Mukicoi Bertemu Polisi

6
700
Foto: ilustrasi

Saya lagi-lagi nggak bisa ngempet bercerita tentang Mukicoi. Teman saya ini memang kelewat unik. Saya sudah beberapa kali  menceritakan kisah tentang Mukicoi ini dengan lisan kepada teman-teman, tapi akhirnya saya memutuskan menuliskan kisah tersebut di sini untuk Anda.

Pada tahun 2005, saya lupa bulan dan tanggalnya, Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) Kota Kediri merencanakan sebuah kegiatan OSIS English Short Course (OESC), sebuah kursus singkat bahasa Inggris gratis bagi para pengurus OSIS  level SMP/SMA se-Kota Kediri.

Ceritanya,  sie publikasi sedang mengirim surat-surat pemberitahuan ke sekolah-sekolah terkait rencana kegiatan ini. Petugas pengirim surat adalah Mukicoi dan sohib karibnya, Mukidin. Keduanya mengendarai motor bebek agak lawas. Mukidin menyetir dan Mukicoi dibonceng di belakang.

Setelah melewati perempatan, mereka tiba-tiba diberhentikan seorang polisi berseragam.

Sebelumnya perlu diketahui, baik Mukicoi maupun Mukidin sudah puluhan kali berurusan dengan polisi lalu lintas. Banyak sekali penyebabnya, ya menerobos lampu merah, salah jalan, tidak membawa surat berkendara lengkap, tidak pakai  helm, bonceng tiga, menabrak orang dan seabrek masalah lain.

Bahkan, pernah dalam satu perjalanan saja, mereka terkena dua kali tilang yang ujungnya sepeda harus disita sebagai barang bukti. Waktu itu, mereka kena tilang karena menerobos lampu merah. Setelah ditilang mereka melanjutkan perjalanan. Eh, di perjalanan kena tilang lagi karena ada razia. Karena STNK sudah disita polisi sebelumnya, akhirnya sepeda motor disita juga. Itulah Mukicoi.

Namun dari sekian banyak kasus “ketilang”, ada satu kejadian yang menurut saya sangat konyol dan “guoblik” (ungkapan saya untuk kebodohan yang terlalu dipelihara). Saat mengirim surat-surat ke sekolah untuk kegiatan yang saya sebutkan di atas, Mukidin dan Mukicoi dihentikan oleh polisi lalu lintas.

“Maaf pak, bisa lihat surat-suratnya?” tanya polisi kepada Mukidin

Mukidin kemudian mengeluarkan surat-surat kendaraan yang dia punya. Alhamdulillah lengkap, mulai STNK dan SIM.

“Maaf, apa bapak tahu kenapa saya berhentikan?” tanya polisi itu lagi.

“Oh apa ya, maaf mbak polisi, eh bu polwan, nggak tahu. Memangnya kenapa?” jawab Mukidin agak ketakutan bercampur memelas.

“Bapak telah menerobos lampu merah,” kata polisi cantik berseragam itu.

“Ah masa sih?” tanya Mukidin. “Tadi itu lampu masih berwarna kuning dan belum berwarna merah,” tambah Mukidin mulai mencoba beralibi.

Maka terjadilah perdebatan antara keduanya. Mukidin dengan gaya ngeyel campur memelas. Satu polisi lain, seorang polisi berkumis tebal mirip suami Inul datang kepada kami. Mukidin tetap berusaha meyakinkan dua polisi tersebut. Tapi, entah kenapa akhirnya polisi itu pun melunak. Mungkin saja Mukidin seperti mahasiswa yang jago debat. Atau mungkin polisi itu malas meladeni perdebatan itu.

“Ya sudah, besok lagi lebih hati-hati dan jangan terburu-buru ya,” kata polisi baik hati itu. Ia makin kelihatan cantik.

“Alhamdulillah,” kata Mukidin dalam hati. Ia girang bukan kepalang. Satu masalah sudah selesai. Dalam pikirannya ia terbebas dari tilang dan segera bisa melanjutkan perjalanan.

Nah, masalahnya ketika semua sudah aman, polisi sudah hendak pergi. Eh, Mukicoi yang dari tadi diam tiba-tiba ngomong. Dan ngomongnya itu lho. Aduh…..

“Maaf”, kata Mukicoi  dengan sopan disantunkan.

“Kami tadi terpaksa menerobos lampu yang sudah merah karena kami terburu-buru,” tambah Mukicoi.

Dua polisi yang sudah hampir pergi itu terhenyak. Mukicoi yang sedari tadi diam tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang tak disangka oleh polisi, apalagi oleh Mukidin. Itu artinya, penjelasan Mukidin yang berbusa-busa tadi tak ada guna sama sekali.

“Ini siapa yang benar?” gertak pak Polisi satunya yang berkumis tebal itu.

“Temanmu bilang bahwa lampu sudah merah. Kamu berbohong ya?” tambahnya dengan nada mulai tinggi karena merasa dipermainkan.

Mukidin melotot ke arah Mukicoi. Tapi Mukicoi diam saja, santai.

Anda tahu kan apa yang terjadi kemudian? Akhirnya terbitlah surat tilang dengan kesalahan menerobos lampu merah.

Entah apa yang terjadi di antara mereka diperjalanan setelah kejadian itu. Yang jelas, hingga mereka memasuki pintu kantor, Mukidin tak berkata apa-apa. Betapa konyolnya teman akrabnya itu. Dan Mukicoi tanpa merasa bersalah, sesampainya di kantor malah menceritakan pengalaman ditilang polisi tadi sambil tertawa-tawa. Tanpa merasa bersalah dan cukup rileks.

Kami sih hanya bisa berkata kepada Mukidin “terimalah nasib mu Din.. Mukicoi nggak usah dilawan”.

“Mukicoi memang edan,” kata Mukidin. Oalah Coi.. Mukicoi.

*) Penulis tinggal di Kota Kediri 

SHARE

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here