Kopyah Kaji Rohmadi

0
811

(sebuah karya fiksi)

“Lek, kopyah hajimu apa masih ada? Yang kau beli asli dari Mekkah lho”

“Sudah saya kasihkan orang semua, tinggal satu untuk saya sendiri”

“Kalau masih ada kan saya bisa minta, atau kalau yang tinggal satu itu lek Rohmadi tidak mau pakai  mbok dikasihkan saya saja, saya kan keponakan yang belum kebagian”

“Mbok jangan, kopyah ini saya kenakan kalau hari atau acara tertentu saja,” jawab Lek Rohmadi datar.

Kopyah digenggamnya erat. Ia begitu menyukai kopyahnya tersebut.

 

***

Belum genap setahun Rohmadi ditinggal mati oleh Sulikah, isterinya. Berdua mendaftar haji, namun enam bulan sebelum tanggal keberangkatan Sulikah pada suatu pagi jatuh di kamar mandi, tidak sadar, dilarikan ke rumah sakit dan meninggal karena perdarahan otak. Rohmadi harus menjalani takdir  berangkat haji sendirian.

Selama mereka hidup bersama, Rohmadi adalah tipe suami pencemburu. Tiap kali Sulikah keluar rumah, meski hanya sekedar belanja di warung sebelah atau pergi menyambangi cucu yang jaraknya hanya beberapa langkah, ia pulang mesti menghadapi Rohmadi yang marah. Hal itulah yang mungkin membuat Sulikah semakin parah kondisi penyakitnya dan membuat tekanan darahnya meninggi. Sewaktu masih hidup tak jarang Sulikah menerima bogem mentah.

Sementara Rohmadi, sebagai lelaki ia bebas ke mana saja. Konon ia pernah tertangkap basah oleh tetangga karena mengintip seorang janda. Alasannya ketika ditanya ia diminta untuk mengobati cucu sang janda. Rohmadi memang dikenal memiliki ilmu suwuk. Sebagai dukun Rohmadi pernah bercerita perihal coblosan lurah yang  beberapa kali bisa dimenangkannya jika sang calon sowan ke rumahnya. Konon, Rohmadi juga menjadi buah bibir warga karena ia pernah selingkuh. Sebagai perempuan lemah, Sulikah tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya tersedu dan banyak-banyak berdoa di masjid yang letaknya  berada di depan rumah.

Dan kini, sepulang haji sendirian, dan ketika rumah kian sepi, ia berfikir untuk mencari isteri lagi. Ia merasa masih muda dan kuat. Kali ini ia kepincut dengan janda di desa sebelah. Janda gembrot itu beranama Jumiatun. Para tetangga biasa memanggilnya Yu Jum. Ia menghabiskan waktu dewasanya di gang dolly Surabaya. Ketika usia beranjak tak lagi muda ia memutuskan pulang ke desa. Rohmadi memutuskan menikahinya.

Kehidupan rumah tangga mereka pun berjalan biasa-biasa saja, meski sesekali gunjingan datang dari tetangga kanan kiri. Kata beberapa tetangga “apa yang dicari pada janda berkulit kusam, gembrot dan lebih-lebih dulu punya riwayat gak bener begitu”. Kata para tetangga Rohmadi kena pelet sang janda. Ada yang mengatakan ini karma  yang harus diterimanya karena menyengsarakan istrinya. Ini karma pertama yang bisa saya catat.

Dari pernikahan itu, lahirlah seorang anak laki-laki. Kebutuhan makin besar. Sehingga ia mesti mencari pekerjaan. Sebagai buruh tani pun ia lakukan. Sawahnya sendiri sudah ludes terjual untuk ongkos naik haji. Praktis yang bisa ia kerjakan adalah sawah milik isteri barunya yang gembrot itu. Tak menunggu lama kiranya sang isteri baru mulai bosan dengan Rohmadi, dan mulai uring-uringan bahkan menyuruh Rohmadi tidur di luar jika tak lagi becus memberikan nafkah. Sesekali Rohmadi terlihat pulang ke rumah lamanya. Sebagai suami, kata para tetangganya ia seperti sudah tak lagi punya marwah. “Sekarang ia merasakan karma pada isterinya yang dulu setia,,” kata para tetangga. Ini karma kedua yang saya catat.

Rohmadi dan Sulikah sendiri punya anak bernama Triono. Dari Triono ini ia mendapatkan dua cucu lelaki. Mahfud yang lebih tua nakalnya tak karuan, ia pernah ingin memenggal leher ibunya karena tak dibelikan sepeda motor. Adib, cucu kedua seorang bocah manis dan kalem, sayang usianya tak panjang. Sepulang mengaji diniyah ia jatuh dari sepeda, dadanya memar badannya panas dan malamnya meninggal. Belum ada seratus hari berselang besan perempuan yang baru pulang dari umrah juga meninggal. Cucu yang disayangi banyak tetangga itu hilang, besan perempuan tiada juga, tingggal Mahfud yang kian hari kian nakal. “Bukankah kehidupan pilu keluarga Triono ini juga karma Rohmadi?” begitu kata para tetangga. Dan ini karma ketiga yang saya catat.

Isteri kedua Rohmadi akhirnya tak lagi betah tinggal serumah. Ia menyuruh suaminya itu keluar saja dari rumah meski Rohmadi tentu tak mau mengalah. Mungkin karena peletnya sudah kadaluwarsa Rohmadi akhirnya banyak tinggal di rumah yang dulu ia tinggali dengan Sulikah. Kini hidupnya ditanggung oleh keluarganya yang dulu ia telantarkan. Kata para tetangga itu artinya ia sudah ditalak. Tapi kadang ia masih rindu pada bayi mungil hasil pergumulannya dengan perempuan gembrot dan kusam itu.

Merasa sendirian, lagi-lagi ketika di sawah ia secara terang-terangan sambil meletakkan gancu di tepi tegalan minta dicarikan janda yang pas. Mungkin saja jiwanya sudah mulai terguncang. Konon tiap kali warga kondangan dan tahlilan ia menjadi bahan rasan-rasan. “Bisa kau bayangkan nak, seorang kaji yang dulu-dulu di desa kita ini sama derajatnya dengan seorang priyayi kini, ditendang-tendang perempuan jalang dan menjadi buruh tani,” bisik tetangga yang makin berisik.

***

“Sendainya saja Lek Rohmadimu itu waras, bisa mencerna dan memahami makna kopyah yang harus ia pakai, ceritanya mungkin tak begini”.

“Maknanya apa ya Lek?”

“Kau tahu kenapa dokter membawa alat kir-kir’an (stetoskop maksudnya)?, biar dia ingat kalo dia seorang dokter dan tahu akan tindakan serta perilaku yang mesti ia jaga”.

“Hmm….jadi memakai kopyah haji itu biar…..”

 

SHARE
Penulis tinggal di Surabaya. Menyukai karya sastra klasik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here