Omah Joglo

0
118
Foto: Gangkecil

Perkampungan di Jawa biasanya dicirikan oleh gaya arsitektur rumah yang terdiri dari drojogan hingga joglo. Rumah tersebut dibangun dari bahan kayu jati yang saat itu mudah didapat. Tapi kini, tak semua kampung jawa bercirikan demikian. Gaya arsitektur modern dengan bahan batu bata sangat populer.

Kolonialisme menjadi salah satu penyebab adanya perubahan bentuk arsitektur rumah di perkampungan. Warga Belanda yang tinggal di Hindia Belanda (Indonesia) membawa budayanya ke daerah jajahan (Jawa) dan kemudian bersinggungan dengan budaya Jawa. Djoko Soekiman (2011) menyebut perpaduan itu dengan istilah ‘kebudayaan indis’ yang merujuk pada kebudayaan baru dari perbaduan budaya Belanda-Jawa. Pengaruh itu semakin tampak mulai abad ke-18. Namun, kebanyakan rumah milik warga dengan ekonomi menengah.

Perubahan bentuk rumah perkampungan jawa juga tak lepas dari masalah kepadatan penduduk. Pada awal tahun 1900 an Pemerintah Hindia Belanda mulai membahas tentang permukiman masyarakat Eropa dan Pribumi. Salah satu caranya dengan membuat rumah-rumah petak berdinding beton dengan ukuran kecil dan bentuk minimalis. Rumah masyarakat umum lebih kecil, tapi rumah pejabat berukuran lebih besar. (Soekiman, 2011: 127). Perubahan itulah yang tampak dalam tiap arsitektur rumah perkampungan Jawa kini.

Perubahan-perubahan macam itu juga tampak di perkampungan-perkampungan Bojonegoro. Kini, banyak rumah desain modern dibangun menggantikan rumah model joglo. Batu bata atau batu kapur menggantikan kayu jati. Apalagi di perumahan-perumahan hampir tidak ada yang memakai gaya joglo. Semua bergaya arsitektur modern yang mengekor budaya barat. Hal ini wajar lantaran bahan dasar kayu jati saat ini makin langka dan harganya mahal.

Tapi, mari saya ajak sekilas mengamati omah joglo yang ada di Bojonegoro. Tentu saja amatan saya bukan amatan ahli, melainkan amatan orang awam. Tapi, tidak ada kelirunya juga.

Coba lihat omah joglo di daerah Bojonegoro bagian barat, seperti Kalitidu, dan Padangan lalu ke selatan daerah Kecamatan Ngraho hingga Margomulyo. Banyak sekali omah joglo yang berdiri kokoh. Omah-omah itu terawat baik yang tentunya menggunakan kayu jati pilihan.

Akan tetapi ada satu yang menarik. Omah-omah itu punya tiga pintu utama. Yakni pintu utama di tengah dengan ukuran besar, dan dua pintu yang berada di samping kanan-kiri pintu utama dengan ukuran lebih kecil. Kenapa bisa begitu? Salah satu jawabannya adalah, omah joglo dengan tiga pintu merupakan warisan leluhur dan terpengaruh oleh gaya joglo kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Pintu utama sebagai simbol kekuatan keluar besar. Tiga pintu itu juga perlambang melambangkan kupu-kupu yang sedang berkembang dan berjuang di dalam sebuah keluarga besar.

Gaya tiga pintu omah joglo di daerah Bojonegoro bagian barat ini berbeda dari gaya pintu omah joglo di Bojonegoro timur seperti Kecamatan Kapas, Balen, Sumberrejo, Kanor hingga Baureno. Pada omah joglo di Bojonegoro timur, kebanyakan menggunakan satu pintu utama bergaya kupu tarung. Hampir tidak ada model tiga pintu.

Apakah itu berarti Bojonegoro barat lebih dipengaruhi gaya mataraman dan Bojonegoro timur dipengaruhi gaya jawatimuran? Tentu hal ini memerlukan kajian-kajian lebih lanjut terutama dengan menggunakan keilmuan mendalam. Hanya saja, secara sepintas saja, berpedaan itu kini nyata bisa dilihat.

Mengamati omah joglo baru satu sisi saja soal keunikan-keunikan arsitektur Jawa, khususnya yang ada di Bojonegoro. Ada banyak hal-hal menarik yang menjadi tantangan bagi para penulis, sejarawan, atau peneliti.

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here