Overdosis Informasi

1
550
Sumber: Pixabay

Saya sangat membatasi diri untuk tidak share atau menulis di media sosial terkait virus corona atau covid-19. Bukan apa-apa, hanya membatasi diri dan orang lain terpapar informasi tentang corona yang melebihi apa yang dibutuhkan.

Saya melihat akhir-akhir ini, informasi tentang corona bak air tsunami yang tiba-tiba datang dan menenggelamkan semua. Otak saya gelagapan mengikuti dan mencerna informasi tentang corona. Di televisi, radio, koran, medsos, grup wa, obrolan selalu tentang corona. Tapi penting kan? Ya, penting. Tapi tidak semua yang penting kita butuhkan. Tidak semua tentang virus corona kita perlukan.

Era ‘ruang tanpa batas’ medsos memang memungkinkan kita mengetahui apapun. Jumlah orang terinfeksi corona di China, Amerika, hingga Iran begitu mudah kita akses. Tinggal klik saja.

Bahkan, informasi tentang aneka teori munculnya virus corona juga mudah kita simak dan boleh dipercaya boleh tidak. Mulai teori konspirasi, illuminati, hingga yang menyebut corona sebagai tentara Allah untuk menyerbu orang-orang berdosa, atau sebaliknya corona adalah jelmaan djajjal.

Kita tak ubahnya objek bidik jutaan peluru yang tak pernah berhenti 24. Peluru informasi terus dibidikkan ke kita hingga kita benar-benar menganggap bahwa informasi itu sangat-sangat penting bagi otak dan jiwa kita. Celakanya, seringkali di atas kebutuhan kita.

Yang kemudian menjadi pertanyaan penting adalah, benarkah kita membutuhkan informasi itu semua mua? Kenapa kita ‘harus’ mengunyah informasi itu tiap menit, jam, hari, hingga bulan dan bahkan tahun? Benarkah kita akan menjadi lebih tahu usai mengonsumsi informasi-informasi itu? Dan setelah tahu semua, apa yang kemudian bakal terjadi pada kita dan dunia?

Kita kini terlanjur menganggap bahwa tahu banyak dan cepat adalah keharusan. Tidak boleh tidak. Kalau tidak cepat, kita dianggap ketinggalan. Kita merasa keren karena bisa share, tag teman, atau komentar tentang isu-isu aktual. Terutama kini tentang virus corona. Dengan begitu, kita merasa menjadi bagian dari warga digital.

Sayang, kita kadang melenakan sisi epistemologis soal informasi yang kita kunyah tiap hari. Apakah informasi itu diperoleh dengan cara yang benar? Atau sekadar bualan pencari sensasi, atau ocehan seorang pemimpi yang mengkhayalkan sebuah dunia yang dibayangkannya sendiri? Kita juga kerap melupakan sisi aksiologis dan mempertanyakan seberapa baik informasi itu untuk diri kita dan orang-orang sekitar kita? Harusnya kita selalu mempertanyakan itu setiap kali hendak mengonsumsi informasi dan membaginya kepada orang-orang sekitar.

Kembali pada informasi soal virus corona, apa sebenarnya yang kita butuhkan? Setiap orang dengan latar belakang sosial, ekonomi, politik, dan background lainnya tentu berbeda. Sehingga saya tidak bermaksud membuat definisi terkait informasi yang cocok. Tiap orang punya dosis masing-masing.

Begini ilustrasinya. Seorang ibu rumah tangga yang tiap hari mengurus anak, sangat membutuhkan informasi tentang pencegahan virus corona bagi anak. Bagaimana cara penularan, ciri-ciri orang terinfeksi hingga berapa besar potensi penularan pada anak. Tapi dunia digital yang tanpa batas juga menembakkan peluru-peluru informasi tentang keterkaitan corona dengan politik, corona dengan konspirasi, corona dengan isu SARA dan lainnya yang berujung pada usaha mediskreditkan seseorang atau kelompok yang diyakini bertanggungjawab atas virus tersebut. Orang-orang over dosis informasi pun kemudian berkubu dengan orang-orang yang satu pemikiran sebagaimana algoritme Google ataupun sosmed bekerja mendekatkan pikiran-pikiran seragam yang dideteksi oleh mesin intelektual buatan. Yang dikhawatirkan kemudian, mereka kemudian berubah menjadi golongan pembenci dan dihantui ketakutan-ketakutan.

Bukan. Saya bukan hendak mengkambinghitamkan informasi atas karut marut informasi tentang corona. Data Kominfo menyebut hingga 17 Maret 2020, terdapat 242 informasi hoax tentang virus corona. Berapa orang yang sudah mengonsumsi informasi itu?

Kita perlu rasional, informasi berlebihan di luar dari kebutuhan kita bukan sesuatu yang menjamin diri kita lebih bijak. Ibarat kita memerlukan vitamin, kita tidak harus sampai overdosis vitamin. Hasilnya sama buruknya jika kita kekurangan vitamin.

Oleh karena itu, pada era tsunami informasi kini, kita perlu menjadi dokter bagi diri kita. Seberapa tinggi dosis informasi yang kita butuhkan. Tidak semua informasi harus kita kunyah tiap hari, tapi kunyah sesuai kebutuhan saja. Lainnya abaikan saja.

Memang, dorongan untuk mengetahui lebih banyak dan cepat adalah lumrah, karena manusia adalah makhluk berakal. Kodrat manusia adalah mencari pengetahuan. Tapi benarkah ketika mengunyah informasi era kini tujuan kita benar-benar untuk mencari pengetahuan? Atau ada tujuan-tujuan lain yang malah membelakangi tujuan awal? Kita perlu refleksi diri, menjaga otak dan jiwa kita agar tidak rusak oleh informasi-informasi yang sebenarnya memang penting tapi tidak kita butuhkan.

Lalu kemudian timbul tanya, apa perlu ada pembatasan informasi oleh pemerintah? Bukan. Bukan ke sana apa yang saya maksudkan. Informasi adalah hak setiap orang. Tapi, bukan negara atau lembaga apapun yang membatasi informasi. Melainkan kita sendiri yang melakukannya, bukan orang lain. Kita harus berani menjadi ‘dokter informasi’ bagi diri kita. Mengonsumsi informasi yang sehat dan menyehatkan.

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here