KH Cholil Baureno Sang Kiai Pejuang, Ulama Besar Asal Bojonegoro

0
532
KH Kholil/Sumber: Dokumen Keluarga

Prof. Dr. Agus Aris Munandar, M. Hum pakar arkeologi berpendapat bahwa menafsirkan dan memahami sejarah itu juga harus memahami alam pikir orang pada zaman dulu saat itu, bukan memahami atau menafsiri sejarah seperti alam pikir orang-orang sekarang. Pendapat ini saya pikir sesuai konteksnya, yakni konteks sejarah agar lebih tepat memahami kondisi zaman itu dan mengkontruksikan dengan lebih tepat agar terbaca lebih akurat untuk jaman ini.   

Begitu pun adab di kalangan pesantren dan alam pikir pesantren selepas fatwa resolusi jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari para santri berperang melawan kolonial dengan semangat jihad.

Usai kemenangan pulang dan menjalankan aktifitas seperti biasa, seperti semula. “Jihad” yang mereka lakukan sebagai amal yang harus diliputi keikhlasan, tak perlu diceritakan ke siapa-siapa biasa saja. Jika diceritakan akan mengurangi amal ibadah dan bertambahnya riya’.

Begitulah alam pikir pesantren hingga “sejarah” kalangan pesantren banyak terpendam dan mengalir secara sembunyi-sembunyi dalam sunyi. Apalagi ada ‘kekuatan’ yang berusaha menyingkirkan dalam catatan sejarah tentang peran para kiai. Hanya orang-orang tertentu saja yang menyimpannya dalam ingatan, seperti tradisi pesantren yang mempunyai kurikulum bertumpuk hafalan.

Ini adalah salah satunya. Kisah tokoh besar seorang Kiai besar asal Bojonegoro yang tenggelam dari catatan sejarah bangsa ini. Tokoh kiai yang masa mudanya terlibat langsung dalam perang kemerdekaan melawan kolonial Belanda, yang rumahnya dijadikan markas hizbullah dan gemblengan pasukan, pengisian kanuragan.

Tokoh kiai besar yang zaman mudanya kemana-mana saat perang selalu membawa keris Pudak Silumpet, keris yang berlobang tengahnya. Keris ini kabarnya masih disimpan oleh keturunanya tokoh kiai besar dari Bojonegoro timur.

Beliau berkawan baik dengan Presiden Soekarno. Bahkan berkat keahliannya diangkat menjadi tentara dengan pangkat terakhir letnan satu dan pernah menjabat Asisten Wedana. Tapi semua jabatan ditinggalkan karena memilih fokus mengurus pesantren dan dakwah.

Bukti dokumentasi kedekatan Presiden Soekarno dan Kiai besar ini masih tersimpan dengan baik. Kiai ini berceramah di mimbar masjid besar Bojonegoro dan Presiden Soekarno terlihat duduk di belakang sambil bersandar di tiang masjid.

Menurut cerita cucunya, Ahmad Kholil, mbahnya dulu menurut cerita juga pernah dikunjungi beberapa kali oleh Jendral Soedirman.

“Jendral Besar Soedirman?”

“Iya.”

“Apakah dulu Mbah ahli thoriqoh? Sebab Jendral Besar Soedirman ini salah satu mursyid thoriqah.”

“Bisa jadi, iya dan amalan-amalannya tak ada yang diijazahkan ke anak cucunya. Mbah adalah salah satu pelaku perobekan bendera di hotel Yamato.”

“Oh.. betulkah? Darimana sumbernya?

“Dari Gus Najih Maimun saat muktamar NU di Pasuruan, beberapa tahun lalu.”

Saya tercenung, dari beberapa bacaan tak menemukan nama beliau. Ini hal baru dan ini informasi sejarah baru sejarah paling heroik dan paling dikenang arek-arek Soerabaia. Sumber informasi sejarah ada di Sarang Jawa Tengah jika kelak bisa bertemu dengan beliaunya saya akan bertanya soal itu dan sumbernya dari mana.

Ini adalah tradisi keilmuan dalam pesantren, ingatan dan hafalan menjadi salah satu menu kurikulum. Seperti keilmuan dalam hadist bagaimana belajar soal sanad sebagai salah satu mengetahui sumber informasi akan hadist. Menafsir dan memahami sejarah itu sesuai dengan alam pikir saat itu, saat kejadian kurang lebih seperti diungkapkan pakar arkeologi Prof. Dr. Agus Aris Munandar, M. Hum.

Tapi yang pasti beliau adalah KH. Cholil bin Abddulloh Umar asal Desa Pasinan Baureno, Kabupaten Bojonegoro yang paling valid terdokumentasi dalam sebuah foto satu forum dengan Presiden Soekarno. KH. Cholil bin Abddulloh Umar berceramah di podium sementara Presiden Soekarno duduk bersandar di tiang masjid, bisa jadi sambil mendengarkan pidato sang kyai.

Salah satu putri KH. Cholil bin Abddulloh Umar sekarang menjadi Ketua PC Muslimat NU Bojonegoro, Ririn Muktamiroh.

Penulis bersama Ririn Muktamiroh salah satu putri KH Cholil
SHARE
Didik Wahyudi pernah menjadi jurnalis tv. Menulis novel berjudul 'Kembali ke Desa'. Kini tinggal di Bojonegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here