Memeluk Kehilangan dengan Tenang

1
158

Hidup, mati, hilang dan berganti. Hidup dan mati adalah metabolisme kehidupan yang memang harus ada dan tidak bisa ditiadakan. Tanpa mati, bumi akan disesaki manusia. Tanpa hidup, bumi tidak akan ada penghuninya. Hidup dan mati harus saling mengisi. Nah, jika hilang dan berganti, apakah harus ada ganti di setiap kehilangan?

Bagaimana jika raganya ada tapi hilang jiwanya? Bagaimana jika laptopnya ada tapi hilang datanya? Bagaimana jika nomor SIM-nya ada tapi nyawanya telah tiada. Kehilangan yang bersisa justru lebih sulit dilupa dibanding hilang yang tanpa sisa. Ibaratnya, kamu bisa memeluk tubuhnya, tapi tidak hatinya.

** **

Kamu menyalakan sepeda motor menuju tempat servis komputer. Sudah 4 tahun ini, sejak kamu membeli laptop, belum pernah diupgrade softwarenya. Tentu itu bukan tanpa alasan. Kamu trauma, takut kehilangan data. Hari ini, sore 3 Juni 2018, kalau bukan karena laptop itu sering macet, kamu tentu tidak akan menginstalkannya.

Sampai di tempat service, kamu bertanya pada tukang service, apa datanya perlu dibackup dulu. Katanya tidak usah. Biar diamankan dia saja. Instal cuma sebentar aja. Besok bisa langsung diambil. Kamu pun langsung pulang, tanpa banyak tanya. Sebab, besok kamu akan segera mengambilnya.

Sore keesokan harinya, kamu kembali ke reparasi komputer untuk mengambil hasil servisan. Perbaikan sudah selesai. Kamu bawa pulang. Sesampainya di rumah, kamu cek satu persatu data yang ada. Satu folder tidak ada. Itu data lokal disk D. Isinya adalah konten paling penting di laptop tersebut.

Kamu kembali meluncur ke tempat servisan. Kamu tanyakan kenapa data D nya hilang. Dan kenapa hanya menyisakan data E yang isinya tidak terlalu penting itu. Si tukang servis cengar-cengir kebingungan, juga ketakutan. Katanya, proses instalasi membuat data-data itu hilang.

“Lha gak mbok backup?” Tanyamu.

“Sudah, mas. Maaf. Tapi datanya ketindes instalan dan tidak ditemukan” katanya memelas.

Tukang servis itu tidak tahu jika ada banyak data penting di sana. Hidupmu ada di sana. Dan sekarang data kehidupan itu pun hilang. Trauma beberapa tahun lalu kembali terpampang di mata dan telingamu. Sesal menyesaki dada, harusnya kamu tidak menginstalnya. Atau harusnya kamu backup dulu. Kalau flashdisk tidak ngatasi, toh kamu bisa pinjam hardisk kawanmu. Toh kamu punya banyak kawan baik. Tapi bodohnya kenapa tidak kamu backup dulu. Tapi teledornya kenapa kamu tidak simpan di Google Drive saja.

Kamu sempat mau marah pada tukang servis itu. Kamu sempat mau membentak dan memisuhinya, tapi kamu sedang berpuasa. Kamu pun mengurungkannya. Kamu ingin memisuhi dirimu sendiri saja. Kamu mau misuh sebanyak-banyaknya untuk membatalkan puasamu. Baru berniat misuh, azan Maghrib sudah berkumandang. Kamu berbuka. Puasamu batal dengan sempurna, tanpa misuh sedikitpun.

Laptop itu kamu pandangi lamaa sekali. Di dalamnya, di lokal disk D, ada riwayat tulisan selama 2015-2018 yang rencananya akan kamu urusi dan kamu seriusi tahun ini. Kini, semuanya hilang. Kamu tidak tahu bagaimana caranya menangis yang baik. Kamu sedih sekali. Kamu butuh waktu berjam-jam dan rokok berbatang-batang untuk mendinginkan emosi. Dan kamu bisa. Dan hatimu semeleh. Dan kamu telah memaafkan segalanya.

** **

Malam 5 Juni, sehari setelah kehilangan data di laptop itu, banyak orang menanyaimu. Katanya, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kamu bingung. Kamu merasa, ponselmu selalu aktif. Setelah dicek secara mendalam, ternyata benar. Ponselmu tidak bisa dihubungi. Bahkan, tidak bisa digunakan ngecek pulsa. Tapi, nomor WA nya masih bisa dipakai.

Kamu pun membawanya ke konter dekat rumah. Kata pemilik konter, kondisinya parah serius. Harus segera dibawa ke galeri Indosat. Kamu mulai cemas. Semalaman kamu tidak bisa tidur. Kamu teringat, kamu mulai bersamanya sejak 2005. Bersamanya, kamu mengenal banyak tokoh, karakter dan plot kisah romansa. “pacar dan ponsel boleh ganti tapi nomor kontak harus tetap abadi” adalah jargon kesetiaan yang dulu kamu semat padanya.

6 Juni, 2018, kamu membawanya ke Galeri Indosat. Kata mbak-mbak resepsionis, nomormu sudah melewati masa tenggang. Tidak bisa diselamatkan. Tidak bisa diperbarui. Kamu harus segera mengganti nomor baru. Harus-ganti-nomor-baru. Harus-ganti-nomor-baru. Tiba-tiba lututmu lemas. Kamu masih tidak percaya. Kamu yakin nomor itu akan terselamatkan.

“Mbak, mbak tahu makna cinta dan kesetiaan?” Tanyamu sambil menatap matanya. Mbak resepsionis itu clingak-clinguk bodoh dan diam saja. Lalu kamu pergi dengan membawa sedih dan kecewa yang menyayat hati.

Nomor itu hilang tidak hanya sekali. Berulangkali. Dan kamu selalu mampu menyelamatkannya. Itulah kenapa, kamu masih tidak percaya jika kamu harus berpisah dengannya. Pada November 2008, saat kamu berada di Kabupaten Barabai Kalimantan Selatan, nomor itu sempat hilang di tengah hutan Barabai. Sesaat setelah pulang, kamu mengurusnya. Dan kamu berhasil kembali memilikinya. Sejak saat itu, kamu yakin jika ia jodohmu.

Sepulang dari Galeri Indosat, kamu langsung menghubungi kakakmu yang kebetulan seorang distributor nomor perdana. Kamu berharap dia bisa memberi solusi agar nomormu bisa kembali diaktifkan. Namun, dengan penuh sesal dia menjawab jika nomor itu tidak bisa diselamatkan. Hal yang sama juga terjadi padanya. Belum lama ini dia juga mengalami hal sama seperti dirimu. Batinmu, dia yang paham nomor SIM saja tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, apalagi kamu yang tidak pernah mampu memahami kebutuhan nomor SIM tersebut.

“Gak iso, iku wes mati. Nomerku yo podo koyok nggonem ngonokui” katanya dengan ditutup emoticon menangys.

Sampai detik itu, kamu baru sadar jika kamu harus kembali memeluk kehilangan. Rentetan kehilangan secara beruntun. Data tulisan selama 2015-2018 di laptopmu telah hilang. Lalu, sehari berikutnya, nomor ponsel yang telah menemanimu selama puluhan tahun itu juga mati, meski saat ini masih bisa dipakai untuk WA— lalu kamu harus bersiap jika dia akan mati atau hilang dalam waktu dekat ini.

Apakah kamu sedih? Tentu saja sedih, bersedih sekali. Kamu orang yang mudah sedih ketika harus meninggalkan ataupun ditinggalkan. Apalagi jika proses tinggal-meninggal itu direncanakan. Adakah yang lebih kejam dari perpisahan yang direncanakan? Tanyamu.

Apakah kamu marah? Tentu saja iya, marah sekali. Marah kepada siapa? Tentu kepada dirimu sendiri. Semua itu mutlak karena kesalahanmu. Andai kamu membackup data dari laptop, tentu data itu terselamatkan. Andai kamu sering ngecek kapan harus beli pulsa, tentu nomor itu masih aman.

Tapi hatimu sudah semeleh. Seleh. Kamu sudah memaafkan semuanya. Kamu sudah memaafkan tukang servis laptop, mbak resepsionis, ponsel, laptop, kartu, bahkan dirimu sendiri, semua sudah kamu maafkan. Kamu semeleh. Seleh.

Kamu sudah bisa memeluk kehilangan dengan tenang.

SHARE
periset partikelir dan pemerhati tumbuh-tumbuhan. bisa dijumpai di wrizkiawan.wordpress.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here