti pekan buku, pelatihan guru, seminar, kuliah umum, kajian keilmuan, dan membantu meringankan dampak pandemi corona dengan membantu pihak desa.

Seberapa besar peran proses intelektual selama kuliah pada kegiatan sekarang?

Selama kuliah, saya bergumul dengan berbagai organisasi mahasiswa, organisasi masyarakat, dan juga organisasi buruh. Saya bersyukur bisa bersinggungan dengan banyak pemikiran, gagasan, dan dinamika organisasi mahasiswa dan organisasi masyarakat waktu di Malang. Ya, boleh dibilang, saya menyerap kuliah hukum itu hanya sekitar 50 persen dan selebihnya saya belajar di tengah tengah masyarakat.

Mungkin karena itulah, setelah lulus kuliah saya jadi jurnalis, karena lebih banyak terlibat langsung dengan persoalan persoalan di tengah masyarakat. Setelah jadi jurnalis dari tahun 2004-2018 di beberapa media, saya akhirnya kembali menggeluti dunia pendidikan, menjadi pedagog, mengakar dan tumbuh bersama masyarakat sekitar, menggunakan seluruh daya yang saya punyai, semua proses yang saya alami itu, belajar hukum, bejalar jurnalis, dan terlibat organisasi, itu pada akhirnya bermanfaat dan membantu mengembangkan lembaga Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro.

Apa titik balik yang membuat Anda begitu yakin dengan jalan hidup lewat pendidikan?

Ada titik balik dalam hidup saya yang mungkin mengubah jalan hidup. Ketika masih sebagai jurnalis di salah satu media, saya dan sejumlah jurnalis, diberhentikan secara sepihak dan mendadak. Tentu saja, itu membuat saya dan teman teman begitu sedih dan seolah kehilangan harapan dan masa depan. Rasanya juga getir.

Sebab, saya dan teman teman itu ibaratnya sudah mau diterjunkan di daerah daerah liputan yang berat, tetapi ketika tidak lagi dibutuhkan, dibuang begitu saja. Ini dirasakan dan dialami semua jurnalis. Ini membuat saya berpikir, begitu rentannya profesi itu di tangan pengusaha media. Setiap saat bisa dibuang seperti ampas kalau tak lagi dibutuhkan.

Saya juga pernah merasakan masa sulit ketika diuji dengan sakit pencernaan yang cukup berat, keluar masuk rumah sakit, dan dibawa ke rumah sakit Surabaya. Pola hidup yang tidak teratur sejak mahasiswa, pola makan tidak teratur saat jadi jurnalis, menyebabkan saya sakit pencernaan.

Saya bersyukur ada banyak teman yang menyemangati, istri yang selalu tabah menemani, dan keluarga yang menyayangi, hingga akhirnya bisa melewati masa masa sulit itu. Dari situ saya mengambil hikmah, pada saat kondisi sulit, yang dibutuhkan adalah ketulusan dan orang orang dekat.

Perlahan saya berangsur pulih dan melanjutkan mengajar dan mendidik anak anak. Dengan mengajar, mendidik, seolah saya mendapatkan energi yang luar biasa dari anak anak itu. Sebetulnya bukan mereka yang butuh saya, tetapi saya yang butuh mereka, karena ketika kita mengajar atau bercerita dengan mereka, itu seperti obat. Saya juga terus berusaha menanamkan dalam diri bahwa apa yang dilakukan ini adalah amal jariyah, yang bisa menjadi penolong saya kelak di akhirat.

***

Muhammad Roqib pernah menulis buku ‘Orang-orang Mojodelik’ tahun 2012. Isinya tentang cerita-cerita masyarakat sekitar proyek migas Blok Cepu. Manusia-manusia biasa (wong cilik) dipotretnya dengan perspektif humanis. Tentang cara pikirnya, tentang kebiasaannya, dan tentang kehidupannya.

Tak jauh dari yayasannya berada, ada tambang minyak dan gas bumi besar yang dikelola Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL). Baginya, merujuk pada Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945 disebutkan, bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat. Jadi, konsepnya dikuasai negara, bukan pemerintah. Unsur negara ada rakyat, pemerintah, dan wilayah yang berdaulat.

“Jadi, minyak dan gas itu sebenarnya dikuasai oleh rakyat dan harus digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat. Nah, rakyat menyerahkan mandat soal tata kelola minyak dan gas itu kepada pemerintah dan pemerintah menunjuk operator migas,” tuturnya.

Keberadaan minyak dan gas itu harus memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat, dan memajukan perekonomian masyarakat. YKIB beberapa kali bekerjasama dengan perusahaan migas, terutama dalam bidang pendidikan. Tujuannya tetap untuk mencerdaskan masyarakat.

Kini, ia melanjutkan studi magister hukum Universitas Airlangga, Surabaya. Ia hendak menebus belajar ilmu hukum yang keteteran saat S1. Ia merasa ada perbedaan. “Kalau di UB (Brawijaya) itu kuliah hukumnya cenderung empiris, tetapi hukum di Unair cenderung normatif. Tetapi, saya bisa belajar dari keduanya dan bisa membandingkan keduanya,” terangnya.

Tapi, ngomong-ngomong bagaimana menyalakan semangat terus menerus? Dan inilah jawabannya sebagai penutup obrolannya dengan Gangkecil.

“Yang diperlukan untuk menjaga agar tetap semangat adalah nilai yang diperjuangkan dan ada teman untuk sama sama berjuang. YKIB berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi kalau kita lagi tidak bersemangat kemudian ada teman lain yang semangat, kita jadi ikut bersemangat. Selain itu, organisasi itu dikelola dengan sistem, teamwork, dan program yang jelas, sehingga napas perjuangan bisa panjang dan berkelanjutan.”

Sukses selalu Muhammad Roqib. Sukses selalu YKIB.

 

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here