Ketika Sawah Cuma Jadi Latar Foto Preweeding

0
459
Sumber: @vickyshu

Kenapa anak-anak muda kini tak suka menenteng cangkul dan pergi ke sawah? Ada apa dengan sawah kita? Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam ajang diskusi. Dan tentu saja, sulit menjawabnya. Nyatanya, pertanyaan itu kemudian seakan menemukan jawabnya dengan banyaknya foto-foto prewedding berlatar persawahan

Ya. Itu kesimpulannya. Bagi sebagian besar anak muda yang millenial, sawah adalah landscape yang indah, lukisan alam yang tak ada duanya. Dengan membawa gadget tercanggih di urusan foto, mereka akan menyusuri pematang, menyibak lautan padi, dan….klik. Tawa riang mengembang.

Semburat merah dari ufuk timur, berpadu dengan luasnya sawah juga menjadikan pagi makin terasa indah. Sangat cocok menghasilkan foto yang mantul. Jadi, sayang jika semua itu dilewatkan begitu saja. Dan klik. Tawa riang mengembang.

Vicky Shu, seorang artis yang punya banyak penggemar, pada 17 September 2017 melakukan prewedding di tengah sawah (seperti di foto atas). Berada di tengah sawah (mungkin) membuatnya berpikir sangat bijak dan menulis:

“Buat saya kesederhanaan membuat saya berpikir lebih dalam atas makna dari kehidupan. Saya pernah membaca sebuah quotes yang sangat berkesan berbunyi seperti ini, ” Menjadi kaya dan menjadi sederhana adalah dua hal yang berbeda. karena anda bisa menjadi orang paling kaya sekaligus menjadi orang paling sederhana. ”

Lalu, Vicky Shu menulis kalimat penutup: “Bagi kalian apa sih makna kesederhanaan?” Anda boleh berkomentar sinis: tahu apa sih Vicky Shu tentang kesederhanaan ketika ia hanya sekali itu saja ke sawah? Atau anda akan berkomentar sebaliknya: sawah memang selalu menghadirkan kebijaksanaan bagi siapapun.

Oke deh, terserah anda menempatkan sawah pada level mana saja. Tapi, mari kita melihat data sejenak. Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Sensus Pertanian 2013. Hasilnya, dari total 26.135.469 petani, jumlah terbanyak kelompok usia 45-54 tahun, yakni 7.325.544 orang.  Untuk kelompok 25-35 jumlahnya hanya 3.129.644 orang. Sedang kelompok usia 15-24 tahun berjumlah hanya 229.943 orang. Lebih lengkap lagi, ternyata, 70 persen petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman) rata-rata berada di usia di atas 50 tahun.

Data di atas menunjukkan bahwa kita sedang krisis petani muda, yang ternyata itu tak hanya dialami Indonesia. Beberapa negara lain juga punya masalah rumah tangga yang sama.

Sri Hery Susilowati dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian mempublikasikan hasil studinya tentang tema ini. Hasil studinya berjudul “Fenomena Penuaan Petani Dan Berkurangnya Tenaga Kerja Muda

Serta Implikasinya Bagi Kebijakan Pembangunan Pertanian” dan dipublikasikan di Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1, Juli 2016. Menurut dia, penuaan petani adalah masalah global. Sejumlah negara mengalami krisis sama, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Uni Eropa, Thailand, Vietnam, dan juga Korea.

Penyebabnya sangat kompleks. Tidak cukup dengan satu jawaban. Salah satu penyebab adalah pertanian dipersepsikan hanya kegiatan di sawah, seperti mencangkul, tandur, mengolah tanah, dan semua yang berhubungan dengan produksi di sawah. Padahal, pertanian bisa bermakna pembibitan, pemupukan, kegiatan ekonomi pertanian, dan lainnya.

Mengutip pendapat Wang (2014), sektor pertanian dicirikan (secara keliru) dengan 3 D, yaitu dirty, dangerous, and difficult. Tentu saja, dengan persepsi seperti itu, tidak akan mudah untuk menarik tenaga kerja muda ke sektor pertanian. Sementara menurut Suyanto (2016), penyebab keengganan generasi muda bekerja di sektor pertanian erat kaitannya dengan identitas. Petani di era revolusi 4.0 ini, bagi sebagian anak muda bukan pilihan identitas yang membanggakan. Berbeda dari identitas Youtuber, profesional muda, atau bekerja kantoran.

Tak mudah mengubah persepsi tersebut. Akan tetapi krisis petani muda perlu terpecahkan. Negara harus berperan aktif dalam urusan ini. Sehingga politik pertanian menjadi sangat penting. Politik pertanian bukan berarti petani masuk ke ranah politik, akan tetapi kebijakan-kebijakan pemerintah di sektor pertanian harus benar-benar untuk petani.

Ada sekian banyak alternatif solusi yang ditelurkan para ahli, diantaranya perlunya re-branding, insentif, teknologi pertanian, institusi sosial-ekonomi petani, dan lainnya. Tentu ini tidak mudah. Oleh sebab itu, kita perlu memberi penghargaan yang setinggi-tingginya pada generasi muda yang bergerak di bidang pertanian.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here