Masih Tanya Kenapa Ada Kesetaraan Gender untuk Perempuan?

0
820
foto: peoplematters.in

Tulisan ini adalah tanggapan dari orang-orang yang mempertanyakan “mengapa ada kesetaraan gender untuk perempuan?”.  Ada hal tidak disadari oleh beberapa orang tentang ketidak adilan yang dialami perempuan. Melalui tulisan ini, saya ingin memberitahu ketidakadilan itu.

Pertama, ada istilah pekerjaan domestik dan pekerjaan publik. Pekerjaan domestik adalah pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh istri (perempuan), dan di masyarakat kita, pekerjaan semacam itu tidak mendapat apresiasi seperti pekerjaan di luarnya.

Di sisi lain, pekerjaan publik adalah pekerjaan di luar urusan rumah tangga yang biasanya dilakukan oleh suami (laki-laki) dan mendapat apresiasi, baik berupa gaji dankebanggaan. Dalam kasus ini, masyarakat kita biasa memandang bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan.

Ibu rumah tangga misalnya, tidak dianggap sebagai suatu profesi (yang membanggakan) karena tidak menghasilkan uang, sedangkan dalam konsep kekuasaan, kita tahu bahwa uang adalah salah satu sumber kekuasaan.

Mereka yang memiliki uang secara langsung akan memiliki kuasa. Dari kasus tersebut, banyak suami (laki-laki) yang bekerja di wilayah publik dan “menghasilkan uang” merasa memiliki kuasa terhadap isteri (perempuan). Alhasil, banyak kita temui kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan.

Mengapa saya bisa sampai mengatakan bahwa profesi ibu rumah tangga tidak dianggap sebagai suatu pekerjaan? Kita pasti tidak asing dengan orangtua atau mertua, atau siapa saja, yang ketika suami hendak makan, akanmengatakan, “Nduk, iku bojomu diladeni, disik. Sakno, kesel, mari kerjo”. Lha, Ibu rumah tangga tadi apa tidak bekerja?

Seharian gendong bayi, membuat kan makanan untuk sarapan, makan siang, makan malam hingga makanan untuk si bayi, cuci baju dan piring yang menggunung, belum lagi urusan lantai yang harus disapu dan dipel. Apalagi,  jika anak menjelang usia tumbuh aktif, jikalau terdapat masalah dan Ibu harus menanggung omelan:

“Ngapain aja kerjamu seharian? Ngurus anak nggak becus!”

Lhar, terus sing umbah-umbah, nyapu, ngepel, masak iki mau sopo? Kui jenenge opo ora kerjo?”

Kedua, urusan pendidikan. Bagi kaum menengah ke atas maupun kaum atas, akses pendidikan untuk perempuan dan laki-laki mungkin tak akan jauh beda.  Tapi, bagi kaum menengah ke bawah dan bawah? Dalam keluarga miskin yang memiliki anak laki-laki dan perempuan, dan hanya memiliki dana untuk mengirim satu anak kesekolah, keputusan apa yang akan diambil oleh keluarga tersebut?

Hampir sudah pasti, keputusan yang  diambil adalah mengirim anak laki-laki untuk bersekolah lebih tinggi. Mengapa? Ada persepsi bahwa laki-laki adalah pemimpin, yang nantinya akan menghidupi isteri dan keluarga, dan kepercayaan itu diikuti oleh kepercayaan lain yang mengatakan bahwa, “perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena, toh, akan berakhir  di dapur juga”.

Kurang ngeri bagaimana lagi? Nasib perempuan sudah ditentukan sejak dia lahir. Berakhir di dapur.Lha, opo wong wadon iku gak ndue hak gawe milih jalan uripe?

Dua hal di atas baru yang saya pilih untuk saya tulis. Belum perkara ketidak adilan di dalam dunia kerja, ketidakadilan dalam kebebasan berpolitik, ketidakadilan berekspresi, dan banyak lainnya.

Dan, teganya kamu mempertanyakan apa gunanya kesetaraan gender bagi perempuan?

 

SHARE
Alumni FISIP Unair Surabaya yang tertarik di dunia jurnalistik. Pernah jadi sekretaris Persma Unair. Pemangku adat sekaligus juru bicara Ngaostik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here