Kompas Merias Wajah, Rolling Stone & Joglosemar Bubar

0
348

Pergantian tahun menjadi waktu yang super sibuk. Tahun 2017 lewat, tahun 2018 menjelang. Perusahaan sibuk tutup buku, para traveler sibuk mencari tempat yang cocok, dan para keluarga menyesaki tempat-tempat wisata. Juga sebaran informasi dari grup-grup komunitas berbasis digital yang berujung “perkelahian digital” seperti boleh atau tidak merayakan malam tahun baru. Para motivator kebanjiran order, para ustadz banyak diundang kesana kemari.

Tapi, mari abaikan sejenak keriuhan itu semua. Saya ingin mencatat perkembangan dunia media cetak Indonesia. Di penghujung 2017, tepatnya 30 Desember 2017, Harian Joglosemar yang edar di wilayah Solo dan sekitarnya. Sedang Majalah Rolling Stone edisi Indonesia memutuskan tutup meski sudah menyapa pembacanya selama 12 tahun.

Harian Joglosemar menerbitkan edisi terakhir seakan sebagai edisi pamitan. Redaksi juga memuat tulisan “Setelah Satu Dasa Warsa” lalu disambung di bawahnya dengan tulisan “Mohon Pamit”.  Salah satu alasan kuat tutupnya media ini adalah perkembangan teknologi internet. “Sekarang ini internet memang seolah menjadi panglima dalam kehidupan masyarakat. Dari yang bersifat global sampai yang bersifat individual,” terang GM Harian Joglosemar, Anas Syahirul sebagaimana dikutip dari Jawapos.com.

Teknologi informasi bagaimanapun mengubah pola konsumsi media. Anas mengamini bahwa perubahan dari cetak ke digital lambat laun akan terus terjadi. Akibat dari perubahan itu, perolehan iklan media cetak makin kecil. Dan mau tidak mau media cetak harus gulung tikar. “Dan Joglosemar menjadi salah satu media cetak yang ikut merasakan imbasnya,” kata Anas.

 

Bagaimana dengan Rolling Stone? Majalah yang terbit pertama tahun 2005 ini mengumumkan tutup pada 1 Januari 2018. Di situsnya redaksi memberi pengumuman berjudul “Announcement from PT a&e Media”. Begini isi lengkapnya:

Pada hari ini PT a&e Media sebagai penerbit majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2018 kami tidak memegang lisensi majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia untuk beroperasi di wilayah Indonesia.

Segala kepemilikan merek di bawah Rolling Stone Indonesia atau yang terhubung dengan Rolling Stone Indonesia telah dikembalikan kepada pemilik merek Rolling Stone di New York, Amerika Serikat, dan Rolling Stone International.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan kami atas dedikasi mereka pada Rolling Stone Indonesia sampai di usianya yang ke-12 tahun.

Terima kasih tak terhingga dari keluarga Rolling Stone Indonesia kepada para pembaca, klien, relasi, pemusik, band, label, kontributor, dan seluruh pihak yang telah membantu kami dalam perjalanan 12 tahun ini.

Salam hangat dari kami semua.

Kenapa sampai tutup? Eddi Soebari selaku Ketua a&e Media tidak menyebut secara eksplisit. Namun, menurut dia industri media tengah mengalami perubahan begitu cepat menyebabkan kelesuan pada sisi usahanya secara keseluruhan. “Perubahan ini sedikit-banyak mempengaruhi ‘infrastruktur’ di sektor industri media,” kata Eddie sebagaimana dikutip dari viva.co.id.

Jika dua media cetak itu memutuskan gulung tikar, berbeda dengan Harian Kompas. Per 3 Januari 2018 Kompas mengubah sedikit penampilan. Hal itu ditandai dengan tulisan pengantar sekaligus penjelas dari Budiman Tanuredjo (Pemimpin Redaksi Kompas) di halaman pertama berjudul “Wajah Baru “Kompas” 2018”.  Wajah Kompas kali ini mengambil tema desain clean and strong. Perubahan itu terutama pemilihan font judul yang lebih tebal.

Salah satu alasan perubahan wajah adalah perkembangan dunia digital yang mengubah perilaku masyarakat dalam hal mengonsumsi berita. Media sosial membawa perubahan lebih ke personal, sehingga Kompas juga berusaha mengakomodasi “tuntutan” itu sambil tetap mempertahankan diri sebagai media cetak yang mengutamakan kualitas.

Lalu apa sebenarnya benang merah dari semua? Tentu saja keputusan Rolling Stone dan Joglosemar yang tutup dan Kompas yang mengubah wajah disebabkan perubahan teknologi informasi. Hal ini bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Jauh hari sudah banyak prediksi akan redupnya dunia media cetak, dan kini mulai berganti pada redupnya media online setelah gempuran media sosial.

Era digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat. Media cetak banyak gulung tikar, media online bermunculan. Era digital juga banyak mengubah pola makan masyarakat. Instagram misalnya banyak mempengaruhi industri pangan. Karena Instagram menjadikan banyak industri makanan memproduksi makanan yang enak dipandang, bukan hanya dilihat dari sisi kandungan gizinya saja.

Lalu bagaimana dunia media ke depan? Mari mulai berdikusi. Salam.

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here