Kwangenrejo

0
211

Kampung ini biasa saja. Tidak ada istimewa. Pagi, warganya ke ladang dekat hutan jati, menjelang sore pulang, dan malam seringnya berada di rumah. Jalan kampung block paving sebagaimana kampung-kampung lain. Warga juga suka nonton televisi, main internet, dan nongkrong kumpul-kumpul.

Tapi itu baru satu sisi. Pada sisi lain, kampung ini cukup istimewa. Satu langgar dua gereja ada di kampung itu. Warga muslim biasa ke langgar saat maghrib tiba, dan pada minggu pagi, warga kristen akan berkumpul di gereja. Warga kristen memelihara anjing. Warga muslim memelihara kucing dan ayam.

Sore ashar, anak-anak berkopyah berjalan melewati gerombolan anjing yang mondar mandir di jalanan. Biasa saja. Seakan anjing-anjing itu tahu bahwa anak-anak itu hendak belajar. Pemandangan itu salah satu yang menjadikan kampung ini istimewa.

Ya, kampung itu dikenal dengan Kwangenrejo, sebuah kampung di pinggiran hutan jati Bojonegoro. Secara administratif masuk Dusun Sidokumpul, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu. Sudah puluhan tahun, kampung ini terkenal dengan kehidupan penuh toleransi. Tiga tempat ibadah itu adalah musholla, GKJTU atau Gereja Kristen Jawa Tengah Utara, dan GPIB atau Gereja Protestan Indonesia Baru.

Kapan kampung ini dihuni warga? Tak ada catatan pasti. Namun, dari penuturan warga yang berumur, kampung itu sudah ada sejak 1930, yakni warga pemeluk agama Kristen. Bahkan, konon pernah berdiri sekolah dasar (SD) Kristen Mardi Siswo. Tapi sayang, sekolah tersebut kini sudah tidak ada.

Masih menurut sejarah lisan warga setempat, sebelum tahun 1980 an, semua warga beragama Kristen. Tak heran jika kampung itu dikenal dengan sebutan ‘Kampung Kristen’. Sebutan itu masih ada hingga sekarang. Dan tahun 1980, pendatang beragama Islam masuk kampung. Rata-rata mereka laki-laki yang kemudian menikahi perempuan kampung. Berpuluh tahun kemudian, jumlah pemeluk islam separuh dari kampung.

Kampung itu benar-benar berada di pinggir hutan jati. Saya pernah diajak masuk ke wilayah hutan oleh kepala desa, melihat kondisi pertanian warga dan lahan Perhutani yang digarap oleh warga. Di tengah ladang lahan Perhutani itu terdapat ‘keramat’ Situs Kwangenrejo.

Warga kampung Kwangenrejo menjunjung tinggi toleransi. Berbeda keyakinan bukan soal bagi mereka untuk rukun berdampingan. Upacara kematian, selametan syukuran, atau acara adat lain selalu dikerjakan bersama-sama. Selagi bukan ibadah pokok, mereka bergotong royong. Tapi jika urusan ibadah mereka kembali pada keyakinan masing-masing.

Toleransi macam ini tentu menarik untuk dikampanyekan terus menerus. Di Kabupaten Bojonegoro, tak cuma Kwangenrejo saja yang mempraktikkan kehidupan toleransi antar umat beragama. Warga di Desa Kolong, Kecamatan Ngasem juga sudah berpuluh tahun hidup rukun meski beda keyakinan. Di kampung Kolong ada pemeluk Kristen, Katolik, dan Islam.

Sejumlah kampung di Kabupaten Bojonegoro memang mempunyai cerita dan sejarah yang perlu dikampanyekan ke dunia luar. Keberadaannya akan menjadikan Bojonegoro dikenal dengan budaya dan tradisinya. Ini penting sebagai upaya mengenalkan sisi-sisi lain Bojonegoro. Karena identitas sebuah daerah tidak bisa hanya didasarkan pada satu-dua fakta saja, melainkan dari jahitan fakta dalam rentang waktu yang lama.

Kwangenrejo adalah salah satu kekayaan Bojonegoro yang perlu dibicarakan terus menerus. Kampung-kampung lain pun perlu dibicarakan, diulas, diteliti, dan diketahui publik agar menjadikan Bojonegoro lebih berwarna. Era digital seharusnya memudahkan semua. (n)

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here