Pak Kasbi dan Cerita Kusam Kaum Marjinal Kota

0
2557
ilustrasi: flickriver

“Mohon maaf saya tidak menyediakan minum. Saya biasa memesannya di warung samping itu”. Lelaki itu duduk agak membungkuk di hadapanku sambil merekatkan dua lutut ketika mulai bicara. Sesekali ia menatap pintu kamar dan mengusap rambutnya yang lusuh dan mulai memutih. Pak Kasbi, sebut saja namanya begitu, tinggal di rumah susun Penjaringansari, Surabaya sejak sepuluh tahun lalu. Ia satu kamar dengan seorang ibu dan seorang adik lelaki.

Pak Kasbi lulusan SMK bidang elektronik, pernah bekerja pada bidang servis elektronik. “Karena keterbatasan otak untuk diajak berpikir, akhirnya saya memutuskan berhenti kerja dan meneruskan usaha jahit rintisan bapak,” katanya. Matanya agak merah karena kurang tidur. Praktis sejak melanjutkan usaha jahit, ia melakukannya penuh tekun dan tabah pada keadaan.

Dulu, ia dan keluarga tinggal di rumah pinggiran rel kereta, hingga kemudian pemerintah kota melakukan relokasi. Dan kini, ia menempati rusun.

Di kompleks rusun ada sekitar tujuh penjahit seperti dirinya, namun banyak yang menitipikan jahitan baju pada Kasbi. Maklum, penggarapannya bagus. Mungkin karena ia orang yang sabar. Sampai-sampai jendela kamarnya terdapat tulisan “ tidak menerima permak” karena saking menumpuknya jahitan.

Rata-rata jahitannya datang dari toko yang meminta mengerjakan jas praktik untuk para dokter residensi yang sedang mengambil pendidikan spesialis. Dari satu jas putih para calon dokter spesialis, ia mendapat upah 40 ribu rupiah. Sedang ntuk sesama penghuni rusun ia tak pernah mematok harga, ia menerima berapapun yang diberikan.

“Saya menjahit sejak pukul delapan pagi hingga sebelas malam, kadang kalo banyak ya bisa sampai jam satu dini hari. Namun rata-rata jam sembilan malam sudah istirahat”.

Ia tak memiliki teman kerja, pernah ia meminta saudara-saudaranya atau keluarganya ikut membantu menjahit, namun karena kadang jahitan mereka sulit memenuhi permintaan pelanggan. Sejak itu ia hanya menjahit sendirian, sebanyak apapun orderan yang didapatkan.

Sebagai warga yang tergolong miskin ia pantang menerima bantuan kesehatan dan kesejahteraan dari pemerintah. Pernah ia menerima bantuan raskin, namun karena baginya ribet dan menguras waktu, ia memutuskan untuk tak meneruskan program itu. Pernah juga ia menerima bantuan kartu kesehatan, namun ketika ia butuh menggunakannya, ia mendapati pelayanan yang tidak memuaskan dan berbelit. Akhirnya ia juga tak lagi menggunakan bantuan kesehatan tersebut dan memilih mengeluarkan uang pribadi.

Pak Kasbi pernah menikah, kemudian cerai dan sekarang isterinya bekerja di luar negeri. Anaknya sudah usia SMA namun ikut paman dari pihak ibu. Ia merasa bahwa jika anaknya tinggal bersama, khawatir mengganggu adiknya yang memang mengalamai gangguan mental. Jadi lebih baik ia berpisah dengan anakanya dan lebih memilih merawat ibu dan adiknya sendirian.

Gangguan Mental

Soal adiknya yang memiliki gangguan mental, Pak Kasbi punya cerita. “Dulu adik saya itu sering jatuh, baik ketika naik sepeda maupun memanjat pohon.  Lalu ada tanda tanda bahwa perkembangannya tidak baik dan keluarga memutuskan untuk menyekolahkan di SLB. Namun SLB tak memberikan dampak yang baik, malah makinmemperparah keadaan, hingga keluarga memutuskan untuk mencari pengobatan alternatif,” katanya.

Pengobatan itupun, lanjut Pak Kasbi, tak berlangsung lama, hanya sekitar sempat sampai enam bulan hingga kemudian memutuskan pergi ke pengobatan medis di sebuah rumah sakit jiwa di Malang. Hal inipun tak memuaskan keluarga dan kondisi adiknya makin parah, artinya sulit diajak komunikasi dan bersosial.  Akhirnya keluarga tak lagi melakukan usaha kesehatan apapun, baik medis maupun alternatif.

Dengan kemalangan hidup yang dijalani, bukan berarti Pak Kasbi diam dan putus asa. Ia tak mau hanya meratapi nasib. Ia mesti menafkahi ibu, adiknya dan juga dirinya sendiri dengan apa saja yang bisa ia kerjakan untuk menyambung hidup.

Dan di rumah susun sempit itulah ia memulai. Berbekal mesin jahit tua dan setumpuk harapan, ia terus bekerja. Segala perabot rumah tangga berserakan tak beraturan. Maklum, dia sendiri yang harus menangani semuanya. Hampir tak ada ruang kosong yang bisa digunakan untuk meluruskan badan selain daripada tempat tidur yang warnanya tak lagi kelihatan nyaman bagi sebagain orang untuk isitirahat. Jangan Anda bayangkan dan bandingkan dengan apartemen mewah yang dihuni kaum-kaum modern perkotaan dengan seluruh furniturenya yang artististik estetik.  Ruang kos-kosan sempit saja masih mending dibanding tempat tinggal Pak Kasbi.

Membayangkan kehidupannya adalah membayangkan kehidupan jutaan rakyat miskin. Pak Kasbi mungkin masih beruntung mendapatkan tempat layak untuk berteduh dari pemerintah kota. Namun masih ada jutaan rakyat miskin lain yang untuk sekedar tidur saja mereka cuman bis amenggelar tikar, kardus, kertas koran atau plastik di bawah pohon, jembatan atau bahkan tanpa atap.

Keselarasan Program

Apa yang dialami Pak Kasbi bisa dilihat sebagai sisi gelap modal sosial pada kaum marginal yang justeru menimbulkan inequality atau keselarasan. Ketika Banyak program yang diinisiasi oleh banyak lembagai baik pemerintah maupun swasta mengkampanyekan equality (persamaan), yang tidak disadari justeru banyak efek samping akan sulitnya masyarakat kecil dan marginal memiliki akses pada tiap program tersebut.

Akses sangat bergantung dengan jaringan, kelompok sosial serta kepemilikan status dan juga jumlah “modal” yang ada.  Those who have the most connections tend to use them to advance their interests, and this in turn is a cause of further inequality. Kalimat ini bisa dimaknai pada kasus Pak Kasbi sebagai hal yang sebaliknya. Ia tak memiliki banyak koneksi dan juga “modal” sehingga ia kalah secara kultural dalam perebutan aset untuk meningkatkan modal sosial. Hanya orang yang memilki banyak koneksi dan juga status sosial yang tinggi bisa memiliki kemudahan mengakses setiap program yang ada, dan sudah menjadi mafhum adanya kaum yang tersisih semakin tertindih karena ketidakmampuannya mengembangkan dan meningkatkan modal sosial.

Jadi semakin jelas bahwa those who are relatively high on financial and cultural capital also tend to be high on social capital (Field, 2003). Isolasi sosial yang diciptakan oleh Pak Kasbi semakin memperlebar risiko terkikisnya modal sosial yang sudah ia miliki. Satu-satunya hal yang bisa diharapkan pada kasus Kasbi mungkin adalah norma timbal balik (recriprocity) yang tetap ia jaga dengan menerima dan memberikan jasanya pada sesama penghuni rusun yang ingin menjahitkan pakaian dengan tanpa mematok imbalan. Tentu saja hal itu tidak cukup karena dari sisi trust dan network ia sudah jatuh.

Sebagai kesimpulan kalimat berikut kiranya bisa mewakili cerita Pak Kasbi dengan seluruh kondisi sosial yang ia alami.  It is possible to see social capital as both an asset in its own right that is unequally distributed, and as a mechanism that can promote further inequality. Sangat mungkin modal sosial justeru menimbulkan jurang perbedaan yang lebar jika distribusi kepemilikannya tak lagi seimbang dan sama.  Pak Kasbi semakin tergilas oleh keadaan jika kebijakan distribusi akses akan program hanya memenangkan para pemilki modal besar.

___________

*) Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surabaya.

SHARE
Penulis adalah pembaca buku yang tekun, dan senang berburu kopi. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here