Nasib Humor Seks di Rezim Humor Politik

0
224

Boleh percaya boleh tidak. Bahwa humor politik kini lebih “berkuasa” dibandingkan dengan humor-humor lain macam humor seks. Mungkin saja apa yang berbau politik itu dianggap lebih intelek, dibanding misalnya apa-apa yang berbau seks. Humor politik lebih bisa menunjukkan kelasnya. Sedang humor seks dianggap level bawah. Najis. Kira-kira begitu.

Sehingga jangan heran jika banyak komika-komika itu memilih lawakan tema politik. Karena memang demikianlah publik menyukai itu. Dan jika politik itu nyerempet agama, maka sang pelawak akan langsung dibully. Paling apes adalah dilaporkan ke polisi. Dari zaman Srimulat, Bagito Grup, Warkop DKI, hingga grup-grup lawak era kini, banyak pelawak yang berurusan dengan hukum gara-gara materi lawakannya politik.

Kalau memang demikian, lalu kenapa orang tetap ingin melawak dengan tema politik, padahal risikonya tinggi? Boleh jadi karena memang humor politik masih “marketable”. Bisa melawak tema politik punya kesan cerdas dan cerdik, doyan baca, dan sebagainya. Lebih keren lagi, lawakan politik adalah bentuk perlawanan pada ketidakadilan, perlawanan pada kekuasaan. Kesan ini berbeda jika lawakannya adalah bertema seks. Humor seks lebih berkesan urakan, nakal, orang jalanan, dan tak berpendidikan.

Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Meski kesan itu tak bisa disalahkan begitu saja. Dan itulah yang perlu mendapat perhatian serius dari “rakjat jelata” pecinta humor.  Faktanya kini humor seks makin terdesak dan tak mendapat tempat. Lebih-lebih lagi masyarakat yang bergerak seakan-akan religius dan mengedepankan kesan yang baik meski sekadar kulit saja. Ibarat di supermarket, humor seks bertempat di pojok dekat toilet, yang pencahayaannya minim.

Padahal jika kita mau menengok sebentar ke “ilmu humor” maka seharusnya tidaklah demikian. Merujuk pikiran Larry Wilde (1978) yang menulis Banyolan Antar Bangsa (The Complete Book of Ethnik Humor), bahwa senjata komedi paling hebat sebenarnya adalah lelucon seks. Baru ranking kedua adalah lelucon etnik. (Hal:17). Jadi humor seks adalah humor paling diminati manusia di muka bumi ini. Baru setelah itu humor-humor etnik. Jadi humor-humor Madura, Jawa, Sunda, Arab, dan lain sebagainya itu masih kalah hebat dibanding humor seks. Apalagi dibandingkan dengan humor politik. Wah, nggak level tentunya.

Tapi itulah realitas kini bahwa humor politik berada di level atas. Humor seks berada di level bawah. Orang lebih banyak menyukai kriteria humor apa saja sebenarnya sah-sah saja. Mau humor seks, politik, etnik, teka-teki atau humor apapun. Tapi entah kenapa, kita perlu menyelamatkan humor seks yang ditempatkan di pojok gara-gara dianggap cabul, kasar, dan tak berpendidikan.

Mari kita ikuti cerita ini:

Seorang kakek yang beristri muda hendak memeriksakan kandungan spermanya ke dokter kelamin. Pasalnya sudah beberapa tahun berumahtangga mereka belum juga dikaruniai anak. Maka pergilah kakek itu ke dokter. Dan setelah kakek itu menceritakan tujuannya, maka sambil memberikan toples kecil berkatalah dokter:

“Kakek pulang dulu. Besok balik ke sini sambil membawa sperma kakek untuk sampel laboratorium”.

Maka pulanglah si kakek itu. Namun setelah dua hari kakek itu belum kembali juga ke dokter. Si dokter pun harap-harap cemas, khawatir terjadi sesuatu dengan si kakek. Hingga akhirnya di hari ketiga kakek itu datang. Namun botol itu tetap kosong.

“Kenapa masih kosong kek?”

“Saya sudah mencoba dok. Saya coba pakai tangan kiri nggak bisa. Pakai tangan kanan nggak bisa. Saya minta bantu istri saya pakai tangan nggak bisa. Juga dicoba pakai mulut tetap nggak bisa. Saya minta bantuan tetangga yang seorang janda tetap juga nggak bisa. Bahkan Dewi tetangga saya yang masih gadis saya minta bantu pakai tangan dan pakai mulut tetap nggak bisa dok.”

“Kakek sampai minta bantuan gadis tetangga kakek?”

“Ya dok. Dan sampai sekarang saya, istri saya, tetangga-tetangga saya tetap nggak bisa buka toples itu dok. Makanya masih tetap kosong,” kata si kakek itu pasrah.

Cerita di atas tentu tidak jorok sama sekali. Tapi siapapun anda yang membaca sejak awal pasti berpikir bukan tutup toples, melainkan mengarah entah ke hal apa. Dan memang begitulah kehebatan humor seks. Terkadang cerita tidak jorok, tapi sengaja mengecoh pembaca.

Mari mengukuti satu cerita lagi:

Seseorang menemukan botol ajaib. Lantaran botol minuman Vodka, maka penemu botol berpikiran bahwa jin yang ada di botol itu pasti orang Yahudi.

“Apa permintaanmu?”

“Aku ingin agar jarak antara penisku dengan tanah hanya sejauh satu jengkal,” jawabnya.

Dalam sekejap mata, jin Yahudi itu memendekkan kedua kakinya.

Masih ada banyak lagi contoh humor seks yang bagus. Di tiap cerita ada banyak permainan logika saja sebagaimana contoh cerita pertama. Sedang cerita kedua bisa diartikan bagaimana ketamakan orang bisa terjadi dimana saja, terutama yang berhubungan dengan seks.

Mau cerita humor seks lagi?  Ah jangan. Karena tulisan ini bukan bermaksud mengumpulkan cerita humor seks, melainkan sekadar mengingat bahwa humor bukan saja humor politik. Tapi juga ada humor seks yang makin ditenggelamkan. Kita perlu mengingat keberadaannya. Bahkan kalaupun ada sebuah polemik tentang humor seks vs moral itu lebih mendingan daripada dicuekin begitu saja.

Humor memang akan timbul akibat adanya tekanan meski tidak dalam waktu bersamaan. Ketika kekangan politik menguat, maka humor politik akan bermunculan. Ketika kekangan seks menghimpit maka humor seks akan tumbuh bak jamur musim hujan. James Danandjaya (dalam Suhadi, 1989), mengatakan fungsi humor yang paling menonjol, yaitu sebagai sarana penyalur perasaan yang menekan diri seseorang. Perasaan itu bisa disebabkan oleh macam-macam hal, seperti ketidakadilan sosial, persaingan politik, ekonomi, suku bangsa atau golongan, dan kekangan dalam kebebasan gerak, seks, atau kebebasan mengeluarkan pendapat.  Tapi masalahnya humor seks selalu ditekan sebelum muncul.

Dan tentu saja ada orang yang memaknai tulisan ini sebagai tulisan cabul. Ya mau bagaimana lagi? Risiko.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here