New Media, Jurnalisme, dan Demokrasi: Persilangan Tanda Tanya

0
393
foto: pinterest

Ketika internet menjadi life style masyarakat dunia, hampir semua pola komunikasi di semua bidang ikut berubah. Warga di manapun bisa saling terhubung, mendiskusikan satu topik, dan mengambil keputusan bersama tanpa harus bertemu. Warga yang awalnya hanya menjadi konsumen berita, dan kesulitan untuk ikut berpartisipasi menjadi narasumber di media massa, kini bisa bersuara kapan saja dan di mana saja melalui media internet.

Di Indonesia, masyarakat pengguna internet terus mengalami peningkatan. Tahun 2016 dari 256,2 juta penduduk Indonesia, sebanyak 132,7 juta orang menggunakan internet. Dari total pengguna internet, sebanyak 71,6 juta (54%) memanfaatkan media sosial Facebook, sebanyak 19,9 juta (15%) menggunakan Instagram, dan sebanyak 14,4 juta (11%) memanfaatkan YouTube.

Ketika Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta hendak digelar pada putaran 2 pada 19 April 2017, perdebatan tentang dua pasangan calon Ahok-Djarot dan Anies-Sandi memanas. Perdebatan itu tak hanya bisa ditemui di media massa korporasi, melainkan juga di media sosial seperti blog, Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Isu tentang tamasya al-Maidah, bahkan lebih ramai di media sosial daripada di media massa.

Fenomena itu menunjukkan siapapun kini bisa menjadi aktor politik dan ikut berperan di ruang publik. Setiap warga yang terhubung dengan internet bisa berperan layaknya seorang jurnalis yang melaporkan informasi-informasi kecurangan politik di sekitarnya tanpa harus melalui media massa terlebih dahulu sebagaimana masa ketika belum ada internet.

Lalu, apakah partisipasi warga di internet atau new media itu berbanding lurus dengan kematangan demokrasi? Esai yang ditulis Deni Elliott dan Amanda Decker berjudul New Media and an Old Problem Promoting Democracy (Elliott, 2011) bisa membantu memberi gambaran tentang tema itu.

Esai Elliot  hendak menunjukkan bahwa kemajuan teknologi mampu meningkatkan partisipasi warga. Namun, kemajuan teknologi itu juga sekaligus menimbulkan tantangan tentang tanggung jawab warga untuk secara aktif berpartisipasi urusan politik. Warga harus memperoleh pendidikan politik untuk ikut terlibat dan bertanggungjawab dengan perannya tersebut.

Ada beberapa kajian yang diangkat oleh Elliott & Decker. Yakni bagaimana new media itu dimanfaatkan oleh warga, pengaruhnya terhadap jurnalisme, dan bagaimana perubahan kemudian bisa mendorong terwujudnya demokrasi deliberatif. Tema ini sangat aktual sekarang, yakni ketika isu-isu publik benar-benar dimanfaatkan untuk ikut aktif dalam diskusi dan pertukaran informasi di new media. New media sendiri sebagaimana diungkapkan oleh Lev Manovic adalah konvergensi antara teknologi komputer dan media. (Manovich, 2006).

New Media, Jurnalisme, dan Demokrasi Deliberatif

Penggunaan new media oleh warga memiliki kaitan erat dengan dunia jurnalisme dan demokrasi. Tiga hal itulah yang coba dibahas oleh Elliot & Decker dalam esainya tersebut. Di new media, masyarakat tanpa kesulitan mampu menyuarakan pandangan-pandangan politiknya. Mereka bisa menyebarkan pandangannya lewat media sosial dan berperan sebagaimana seorang jurnalis. Munculnya jurnalisme warga atau citizen journalism adalah bukti pengaruh new media di masyarakat. Kegiatan jurnalisme yang dulu hanya dilakukan oleh jurnalis kini bergeser maknanya dengan “dibolehkannya” warga melakukan kegiatan jurnalistik. Media sosial memudahkan siapapun untuk mencari, mengolah dan menyebarkan informasi.

Hal itu kemudian berpengaruh pada paradigma jurnalisme. Media mainstream tak lagi menjadi satu-satunya sumber rujukan masyarakat memperoleh informasi. Bahkan melampaui hal itu, kini dengan new media bisa membangun kekuatannya sendiri untuk mengimbangi media mainstream.

Seorang ahli strategi politik Amerika, Joe Trippi menggambarkan betapa hebat pengaruh internet pada jurnalisme dan demokrasi. Internet adalah inovasi yang paling demokratis yang pernah ada. Internet adalah teknologi pertama yang benar-benar memberi orang akses secara penuh untuk mendapatkan pengetahuan. Dan dengan pengetahuan yang mereka peroleh dari internet, masyarakat bisa melakukan apa saja.

Di Amerika Serikat, selama ratusan tahun mengandalkan media cetak untuk menafsirkan kejadian dunia, tapi dengan internet masyarakat bisa mendapatkannya dengan mudah lalu menyebarkannya. Dan dengan informasi itu, mereka mendapatkan kekuatan.

Sementara itu, kemudahan akses itu juga telah mengubah wajah jurnalisme dunia. Media mainstream tak lagi eksklusif memproduksi informasi untuk disebar ke publik. Bahkan, seorang jurnalis kini juga dipaksa memelototi internet untuk mendapatkan informasi dari warga, salah satunya dengan mengamati media sosial. Karena banyak pandangan dan aksi masyarakat terekam oleh jurnalis warga melalui unggahan/postingan di media sosial.

Meski demikian, poduk jurnalistik dari newsroom jurnalis tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena informasi jurnalis diperoleh dari analisis dan investigasi yang dikejar secara kolaboratif oleh organisasi yang stabil yang dapat memfasilitasi pelaporan rutin, didukung manajemen yang modern, dan ada pertanggungjawaban secara hukum.

Jurnalis dituntut untuk bisa berkolaborasi dengan warga untuk mewujudkan demokrasi yang kuat, dan bukan berpandangan lama sebagai satu-satunya ‘sumber resmi’. Masyarakat sekarang bisa memilih sumber-sumber informasi yang mereka butuhkan untuk kemudian mempengaruhi cara pikir mereka dan kelompoknya. Dan dengan media sosial mereka bisa membangun opini publik sendiri tanpa campur tangan media mainstream. Sehingga, keberadaan warga internet dan media massa sangat penting di era demokrasi sekarang.

Jane Mansbridge berpendapat bahwa sistem musyawarah dengan melibatkan banyak orang akan bekerja dengan baik, karena mampu membuang ide-ide buruk dan menggantinya dengan ide-ide terbaik. Dan inilah yang konsep demokrasi deliberatif sebagaimana diandaikan Jurgen Habermas, yakni demokrasi dengan melibatkan publik secara langsung dalam diskusi-diskusi terbuka. Jika sistem deliberatif bekerja buruk, itu akan mendistorsi fakta. Sebuah sistem deliberatif, yang terbaik, seperti semua sistem partisipasi demokratis, membantu peserta memahami diri dan lingkungan mereka lebih baik.

Guna mewujudkan demokrasi deliberatif itulah internet berfungsi sebagai sarana mengekspos diskusi politik oleh masyarakat umum. Diskusi itu terjadi setiap saat melalui jaringan online di smartphone atau PC.  Di urusan pemilihan kepala daerah misalnya, warga bisa langsung berpartisipasi dengan menunjukkan pandangannya, berdiskusi tentang program kerja calon, dan mengakses dengan mudah segala informasi tentang calon kepala daerah.

Melalui kekuatan internet, setiap individu memiliki kemampuan untuk menjadi agen perubahan bagi masyarakat. Internet menyediakan cara bagi individu untuk memenuhi janji demokrasi dan menjadi agen perubahan sosial. Dan hal itu dilakukan lewat new media untuk mendorong terwujudnya demokrasi deliberatif.

Elliott & Decker mengutip pendapat seorang filsuf Inggris John Stuart Mill dengan konsep utilitarianisme. Yakni dengan mengatakan bahwa setiap orang berkewajiban untuk membentuk opini terbaik untuk kebaikan bersama. Utilitarianisme adalah konsep normatif bahwa keputusan yang baik harus menghasilkan konsekuensi yang baik. Setiap tindakan harus dilandaskan pada evaluasi apakah akan berdampak baik bagi orang lain juga. Pada tingkat tertentu landasan yang dipakai adalah kebahagiaan mayoritas.

Teori utilitarianisme ini kemudian hendak digunakan meneropong moralitas warga di era new media sebagai upaya mendorong demokrasi deliberatif. Mill mengatakan bahwa kebaikan masyarakat bergantung pada kebahagiaan orang lain juga, sehingga warga punya keterikatan untuk memperjuangkan sesuatu yang baik bersama-sama.

Dunia Tanpa Batas: Sebuah Tantangan

Elliott & Decker memang memberi gambaran terang tentang kekuatan besar new media untuk mendorong demokrasi deliberatif. Peran jurnalis dan warga melalui teknologi internet sangat menentukan dalam proses pengambilan keputusan politik. Kontrol negara terkikis oleh kekuatan warga yang aktif di ruang publik untuk mendiskusikan tema-tema penting yang berhubungan dengan kepentingan publik.

Tapi pertanyaannya apakah hal itu akan mudah diwujudkan, terutama di Indonesia? Bagaimana jika new media malah dijadikan alat untuk memaksakan kehendak atas nama kebebasan dan pada ujungnya mengunggulkan mayoritas daripada minoritas? Di mana ruang publik yang mengandaikan kesetaraan komunikasi berada?

Fenomena new media pada satu sisi memang menjadikan orang bebas untuk berpendapat dan berdiskusi di ruang publik. Namun, pada sisi lain new media juga menawarkan pendapatan ekonomi tanpa harus memikirkan apakah hasilnya akan baik untuk masyarakat atau tidak. Beberapa orang atau komunitas memilih membuat blog atau website dan menulis opini entang tema-tema provokatif dan disebar ke publik melalui sosial media. Tulisan-tulisan provokatif itu membanjiri media sosial dan menjadi perdebatan yang terus memanas pada satu persoalan.

Kehadiran media-media online yang digawangi oleh hanya satu atau dua orang saja banyak bermunculan. Mereka ikut aktif dalam diskusi-diskusi politik di Indonesia dan banyak dibaca oleh masyarakat internet (netizen). Sebut saja postmetro.com atau seword.com yang banyak mempublikasi tulisan-tulisan provokatif. Dan ada tengara, mereka sengaja memposting tulisan-tulisan provokatif demi kepentingan ekonomi.

Artinya, new media tak sekadar menjadi kekuatan warga untuk berinteraksi dan membangun opini publik menuju demokrasi deliberatif, demokrasi yang benar-benar didasarkan pada diskursus masyarakat. Tapi juga menjadi ancaman memperuncing perbedaan kepentingan politik yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi segelintir orang.

Selain itu, wacana tentang komunikasi geografi juga menjadi bahan diskusi menarik terkait tema new media dan demokrasi. Studi komunikasi geografi sebagaimana dibahas dalam buku Geographies of Communication The Spatial Turn in Media Studies akan memberi gambaran bahwa ada perebutan ruang dan berusaha untuk menjadi yang dominan. Ruang tak hanya bermakna realitas geografis, melainkan ruang dalam arti lebih luas. Komunikasi adalah proses penciptaan ruang dan perebutan ruang.

Ruang tidak lagi merupakan sesuatu yang terberi, melainkan sesuatu yang dinegosiasikan dan diperebutkan, salah satunya lewat komunikasi di internet. Pertarungan antara pendukung Anies dan Ahok di media sosial adalah upaya perebutan ruang yang melibatkan banyak orang. Mereka memanfaatkan ruang publik untuk memperbesar pengaruhnya di masyarakat.

Tapi, bagaimana pun apa yang dibahas oleh Elliott & Decker merupakan sebuah gambaran betapa besar dampak new media bagi masyarakat. New Media menjadi kekuatan sekaligus tantangan untuk mendorong terwujudnya demokrasi deliberatif yang menyejahterakan masyarakat semua, menjadi ruang publik yang punya kesetaraan komunikasi.             Apalagi saat ini, kita sedang berada di era banjir informasi setelah teknologi memberi kemudahan untuk mengakses internet. Ketika terjadi banjir informasi, maka akan sulit membedakan mana informasi yang benar dan mana yang palsu (hoax). Kajian-kajian lebih lanjut tentang tema ini akan selalu menarik, apalagi dalam perebutan ruang publik, di media sosial muncul berbagai bahasa baru, diantaranya buzzer, viral, netizen, hoax, dan istilah-istilah lain yang memunculkan perdebatan. Ke depan pasti akan ada perkembangan teknologi dan mempengaruhi semua bidang, dan substansi demokrasi yakni kedaulatan negara di tangan rakyat akan terus menemui tantangan baru.

_______________

Sumber rujukan:

Elliott, D. &. (2011). New Media and an Old Problem Promoting Democracy. In T. H. Ethics, Fortner, Robert S. & Facker, P. Mark . Blackwell Publishing .

Manovich, L. (2006). What is New Media? in R. &. Hassan, The New Media Theory Reader. New York: Open University Press .

_____________

*) Penulis adalah jurnalis, sedang studi S-2 Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Tulisan ini diambil dari catatan kuliah penulis. 

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here