Menikah di Luar Angkasa

0
533

“Ground control to major Tom, ground control to major Tom, take your protein pills and put your helmet on..”

Lantaran tidak ada kawan mengobrol kala di kafe, Sipok memilih berkaraoke, bernyanyi mengikuti lagu Bowie yang diputarnya lewat hape. Keringat dinginnya mulai hilang. Entah sudah berapa ratus kali lagu Space Oddity itu diulang-ulangnya untuk mengatasi ketegangannya, sebab memang hanya itu satu-satunya lagu yang tersimpan di hapenya.

Sipok memang sangat menggemari lagu Space Oddity. Lagu itu pertama kali didengarnya dari Rio, tetangga rumahnya yang pernah berkuliah di Jogja. Awalnya ia hanya tertarik ketika membaca judulnya. Ya, Sipok memang terobsesi menjadi astronot sejak masih berumur belasan.

Nama Sipok sendiri adalah nama yang ia karang sendiri saat berkenalan dengan orang baru. Nama aslinya Slamet. Sipok diambil dari nama seorang tokoh protagonis dalam film Star Trek kegemarannya, Captain Spock. Lantaran pengaruh lidah jawa-nya, nama Spock menjadi Sipok. Dan teman-temannya pun meng-amini kendati sambil cekikikan mengolok nama tersebut.

Sore itu, di kafe, Sipok sedang menunggu Ratri, kawan sekaligus perempuan yang disukainya diam-diam. Mereka janjian bertemu hendak mendiskusikan film yang baru-baru ini Ratri tonton, judulnya Gravity. Film berkisah tentang astronot yang terdampar di luar angkasa akibat kecelakaan yang menimpa wahana antariksa.
Sejam menanti, Ratri datang dengan membawa DVD film Gravity yang telah lama dipinjamnya dari Sipok.

“Sory telat, udah lama nunggunya?”

“Ndak juga, aku juga baru datang kok.” dusta Sipok menghibur.

“Oh syukurlah, aku ngantar ibu ke pasar dulu tadi. Ada barang yang mendadak harus dibeli.”

“Iya, santai aja. Gimana filmnya?”

“Ini DVD-nya. Bagus banget. Aku sampe ikut melayang-layang nonton adegan-adegannya. Terasa real banget. Mulai dari cinematografi, CGI, sampai ke actingnya top abiss.”

“Persis seperti yang kurasakan. Aku juga seperti masuk ke dalam film. Ini satu-satunya film yang menggambarkan space paling aktual yang pernah kutonton.”

“Jadi makin pengen pergi kesana ya?”

“Iya, aku langsung pesan tiket Virgin Galactica usai menonton film itu.” sahut Sipok berkelakar.

Jika berbicara tentang luar angkasa, Ratri tak kalah sakti dari Sipok. Mereka sama-sama punya mimpi untuk bisa menjelajah keluar atmosfer bumi ini. Kesamaan mimpi inilah yang mendekatkan mereka berdua. Masing-masing bahkan mempunyai nama kode ketika saling bertukar pesan pendek. Major Tom dan Ground Control, begitu mereka saling sapa.

Sipok mengenal Ratri dari sebuah komunitas film yang digiatinya ketika masih berkuliah di Bandung. Awal bertemu mereka langsung akrab karena memang berasal dari kampung halaman yang sama. Ditambah lagi referensi film mereka sama. Dari referensi film itulah Sipok belajar bahwa Ratri mempunyai minat yang sama dengan dirinya.

Sipok selalu merasa bahwa ia berjodoh dengan Ratri. Suatu ketika menjelang lebaran Sipok mengajak Ratri untuk mudik bareng ke kampung halaman mereka di Madiun. Ratri setuju. Mereka memutuskan untuk mudik dengan menggunakan transportasi kereta api. Di perjalanan Sipok memulai ritual karaoke mengikuti lagu Space Oddity yang diputarnya di hape. Tak disangka-sangka Ratri ikut mengiring bernyanyi.

“Kamu tahu lagu ini?”

“Tahu dong, ini kan lagu favoritku.”

“Pertama denger dimana?”

“Dulu awalnya masku sering putar lagu ini di rumah. Pertama denger sih biasa aja. Tapi pas aku tanya judulnya. Aku langsung jatuh cinta sama lagu ini.” jawab Ratri sambil meneruskan bernyanyi.

Seketika jantung Sipok langsung berdebar. Tubuhnya seperti tersambar geledek mendengar jawaban Ratri. Ia merasa telah menemukan dirinya versi wanita. Tanpa pikir panjang Sipok langsung mengungkapkan perasaannya ke Ratri, dalam hati.

Keringat dingin kembali membasahi tengkuk Sipok saat mereka usai membahas film Gravity di kafe itu. Hari itu ia nampak tidak seperti biasanya ketika bertemu Ratri. Ada pertanyaan besar dalam benak Sipok tentang Ratri.

“Mas, pesan jus buah naga satu dong.” Saking semangatnya mengobrol tentang film Ratri lupa memesan minum.

“Kamu ndak pesan minuman lagi.” tanya Ratri sambil melirik gelas es teh Sipok yang telah kosong.

“Ntar aja. Masih belum haus.”

“Pesan kopi panas aja. Kamu belum ngopi kan?”

“Iya boleh. Kopi hitam aja.”

Ratri kembali memanggil pelayan kafe. Segera dipesankannya kopi hitam untuk Sipok.

Gelagat aneh terlihat dari diri Sipok sore itu. Ratri tidak berusaha menerka-nerka sebab mereka memang telah lama tidak berjumpa. Mereka sibuk dengan urusan pekerjaan yang baru mereka geluti beberapa bulan. Setelah wisuda Ratri memutuskan untuk pulang ke Madiun, sedangkan Sipok memilih tinggal di Bandung. Mereka lulus pada hari yang hampir bersamaan meski kuliah di kampus yang berbeda. Setahun kemudian barulah Sipok menyusul pulang ke Madiun setelah mendapat panggilan kerja di sebuah jawatan pemerintah.

Sebab dirasa agak kaku, Ratri mencoba mencairkan suasana dengan mulai bertanya tentang kura-kura yang pernah dipelihara oleh Sipok ketika di Bandung. Kura-kura itu diberi nama Yoda, mengikuti nama tokoh guru dalam film Star Wars.

Tak langsung dijawabnya pertanyaan Ratri itu. Sipok nampak sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Berulang kali dibakarnya rokok hingga tinggal sebatang. Padahal ketika datang bungkus rokok itu masih penuh. Ia baru menjawab setelah pelayan kafe datang mengantar kopi yang dipesan oleh Ratri.

Begitu sadar melihat raut Ratri yang semakin bosan. Sipok berniat segera mengungkapkan pertanyaannya. Kopi hitam yang barusan datang segera diseruputnya seoalah menjadi doping untuk memacu adrenalin-nya. Jantungnya berdebar seolah hendak meledak. Perasaan ini pernah dirasakannya beberapa tahun lalu ketika di perjalanan kereta.

“Ra, kau ingat tentang mimpi kita untuk pergi ke luar angkasa?”

“Tentu ingat. Kenapa?”

“Aku pengen kita perginya bareng. Satu pesawat.”

“Tapi sebelum kita satu pesawat.” Sipok melanjutkan. “Aku pengen kita satu rumah dulu.”

“Maksudnya?”

“Aku pengen nikah sama kamu. Mau ndak jadi istriku?” dengan gelagapan Sipok mengungkapkan pertanyaan yang sudah lama dipendamnya.

Pertanyaan Sipok yang begitu mendadak itu membuat Ratri terdiam lesu. Kepalanya tertunduk lemas. Tangannya yang kurus disematkan ke dalam saku jaketnya. Dengan kuat, diremasnya cicin kawin yang ada didalamnya.

SHARE
Insinyur perminyakan yang hobi memasak. Juga lagi senang-senangnya mengumpulkan quote yang tercecer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here