Madura Tertawa Tak Bisa Dikalahkan

0
571
gambar: joke-12.blogspot.co.id

Humor madura? Tentu tidak asing kan? Presiden Gus Dur adalah salah satu orang yang mempopulerkan humor Madura. Tokoh lain adalah Cak Nun yang selalu membikin gerrr Jamaah Ma’iyah atau Kenduri Cinta dengan guyonan Madura. Humor Madura memang seringkali mengolok-olok orang Madura. Tapi, inilah hebatnya, olok-olok itu bukan membikin orang Madura marah, melainkan tertawa bersama, bahagia bersama.

Nah, ngomongin humor Madura, saya ingin berkisah pendek saja. Saya baru saja bertemu dengan sebuah buku di pasar loak berjudul Modin Karok karya Abdul Hadi W.M. Buku ini sebenarnya bukan bacaan dewasa karena di sampulnya ada tulisan “Bacaan Anak”. Tapi tak apalah, toh banyak bacaan dewasa dikonsumsi anak-anak juga.

Buku ini menambah satu bukti lagi bahwa humor dan Madura tak bisa dipisahkan. Jika Madura sudah tertawa, sangat sulit untuk dikalahkan. Kisah-kisah yang ditulis oleh pengarang kelahiran Madura ini, memang nggak bikin tertawa terpingkal-pingkal, tapi membacanya bikin mesem-mesem sendiri. Dan dalam hati akan berkomentar “ada-ada saja nih”.

Modin Karok adalah cerita pertama yang dikisahkan. Di kampung Madura ataupun Jawa, modin diartikan sebagai orang yang dituakan dalam urusan agama, misal dipercaya mengurus acara pernikahan, perceraian, hingga acara kematian. Pak Modin, begitu biasa dipanggil.

Tapi Modin Karok agak berbeda. Ia adalah seorang kyai yang punya banyak santri. Suatu hari, Modin memanggil santri-santrinya. Beliau berkata bahwa selama ini hidup santri sangat menderita, makan tidak enak, dan kondisi pesantren tidak layak. “Saya punya ide untuk mengubah hidup ini,” kata Modin Karok.

“Bagaimana caranya Kyai? tanya para santri. Singkat cerita, santri-santri diminta mencuri binatang ternak warga. Pasalnya warga sekitar pesantren adalah orang kaya tapi kikir. Skenarionya, setelah dicuri, ternak-ternak tersebut disembunyikan di hutan. Kemudian warga yang mencari diarahkan konsultasi ke Modin dengan sarat harus ada imbalan. Terang saja, modin tahu semua ternak yang dicuri, karena pencurian itu hanya akal-akalan saja. Begitulah tiap hari, ada ternak hilang, ada ternak ditemukan, ada imbalan masuk ke pesantren. Santri dan Modin Karok hidup berkecukupan.

Kesaktian Modin akhirnya didengar juga oleh raja. Sang raja sedang mencari perhiasannya yang hilang. Modin pasti tahu siapa pencurinya dan dimana perhiasan disimpan. Modin dipanggil untuk menghadap raja. Sepanjang perjalanan Modin ketakutan, keluar keringat dingin. Dia berpikir pasti mati nanti. Karena ia bukanlah dukun sakti.

Sepanjang penjalanan Modin Karok menyesali diri dan berkata “jasad dan badan, matilah aku. Jasad dan badan, matilah aku.” Begitu terus menerus sampai dua pengawal mendengar. Dua pengawal langsung ketakutan, karena mengira Modin Karok benar-benar sakti. Kok bisa? Karena dua pengawal itu bernama Jasad dan Badan. Dan mereka mengira Modin Karok mengetahui bahwa merekalah pencuri perhiasan raja. Mereka lalu mengakui perbuatannya di depan Modin Karok yang awalnya kebingungan tapi berpura-pura memang sudah tahu sejak awal.

Setelah kejadian itu, Modin Karok mendapat hadiah cukup banyak dari raja. Ia dan santri-santrinya sangat kaya. Dan setelah kejadian itu, ada satu lagi kejadian yang bikin kita (pembaca cerita) akan tertawa. Semua serba keberuntungan. Dan Modin Karok yang bukan ahli nujum itu dipercaya seantero negeri sebagai ahli nujum yang tak ada tandingannya.

 

Ya, begitulah. Modin Karok (tentu saja) sebenarnya bukan dimaksudkan oleh penulisnya sebagai kisah humor, karena jelas itu bacaan anak. Tapi membacanya tetap saja akan tersenyum dan terhibur. Kisah Modin Karok tak kalah unik dari humor-humor Madura yang lainnya, yang banyak bertebaran di buku-buku yang sudah edar. Sebut saja buku Kelakar Madura Buat Gus Dur karangan Sujiwo Tejo, juga ada Humor Madura untuk Penyegar Jiwa karangan H.Musa.

Humor Madura seperti sumur yang tak pernah kering. Selalu saja ada yang menyegarkan. Ini salah satunya (diambil dari buku Humor Madura untuk Penyegar Jiwa)

 

Seorang asal Madura menuntun dua puluh ekor sapi di kota Surabaya.

Polisi: “Kau ini, nuntun sapi begini banyak di jalan raya. Lihat, lalu lintas macet. Dasar Madura…!”

Tukang Sapi:  “Siap, Pak. Bapak betul, saya orang Madura. Tapi Bapak perlu tahu, sapi-sapi yang bandel ini adalah sapi Jawa.”

Atau humor yang ini:

Pada waktu ibadah haji, Brudin membeli sebuah radio transistor kecil di Jeddah. Setiap dihidupkan, selalu yang terdengar siaran-siaran dalam bahasa Arab. Karena Brudin tidak pandai bahasa Arab, dikiranya radio tersebut selalu menyiarkan pengajian.

Setelah kembali ke kampung halamannya, Brudin pamer kepada sanak saudaranya bahwa radio yang dibelinya hanya mau menyiarkan siaran pengajian.

Pada waktu radio tersebut dihidupkan di tengah-tengah keluarganya, ternyata yang terdengar siaran bahasa Madura dan lagu-lagu dangdut.

Brudin: “Radio ini aneh. Sewaktu di tanah Arab dia pandai mengaji sampai tamat. Tapi di sini kok jadi bodoh”

Atau kisah yang sudah berulang kali dengar ini:

Tukang becak yang nyelonong itu langsung saja disemprit Pak Polisi.

Apa kamu tidak lihat rambu itu? Becak tidak boleh masuk jalan ini!!” Bentak Pak Polisi.

“Oh iya saya lihat pak, tapi itu kan gambar rambunya becak kosong. Sedangkan becak saya kan ada penumpangnya, berarti boleh masuk dong…” Jawab si tukang becak itu.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu ada tulisan “becak dilarang masuk”!!” Bentak Pak Polisi itu lagi.

“Tidak pak, saya gak bisa baca. Kalau saya bisa baca ya saya pasti jadi polisi seperti sampeyan. Gak jadi tukang becak kayak gini.” Jawab si tukang becak itu sambil cengengesan.

 

Dicukupkan saja humornya. Yang pasti humor Madura adalah jenis humor yang khas dan tidak ada bandingannya. Dimana-mana kalau mendengar humor Madura, meski sudah berulang kali, tetap saja saya tertawa. Benar-benar bikin bahagia kan? Salam humor Madura.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here