Kurma Jawa: Ikhtiar Men-Jawa-kan Arab

0
417
Ilustrasi

Di tengah hiruk pikuk utopia meng-arabkan Indonesia, melalui berbagai kebudayaan tentunya, di Bojonegoro, yang terjadi justru malah sebaliknya. Bukan meng-Indonesia kan Arab sih, melainkan men-Jawakan Arab. Lebih tepatnya, men-Jawakan Arab melalui khasanah kulinernya: Kurma Jawa.

Proses akulturasi budaya memang bisa terjadi dari berbagai unsur. Mulai fashion, bahasa hingga kuliner. Menjadi keresahan semua orang ketika banyak orang Indonesia yang berubah menjadi arab dalam beberapa tahun terakhir. Namun, rupa-rupanya, kita tidak boleh terlalu khawatir secara berlebihan.

Sebab, di tengah gegap gempita ana-antum syndrome yang makin membabibuta, ada oase menyejukkan di kota kecil perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, Bojonegoro. Melalui unsur kulinernya, Bojonegoro mampu men-Jawakan Arab.

Harus kita akui, krisis arabisasi sosial memang sangat memiriskan hati. Banyak teman dan orang-orang terdekat kita berubah menjadi orang Arab yang mulai malu memasang atribut Jawanya. Yang disayangkan lagi, tujuannya pun mulai bergeser.

Kini, banyak orang Indonesia menjadi Arab bukan karena alasan Ubudiyah semata. Melainkan hedonisme tampilan sosial. Orang-orang yang berpakaian Arab dan mengganti istilah aku-kamu dengan ana-antum, seolah langsung meningkat derajat sosialnya, sekaligus memiliki kavling di surga.

Kedekatan pada sang maha pencipta sudah bukan menjadi substansi utama dari apa yang mereka lakukan. Arab, kini menjadi kiblat urusan duniawi: fashion dan laku karnavalisme.  Tentu, fenomena ini sudah bergeser teramat jauh dari tujuan yang awalnya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Padahal, andai kita mau jujur misalnya, proses “mengekor Arab” sebenarnya bermula dan terjadi karena panutan kita, Kanjeng Nabi Muhammad, kebetulan lahir dan hidup di Arab. Selain itu, kitab suci agama Islam juga berbahasa Arab.

Sehingga, untuk mengikuti dan mempelajari agama Islam, secara tidak langsung kita harus belajar mengenai kebudayaan dan bahasa Arab. Namun, bukankah seharusnya proses itu cukup substansinya saja? Bukan memberangus pada ranah kearifan lokal? Toh, fashion dan cara berpakaian Indonesia/Jawa banyak yang tidak melanggar syariat?

Masalah terjadi ketika banyak orang ingin menjadi Arab bukan karena urusan agama saja, melainkan “bermain” pada ranah kelas sosial. Orang-orang Jawa mulai kehilangan Jawa-nya; orang-orang Indonesia mulai kehilangan ke-indonesiaannya; hanya karena ingin berpenampilan seperti orang Arab dan didaku sebagai saudagar kavling surga.

Padahal, seperti yang kita semua ketahui, Arab tidak selalu lebih baik dalam hal moral sosialnya dari Jawa maupun Indonesia. Latah Arab dan latah khilafah, misalnya,  memicu banyak pergeseran tujuan dan bahkan juga laku ekslulsiv pemicu kesombongan.

Di Bojonegoro, yang terjadi justru sebaliknya. Kurma, makanan khas Arab, mampu di akulturasikan dengan budaya Jawa menjadi kurma Jawa. Buah yang tidak bisa tumbuh di Indonesia itu, mampu diproduksi dengan mudah di Bojonegoro. (lain kali saya akan share deh cara memasaknya).

Ada dua jenis kurma Jawa di Bojonegoro. Yakni kurma tomat dan kurma salak. Kedua jenis kurma itu bisa didapatkan kapanpun tanpa menunggu musim. Jadi, tak perlu menunggu musim kurma ataupun bulan puasa, siapapun bisa dengan mudah menikmati kenikmatan kurma Jawa.

Kurma jawa—baik yang berbahan tomat maupun buah salak— memiliki rasa legit yang sama dengan kurma Arab. Tidak hanya itu, aroma, tekstur daging hingga warna tampilannya pun sama persis seperti kurma Arab pada umumnya. Bentuk dan ukurannya? Tentu, sama plek kayak yang ada di Arab sana.

Dari kurma Bojonegoro ini, secara hakikat, kita bisa memahami bahwa islam bisa dikenalkan tanpa merusak khasanah lokal. Atau bahkan–lebih ekstrim sedikit—melokalkan khasanah islam yang ke-Araban-araban. Semacam teorema menangkap ikan  tanpa mengeruhkan kolam khas Wali Sanga, bahwa substansi lebih penting daripada tampilan fisik maupun embel-embel atribut belaka.

Selain mendapat pelajaran penting tentang proses melokalkan budaya asing secara santun, dari Kurma Jawa Bojonegoro ini, setidaknya keinginan masyarakat memakan buah kurma yang pohonnya tidak bisa ditanam di tanah Indonesia, sudah bisa disiasati menggunakan kreativitas kearifan lokal.

 

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here