Meluruskan Kembali Makna Berlibur

0
799
fineartamerica.com

Momentum akhir tahun, selalu identik dengan berbagai postingan tempat wisata dan kisah-kisah tentang catatan perjalanan. Setidaknya, catatan tentang proses menuju tempat rekreasi, atau suka duka saat mengunjungi suatu tempat. Tidak hanya itu, marak juga foto bergambar sebuah tempat wisata— dan orang yang dengan senyum garing mengacungkan jempol tangannya ke kamera— dengan caption foto bertajuk “liburan”.

Namun, pernahkan kita berpikir, sejak kapan sih istilah berlibur selalu identik dengan tempat wisata beserta nuansa rekreatif?

Padahal, berlibur berasal dari kata libur, yang mana, sesuai definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bermakna bebas dari bekerja atau bebas dari bersekolah. Secara sederhana, libur berarti melepaskan diri dari rutinitas. Misalnya, jika rutinitasmu bekerja, maka, saat libur, kamu akan mengalami menganggur. Tidak bekerja.

Lalu, pertanyaannya, di manakah letak tempat wisata pada kata berlibur atau liburan? Di sinilah kesalahan-kesalahan yang kerap kita lakukan. Yakni, memaknai kata libur atau liburan sebagai proses mengunjungi-tempat-wisata. Padahal, sesuai definisi KBBI, tentu saja itu keliru. Tidak ada hubungannya libur atau liburan dengan tempat wisata. Yang berhubungan secara benar adalah liburan berarti tidak dalam kondisi bekerja.

Nah, jika sudah dalam kondisi tidak bekerja, entah mau mengunjungi tempat wisata atau bukan, itu sifatnya nafsi-nafsi terserah individu masing-masing. Jika mengunjungi tempat wisata, berarti dia berwisata bukan ber-li-bur. Namun, jika tidak mengunjungi tempat wisata, berarti dia tidak berwisata. Tapi, tetap berlibur. Tetap liburan. Sebab, tidur atau bahkan hanya melamun pun sebenarnya sudah liburan lho ya. hehee

Kata liburan dan berwisata harusnya memiliki garis pembeda yang jelas. Misalnya, jika Anda liburan atau berlibur, belum tentu Anda sedang berwisata. Sebab, tidur di rumah juga bisa dimaknai sebagai liburan also known as “berlibur”. Sebaliknya, tidur tidak bisa diartikan sebagai berwisata. Sebab, tidak ada tempat wisata yang dikunjungi dengan cara diam di tempat (kecuali wisata mimpi, wkwkwk)

Jadi, di balik maraknya foto bergambar sebuah tempat wisata— dan orang yang dengan senyum agak dipaksa mengacungkan jempol tangannya ke kamera— dengan caption foto bertajuk “liburan”, ada kesalahan yang mungkin tidak sengaja kita sepakati secara bersama-sama. Yakni salah memaknai kata li-bu-ran.

“Halaaaah, asline kue pengen liburan tapi ora kesampaian, kan?, makane nulis tulisan sing mengkritik para liburaners,” ujar salah seorang liburaners pada rumput yang bergoyang.

xixixi ~

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here