Keunikan Dakwah Sunan Kalijaga (Bunga-Bunga dan Kemenyan)  

0
518

“Saya tidak mengerti, mengapa dimas Sunan Kalijogo menggunakan ini? Apa ini ajaran Islam?!”, protes Sunan Giri ketika delapan Wali sedang berkumpul.

“Saya pun tidak mengerti, mengapa Kanjeng Sunan Giri baru mempersoalkannya sekarang? Justru pada saat memperingati seratus hari wafatnya Kanjeng Sunan Ampel. Kenapa tidak dulu-dulu?”, tanya balik Sunan kalijaga.

“Yah, karena baru sekarang ini kita berkumpul, tanpa ada orang lain di antara kita. Kenapa dimas menggunakan kemenyan, bunga-bungaan, dan lain-lain ini?”

“Bukankah Rosul menganjurkan agar kita selalu rapi, bersih, dan menggunakan wangi-wangian?”

“Setiap sholat Jumat pun kita dianjurkan menggunakan wangi-wangian. Apakah sholat Jumat itu bukan ibadah?” tanya Sunan Gunung Jati bermaksud sependapat dengan Sunan Kalijaga.

“Tapi Sunan Kali membakarnya saat peringatan akan dimulai. Saat membaca doa,” potong Sunan Kudus yang lebih sependapat dengan Sunan Giri.

“Sholat Jumat itu bukan hanya berdoa. Tapi juga menghadap Allah.” tegas Sunan Gunung Jati.

“Dulu, kemenyan itu digunakan menyampaikan doa untuk nenek moyang lewat asapnya.” terang Sunan Giri berusaha menjelaskan asal-usul kemenyan.

“Itu dulu. Tapi sekarang cukup dengan ini”, jawab Sunan Kalijaga sambil menunjuk hatinya.

“Yang pasti, kemenyan itu tidak boleh.” tegas Sunan Giri.

“Adakah tertulis jelas nama kemenyan itu? Adakah penjelasan atau kejelasan mengenai jenis, bentuk, atau nama dari wangi-wangian itu?”, tanya balik Sunan Kalijaga, yang membuat wali-wali lainnya terdiam saling pandang.

“Kalau orang Jawa menganggap kemenyan, setangki, bunga-bungaan itu wangi, apa salahnya kalau mereka menggunakannya?”, tambah Sunan Kalijaga.

“Tapi Sunan Kali kan bisa melarangnya?” sergah Sunan Kudus.

“Untuk apa melarangnya? Untuk apa, kalau cuma membuat mereka tersinggung dan kemudian kita tidak berhasil mengislamkan mereka?”, jawab Sunan Kalijaga dengan tetap tenang dan mantap.

“Memang Sunan Kali-lah yang selalu lain cara pendekatannya kepada rakyat”, tutur Sunan Giri mulai menerima penjelasan Sunan Kalijaga.

“Tidak ada cara lain Kanjeng Sunan Giri. Selain mendekatkan hatinya, sentuh perasaannya, sesuaikan dengan kebiasaannya. Yang kemudian setelah mereka merasa cocok, sesuai, lalu kita ubah sedikit demi sedikit. Bukankah kesemuanya itu telah kita musyawarahkan terlebih dulu?” terang Sunan Kalijaga.

“Tapi ingat, janganlah merendahkan martabat Sunan, Wali, dengan berpakaian mulung seperti itu terus menerus!”, potong Sunan Kudus memprotes cara berpakaian Sunan Kalijaga yang selalu berpakaian sebagaimana masyarakat kala itu berpakaian, tidak seperti Wali lainnya yang berbusana ala Arab.

Suasana semakin tegang. Sunan Kalijaga menghela nafas dengan tenang.

“Kanjeng Sunan Kudus, kita punya budaya sendiri. Gunakanlah itu. Dengan begini saya bisa mendekatkan diri, bergaul dengan mereka. Tidak ada jarak antara kita dengan mereka. Ada sambung rasa. Lagi pula Iman Islam seseorang bukan terletak di pakaian. Tapi di sini,” jelas Sunan Kalijaga menunjuk dada kirinya, “yang penting bersih, aurat tertutup.” tambahnya.

Penjelasan Sunan Kalijaga membuat Sunan Kudus tersadar. Tangan Sunan Kudus spontan meraih tasbihnya. Suasana menjadi hening mencekam.

“Hari ini syetan-syetan sedang bertengger di dada sedulur-sedulur. Lupakah firman Allah? Kalau ada perselisihan diantara kita umat Muslim, kembalilah pada Al-Quran. Kenapa sedulur-sedulur lupa? Kenapa?!” tutur Sunan Bonang berusaha mengingatkan para wali.

“Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Mestinya hal ini tidak boleh terjadi. Apalagi Kanjeng Sunan sebagai pimpinan kami di sini.”

“Kita harus ingat akan bahaya Islam yang berpusat di Pengging, yang perkembangannya begitu cepat, penyebarannya dan cara mengajarnya yang berbeda dengan kita. Apakah kita tidak merasa curiga sama sekali terhadap Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang itu?”

“Maaf, Kanjeng Sunan Bonang. Tidaklah baik berprasangka buruk terhadap orang. Itu pun termasuk dihinggapi syetan.” Sunan Kalijaga mengingatkan.

“Astaghfirullahal ‘azhim,” terhenyak dan tersadarlah Sunan Bonang.

“Soal Syekh Siti Jenar, saya telah menyaksikan anak buahnya berceramah”, ungkap Sunan Giri tertuju kepada Sunan Kalijaga.

“Anak buahnya bukan berarti Syekh Siti Jenar”.

“Apakah Sunan Kali benarkan cara Syekh Siti Jenar yang musyrik itu? Bid’ah? Murtad?” serbu Sunan Kudus menambahi pernyataan Sunan Giri.

“Wallahu a’lam. Saya belum pernah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri. Menurut Imam Ghazali, melihat lebih baik daripada mendengar.” jelas Sunan Kalijaga mengutip Imam Ghazali terkait penyampaian kabar.

“Saya rasa, benar Kanjeng Sunan Bonang. Hari ini syetan-syetan sedang bertengger di dada kita. Maafkan saya, Kanjeng.” kata Sunan Giri yang kemudian memeluk Sunan Bonang.

Para Wali pun berdiri, saling bermaafan dan berpelukan.

—oOo—

Dari Film:
Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar (1985)
00:59:00 s/d 01:06:20

 

SHARE
Pemerhati psikologi pendidikan, kini tinggal di Kota Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here