Kita Terjebak di Jaring ‘Pesan Kebencian’ yang Sama tapi Kita Selalu Merasa Diri Berbeda dari yang Lain

0
261
Sumber: Pixabay

Hari-hari Ramadan mendekat ke ujung bulan. Menuju ke ujung. Dan akan berganti awal syawal. Bulan Kemenangan.

Ramadan sepertinya tak mampu meredam caci maki, saling benci, dan saling berebut mendaku diri paling suci. Di sosmed, warna warni kebencian terus melimpah ruah serupa sampah-sampah yang terus dibuang berserakan, mengotori udara, air dan bumi.   

Tentu saja, ada sekian banyak penjelasan tentang melimpah ruahnya kebencian di negeri. Tentang penyebab, tentang pemicu, tentang banyak hal yang rasional maupun irasional. Semua tumpang tindih mengkristal menjadi adu kebencian.

Kita sedang berada di era ‘kuasa pesan’ di mana pesan dipaksa menciptakan ‘realitas-realitas’ untuk kemudian diyakini kebenarannya. Pesan-pesan itu bak air bah yang menerjang pendengaran kita, penglihatan kita, pemikiran kita, dan hati kita. Pesan damai dan pesan kebencian bercampur baur, tumpang tindih membentuk irisan-irisan yang seringkali sulit dijelaskan.

Orang menebar kebencian dengan cara menyodorkan pesan kebaikan. Orang mengirim pesan kasih sayang dengan menggiring kepada saling caci. Orang mengajarkan saling memafkan dengan pesan menyudutkan kelompok lain. Jenis pesan apa sebenarnya yang demikian? Saya tak bisa menjelaskan. Saya hanya merasakannya dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, dengan selalu berdoa semoga jaring kebencian ini segera bisa dihilangkan.

Saya ingin mengatakan, saya selalu ketakutan dengan kondisi macam ini. Tapi saya selalu mengatakan pada diri, apalah arti ketakutan ini. Saya cuma 1 dari 220 juta masyarakat Indonesia. Dan negeri ini pasti akan baik-baik saja. Lalu saya meyakini, pasti banyak orang yang merasakan serupa apa yang saya rasakan. Kita sedang digiring pada rasa saling benci yang tak berkesudahan.

Salah satu hal penting, sebagaimana saya singgung di atas, adalah betapa berkuasanya pesan. Pesan kebencian sungguh dasyat. Orang yang sedikit mengenyam pendidikan di dunia ilmu komunikasi, seperti saya, pasti mengetahui betapa dahsyat sebuah pesan mengubah dunia. Kekuatan pesan banyak dikaji dan memunculkan banyak teori. Dan bagi saya, saat ini pesan adalah inti komunikasi era sekarang. Pesan begitu berkuasa atas pandangan dan pikiran kita.   

Pesan-pesan kebencian itu merambat sedikit demi sedikit melewati grup-grup WA, fesbuk, twiter, dan media sosial lain. Pada awalnya kita akan bertanya ’siapa yang mengirim pesan? Kredibel nggak?” Tapi ketika pesan itu setiap hari datang menerjang, membabi buta, merasuk di komunitas-komunitas keluarga, kantor, pertemanan, hingga pemerintahan, lama kelamaan pertanyaan ‘pesan ini benar nggak ya?” sudah mulai hilang. Lama kelamaan kita dijajah oleh pesan-pesan kebencian yang membanjiri hidup kita.

Lalu apa yang hendak kita lakukan?

Kita kini sebenarnya sedang berada di jaring kebencian yang sama. Kita terjebak di dalamnya bersama-sama. Tapi kita selalu merasa berada di jaring yang berbeda. Kita masih sering merasa berada di dunia berbeda yang menunjuk diri suci dan menunjuk ‘the other’ sebagai yang jahat. Perasaan menjadi diri yang berbeda dengan yang lain hanya akan membuahkan ekslusivitas. Seyogyanya kita menyadari bahwa kita berada di bumi yang sama, negeri yang sama, dan menghirup udara yang sama.

Bulan Ramadan hampir usai. Dan kita masih berada di jaring kebencian yang sama. Sampai kapan? Entahlah. Tentu ada orang-orang yang menyukai kondisi semacam ini. Tapi yang patut direnungkan adalah kebencian tidak akan membuahkan hasil yang manis.

Sebenarnya kita sedang membutuhkan “forgivness communication”. Ya komunikasi pemaafan. Perlu banyak pesan-pesan pemaafan yang disebar dan kita terima, sebagaimana pesan kebencian yang terus menerjang dalam kehidupan sehari-hari. Kita memerlukan ‘komunikasi toleransi’ untuk merajut kembali kebersamaan. Ada banyak kesamaan dan banyak perbedaan. Tinggal kita melihat pada sisi mana.

Dengan memohon agar bisa diberi panjang umur untuk bisa menyelesaikan puasa ramadan tahun ini, dan semoga kita masih diberi anugerah berjumpa dengan Ramadan tahun depan. Dan yang tak kalah penting, semoga ada pesan-pesan pemaafan terus disebar. Mari kita berlindung dari pesan-pesan kebencian yang terus tumbuh subur.

Salam Damai Ramadan. Barokallah

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here