Mengunjungi Surga di Kereta Api

0
83

Lepas dari stasiun Gambir yang menawarkan pesona puncak Monas beserta pendar cahaya manja yang menggiurkan, masuklah ke gerbong kereta api Sembrani jurusan Jakarta -Surabaya. Di setiap lekuk lorongnya, kamu hanya melihat betapa lelah menjadi nikmat tiada tara, ketika tempat duduk telah bersandar pada tubuh.

Kamu mengecek kembali tiket yang kau bawa, mengumbar pandang dan mencari angka yang sesuai dengan deret kursi di samping kanan-kirimu. Kamu menemukan angka yang sama. Sesungging senyum kau lepas pada orang di depanmu, sebelum dengan sopan kau melintas di depannya untuk meminta izin duduk di sebelahnya.

Kawanmu, yang wajahnya mirip Presiden Habibi itu, memberikan kantung kresek berwarna putih padamu. Bukan, kresek itu bukan diperuntukkan sebagai wadah muntahan. Sebab, kawanmu tahu jika kamu orang yang tidak mudah mabuk perjalanan. Sebaliknya, kresek putih bertuliskan nama toko franchise modern itu berisi sejumlah makanan dan minuman ringan. Kamu menatap wajah kawanmu itu dengan penuh rasa iba. Dia terlihat lelah karena membawa banyak tas yang dia bawa sendirian tanpa bantuan pengawal. Kamu menatap tempat duduk setelah mengucap terimakasih padanya.

Setelah kakimu menekuk dengan bentuk segitiga siku-siku, kamu memastikan pantatmu dalam kondisi tertumpu dengan baik. Kaki dan pantatmu sudah berada pada posisi aman ketika punggungmu meminta diperhatikan; kamu mengambil bantal yang mengganjal pada punggungmu, lalu memeluknya sesaat sebelum kau abaikan bantal itu dan meletakkannya di depan kursi.

Matamu masih terbuka dan wajahmu berpaling ke arah samping kiri, bertatapan dengan jendela kaca dan pagar beton bertuliskan sejumlah iklan layanan publik. Kamu berusaha melelapkan mata, tapi sulit. Sesulit menutup pintu kamar ketika masih ada asbak yang mengganjal di belakangnya.

Orang yang duduk di sebelahmu tiba-tiba menanyakan sesuatu padamu, “apa Anda dari Pakistan, atau punya hubungan saudara dengan Sharukh Khan?” Tidak, jawabmu. Kamu menjelaskan padanya jika dulu, kakek buyutmu memang masih satu kampung dengan kakek buyut Sharukh Khan. Hanya, mereka tidak saling mengenal. Orang di dekatmu mengangguk tanda mengerti, lalu tertidur pulas.

Kamu menggeser wajahmu ke arah depan. Di sana, matamu bersirobok dengan sebuah majalah berjudul On Track!. Dengan keengganan seorang pria kesepian, kamu mengambil majalah itu dan membuka-buka halaman secara asal-asalan. Tidak seperti yang tertera pada cover dan aromanya yang jauh dari istilah “buku bagus”, ternyata kamu salah. Di majalah itu, kamu menemukan kejutan.  Banyak bacaan bagus yang berharap segera kau jumpai.

Seperti majalah milik perusahaan pada umumnya,  majalah yang sedang kamu genggam itu memang dipenuhi artikel berbasis advertorial. Namun, kesan penyajian yang cukup asik membuat matamu kian jauh dari rasa kantuk. Warna-warni dan infografis yang elegan membuatmu tak henti-hentinya membolak-balik majalah tersebut.

Meski menyajikan informasi utama tentang layanan kereta api, pada majalah itu terdapat banyak artikel tentang lokasi wisata dan sejumlah bacaan hiburan berbasis ulasan dan kisah-kisah features. Diantara banyak artikel tersebut, terdapat satu artikel keren berjudul “Mencerdaskan Masyarakat Melalui Perpustakaan Kereta”.

Artikel itu bercerita padamu tentang perusahaan kereta api tidak hanya sedang meningkatkan kualitas layanan, tapi juga memanjakan penumpang dengan berbagai bacaan. Terlepas dari baik atau buruk artikel yang ditawarkan, bagimu, cukup memberi kesempatan penumpang untuk membaca buku saja sudah bagus.

Di dalam tulisan itu, matamu terpaku seolah tersandera kalimat demi kalimat yang menentramkan. Tulisan itu bercerita kepadamu tentang perusahaan kereta yang tidak hanya memperbaiki kualitas layanan seperti layanan di pesawat udara saja, melainkan juga ada tambahan buku berjalan dalam tajuk Kereta Pustaka. Di mana, ada mbak-mbak petugas yang membawa kereta dorong berisi buku. Di mana, setiap penumpang ditawari dengan sebuah kalimat: “mau baca buku apa hari ini?”

Kamu membaca tulisan itu sampai selesai sambil membayangkan Jorge Luis Borges berada di dekatmu dan bertanya, ” Apa surga sedang mampir di kereta?” lalu kamu menjawab “Iya” sambil menyorongkan sebuah buku berjudul Cacing di Lorong Yargusec dan memintanya untuk sekadar memberi sedikit komentar.

“Iya, iya. Ini buku bagus,” katanya sambil pamit ke belakang.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here