Menepi dan Hening di Makam Wali Gotong Syeh Zakaria

0
49
Suasana tenang kompeks makam Syeh Zakaria. Air segar dari padasan.

Kami bertiga tiba menjelang asar. Angin bergerak pelan menepuki kulit. Daun jati kering rontok berserakan di mana-mana. Mobil kami parkir di lahan kosong tak begitu luas, lalu lanjut jalan kaki dengan jalan lumayan menurun. Jalan paving yang sudah mulai rusak sana sini membuat kami berpikir lebih baik tak melewatinya dengan mobil. Hitung-hitung olahraga.

Sore di awal Juli 2021 itu sepi. Hening. Tak ada suara hiruk pikuk manusia. Hanya sesekali terdengar mesin motor yang melaju di kejauhan. Kami menghirup dalam-dalam udara bersih itu. Udara bersih yang makin sulit dicari di antara tembok-tembok tinggi menjulang. Di sini tak ada rumah kaca, karena yang ada hanya batu-batu. Di sini tak ada deru mesin pabrik, karena yang ada hanya gemericik air sungai yang jatuh dari ketinggian.

Sebuah cungkup, berupa bangunan kayu jati tak terlalu besar tampak saat kami tiba di area makam. Bangunan itu posisinya agak tinggi. Ada banner bertuliskan “Makam Mbah Gotong Wali Syeh Zakaria”. Di depannya terdapat pohon beringin tua. Samping kirinya ada empat padasan untuk wudlu pengunjung. Belum lama ini, pemerintah daerah memberi bantuan berupa papan nama yang diberi sedikit keterangan tentang siapa sosok Mbah Gotong atau Syeh Zakaria

Paminto, sang juru kunci makam

“Suasana adem, tenang,” kata saya kepada dua teman. Kami bertiga datang untuk keperluan membuat konten video tentang wisata religi makam Syeh Zakaria. Konon Syeh Zakaria adalah seorang wali pada masa kerajaan Pajang. Pajang adalah salah satu kerajaan Islam di Tanah Jawa yang berdiri tahun 1568 dan runtuh pada 1587. Pusat kerajaan Pajang konon kini berada di Desa Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

“Saya bukan orang baik, tapi entah kenapa saya yang dipilih eyang. Nah, saya dapat cerita dari eyang. Eyang itu masuk ke sini, setelah bubarnya kerajaan Pajang. Eyang itu kan datang bersama saudaranya. Tapi ini menurut saya lho nggih. Yang di sini eyang Mangunkusumo. Yang di Wali Kidangan itu adiknya. Eyang Ciptokusmo. Tapi itu versi saya. Entah kalau versi lainnya.”

Begitu ujar juru kunci makam Syeh Zakaria, Paminto. Usianya kemungkinan belum 40 tahun, jadi kami tidak memanggilnya Mbah, sebagaimana umumnya sebutan para juru kunci. Paminto mengaku sudah lama ‘ikut’ Syeh Zakaria. Ia selalu mengatakan ‘Eyang’ yang berarti mbah/kakek untuk menyebut Syeh Zakaria.

Paminto bercerita, ia dulu bukanlah orang ‘baik’. Boleh dibilang orang berandalan. Ia kemudian sering ke makam, membersihkan makam, menyapu, menyabit ilalang, hingga sering tidur di area makam. Ia sangat yakin, ia lah yang kemudian dipilih Syeh Zakaria untuk mengurus makam. “Saya sendiri tidak tahu, kenapa eyang memilih saya,” katanya.

Teman saya sempat bertanya, bagaimana sang juru kunci berkomunikasi dengan Syeh Zakaria. Kepada kami, Paminto menjelaskan, komunikasi itu terjadi begitu saja. Seringkali seperti ada yang mendorong dirinya untuk berbuat sesuatu, atau eyang itu ‘datang’ dan mengatakan sesuatu pesan. “Makam eyang dan istrinya tidak di sini. Tapi ada di sana, di atas sana. Sampai sekarang makam belum dipugar. Eyang bilang ke saya, kalau membuatkan bangunan cungkup jangan ambil dari kayu jati di sini. Jangan merusaknya,” tuturnya seakan menirukan apa yang dikatakan sang wali.

Makam Syeh Zakaria yang lokasinya ‘di atas’

Kompleks makam Syeh Zakaria ini berada di Desa Tinawun, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro. Dan masih di wilayah Kecamatan Malo, tepatnya Dusun Kidangan di Desa Sukorejo terdapat makam Syeh Mukodar atau biasa dikenal dengan Wali Kidangan. Peziarah ke dua makam ini semakin banyak. Salah satunya karena akses menuju lokasi makin mudah setelah Pemerintah Daerah membangun jembatan Malo yang membelah sungai Bengawan Solo tahun 2005 silam.

Para peziarah banyak datang dari luar daerah. Mereka kadang hanya duduk-duduk sambil membaca sholawat. Tapi terkadang peziarah hanya duduk-duduk saja. Kami sempat menunggu sang juru kunci datang ke makam. Kami berwudlu, sholat asar, duduk-duduk di musholla yang dibangun modern, juga melihat-melihat area makam. Salah satu teman kami begitu khusuk duduk sambil berdoa, seakan mengucap salam kepada Syeh Zakaria, sang wali gotong.

Kami bertemu dengan juru kunci Paminto sekitar 30 menit. Sang juru kunci bercerita banyak tentang ‘eyang’, tentang makam dulu dan kini, hingga perilaku-perilaku peziarah. Paminto berbicara begitu tenang, sambil ngudud Sampoerna mild. Setelah lama kami berbincang-bincang, kami pun mohon undur diri. Sebelum pulang, kami menuju makam sang wali yang berada ‘di atas’, berupa makam tua dengan bangunan kecil. Sinar matahari sore menerobos dedaunan, mengguyur atap makam yang mulai rusak sana-sini. Makam berada di hutan jati. Suasana hening.

 

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here