Kecemasan Kolektif dan Nasionalisme Kita

0
143

Kemenangan Indonesia atas Thailand pada final AFF U16 Championship dan sehari setelahnya disusul dengan kemenangan gemilang Timnas U-23 atas Taiwan pada laga perdana Asian Games 2018 menunjukkan bahwa ada hal lain selain masalah politik yang patut diperbincangkan khalayak ramai. Bukan hanya dibincangkan, tapi juga dibanggakan.

Jika tikai politik membosankan dan cenderung mengikis kecintaan masyarakat akan Indonesia, menjuarai gelaran sepakbola, bisa jadi menjadi alasan untuk mempersatu dan mempertebal kecintaan kita pada bangsa Indonesia.

Harus diakui, generasi muda saat ini krisis akan kebanggaan terhadap bangsa sendiri. Itu bisa dilihat dariĀ  kecintaan mereka pada hal-hal berbau luar negeri. Sebenarnya itu keniscayaan. Globalisasi mempertipis batas teritorial sebuah negara. Dan itu wajar. Namun, kebanggan seharusnya tidak terpengaruh akan itu semua.

Kebanggaan akan Indonesia semakin hilang ketika kondisi politik di Indonesia seolah memperburuknya. Rakyat dipecah menjadi dua pihak. Pro dan kontra. Hitam dan putih. Dan ini, bagi saya, sangat tidak membangun struktur kebanggaan apapun. Alih-alih membangun, justru saling menjatuhkan.

Hanya sepakbola yang mampu menyatukan itu semua. Tak peduli pro ataupun kontra terhadap pemerintah, saat gelaran sepakbola dimainkan, semua akan berteriak pada satu telinga yang sama. Berteriak pada satu harapan yang sama. Yakni kemenangan dan kebanggaan.

Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika melihat para pemain U16 bermain mati-matian melawan Thailand dan kemudian memenangkan laga melalui drama adu penalti? Jika ada getar haru di dalam dada, berarti sama seperti saya. Hati saya juga tergetar saat menyaksikannya.

Apa yang Anda rasakan saat menyaksikan Stefano Lilipaly dan Beto Goncalves bermain mati-matian lalu mempersembahkan gol demi Indonesia? Jika awalnya Anda merasa kurang puas karena mereka pemain naturalisasi, lalu Anda ikut bangga karena meski pemain naturalisasi, mereka berjuang demi Indonesia, berarti sama seperti saya.

Di saat seperti ini, hanya sepakbola yang mampu membikin hati kita bergetar dengan frekuensi yang sama. Hanya sepakbola yang mampu membuat kita berteriak sambil menyembunyikan rasa cemas secara kolektif. Kita sangat cemas dan khawatir jika sampai Indonesia kalah. Kolektivitas kecemasan itulah rasa cinta kita yang sesungguhnya.

Kapan terakhir kali Anda merasa cemas akan hilangnya Indonesia dari peta dunia?

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here