Penyiar Radio Bojonegoro dalam Dunia Iwan Siswoyo

0
303
Iwan Siswoyo/Sumber Foto: Gangkecil

Radio adalah suara. Tanpa suara, radio tak mungkin ada. Suara menjadi modal utama radio sebagai media komunikasi. Maka, radio kemudian dimaknai sebagai theater of mind atau panggung pikiran. Penyiar radio berkata-kata dengan imajinasi dan pikirannya, lalu pendengar berimajinasi dengan kata-kata yang didengarnya. Sungguh hal unik.

“Dunia radio bagi saya itu sesuatu yang unik. Menjadi penyiar seperti bukan kerja. Kita menghibur, memberi informasi dengan cepat tanpa diedit. Kita bicara dan dalam waktu itu juga pendengar mendengar,” kata Iwan Siswoyo, yang kini menjadi penyiar Radio Malowopati FM.

Iwan bukan orang baru dalam dunia kepenyiaran di Bojonegoro. Hampir 15 tahun ia berada di bidang radio. Dalam menjalani dunia kepenyiaran banyak lika liku yang dilalui. “Banyak hal berubah di dunia penyiar,” katanya saat ditemui di kantor Pelayanan Informasi Publik (PIP) Dinkominfo Bojonegoro, Rabu (26/8/2020).

Ia bercerita, masuk dunia radio tahun 2006. Waktu itu ia melamar menjadi penyiar di radio Surabaya Bojonegoro Indah FM (SBI FM) Proses rekrutmen yang panjang ia lalui. Mungkin proses rekrutmen semacam itu sudah tidak ada lagi saat ini.

Saat itu ada 100 orang lebih yang melamar sebagai penyiar. Setelah proses wawancara ada 7 orang yang dipilih dan kemudian disaring lagi tinggal 3 orang. Calon penyiar 3 orang itu kemudian mengikuti pelatihan (training) setiap hari dengan kegiatan-kegiatan wajibnya. “Salah satunya senam vocal yang dilakukan pagi dan sore,” katanya.

Tak hanya itu, calon penyiar juga harus menyiapkan naskah dengan urutan pembuka, announcing pertama sampai akhir, berapa kali jeda, dan lain sebagainya. Semua naskah harus dipersiapkan untuk penyiar berbicara diselingi memutar lagi selama 60 menit.

Lalu, bagaimana proses wawancara bagi calon penyiar? Iwan menceritakan, wawancara menggunakan microfon dan direkam. Suaranya masuk kategori ber-diafragma, yakni suara yang berat dan meyakinkan. “Kalau penyiar kan saat ngomong intonasi enak, aksen jelas, dan tidak medok. Kalau ngomong nggak ada keragu-raguan,” terangnya.

Iwan kemudian diterima dan gabung Radio SBI FM. Tahun 2006, di SBI FM ada 9 penyiar yang 3 diantaranya sekaligus reporter. Iwan bukan termasuk penyiar reporter. Ia memulai dengan siaran musik remix pagi hari dan tembang kenangan di sore hari.

Sumber: Facebook Iwan Siswoyo

Juru Mudi Kapal

Radio SBI FM mulai mengudara pasca gelombang reformasi 1998. Waktu itu, Iwan Siswoyo belum mengenal dunia penyiar. Bahkan pada tahun 2000 an ia berada di Malang untuk menempuh studi D1 manajemen bisnis di School of Bussines (SOB) Malang.

Sepulang dari Malang, ia mencoba menekuni bisnis kuliner dengan memproduksi keripik dan menjualnya. Tapi, takdir membelokkan arah hidupnya. Pada satu ketika ia bertemu teman sekolahnya dulu dan bercerita hendak melayar kerja di kapal. “Saya jadi ikut tertantang dan hendak ikut. Maka berangkatlah kami,” terangnya.

Di pelayaran, ia diterima sebagai juru mudi, sedang temannya masuk sebagai kelasi. Juru mudi kapal beda dengan sopir bus atau kendaraan darat. Karena juru mudi kapal harus cepat menguasai teknologi. Saat kapal hendak layar, kemudi memang dipegang. Namun, saat kapal sudah di tengah laut, hanya tombol-tombol saja yang berfungsi mengarahkan laju kapal.

“Training 3 bulan. Kemudi pakai alat modern, mirip tuning radio. Muatan 1.500 ton. Waktu itu kapal kirim barang. Bisa sampai ke Kalimantan Tengah. Bisa sebulan baru pulang,” terang Iwan.

Namun, arah hidupnya lagi-lagi dibelokkan Tuhan. Tahun 2006 ia melamar kerja sebagai penyiar dan diterima. Ia pun menyandang profesi penyiar. Baginya radio itu theater of mind. “Bisa jadi penyiar itu kalau di tempat umum kaku. Tapi kalau sendiri di ruang tertutup ya bisa imajinasinya main dan sangat menguasai,” tuturnya.

Dunia radio sangat unik. Ada hal-hal yang jarang diketahui masyarakat umum. Misalnya kenapa di meja penyiar zaman dulu selalu ada pensil? Ternyata pensil berfungsi untuk menggulung pita kaset. Jadi saat menyiapkan lagu berikutnya, seorang penyiar akan menggulung kaset pita.

Itu salah satu seni menjadi penyiar radio masa lampau. Tantangan penyiar dulu lebih banyak. Karena serba manual, maka penyiar akan menyiapkan lagu dan naskah sesuai tema. “Bahkan untuk besok sudah disiapkan. Lagunya apa saja dan lain sebagainya sudah disiapkan,” kenangnya.

Sekitar tahun 2006, penyiar masih menggunakan kaset pita. Penyiar harus menyiapkan lagu dengan cara menyiapkan lagu yang dicari untuk dimainkan. Salah satu caranya dengan menggulung pita sesuai lagu yang dibutuhkan. Tentu pekerjaan ini membutuhkan ketekunan dan ketelitian.

Pada tahun 2008, lagu-lagu mulai dialihkan ke komputer. Caranya masih sederhana, lagu dari kaset pita direkam semua, lalu dipotong per lagu, jadi file per album atau per penyanyi. Semua dilakukan di komputer. Dan penyiar sudah tidak lagi memutar lagu lewat kaset pita, melainkan lewat komputer. “Waktu itu SBI punya 3 tape, 2 untuk player dan 1 untuk menggulung,” tegasnya.

Waktu itu, radio di Bojonegoro sudah cukup banyak, diantaranya Bass FM dan Puspa Jaya. Tidak semua radio cukup mudah memperoleh kaset dengan. Salah satu cara adalah order ke Toko Widodo yang ada di Jalan Panglima Sudirman. “Setelah itu ada era VCD, dan sekarang cukup memutar MP3 di komputer,” terangnya.

Kini, radio sudah banyak berubah. Tantangannya pun berubah. Karier Iwan Siswoyo di dunia penyiar radio terus naik. Tahun 2010 ia dipercaya menjadi manager online SBI FM. Ia kemudian memutuskan resign dari SBI FM pada 2017. Namun, dunia penyiar kembali memanggilnya. Ia bergabung di Radio Malowopati FM pada Agustus 2018.

Ia memandang dunia radio Bojonegoro cukup semarak. Meski begitu, dari kacamatanya, dunia radio Bojonegoro membutuhkan inovasi-inovasi. Jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain, menurut dia, Bojonegoro agak kalah soal adaptasi teknologi radio.

“Di Kediri itu bisa mengolaborasikan radio dengan media sosial. Selain itu, radio di Bojonegoro kurang berani bermain pada segmen khusus. Misal di Surabaya ada Suara Surabaya yang khas di news. Kalau di Bojonegoro, hampir semua radio mirip-mirip, hampir seragam. Meski begitu radio cukup semarak,” tegasnya.

 

SHARE
Penulis menyelesaikan magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Belajar sejarah lokal secara otodidak. Ikut menerbitkan buku Bodjonegoro Tempo Doeloe (2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here