Perjalanan Spiritual Ronggo Warsito, Santri Bandel Kyai Hasan Bestari

0
1507
Sumber: Viva.co.id

Ronggo Warsito muda adalah anak nakal, kegemarannya keluyuran, adu ayam, dan judi. Mas Pajangswara-Nimas Ajeng Ronggo Warsito, orang tuanya, mempercayakan pria bernama Ki Tanujoyo untuk menjadi pengasuhnya, Tanujoyo sering kewalahan dengan ulah momongannya itu. Mungkin karena khawatir nakalnya keterusan, menginjak dewasa orang tua Ronggo Warsito kemudian menitipkan anaknya itu ke Ponpes Kyai Hasan Besari alias Ki Ageng Muhammad Besari di Tegalsari Ponorogo. Ki Tanujoyo diikutkan serta untuk menjaganya.

Di pesantren, alih alih jadi alim dan rajin belajar, kenakalan Ronggo semakin menjadi, dia malah memimpin persatuan judi di kota itu. Untuk bisa keluar dari pondok, dia sering menilap pengasuhnya. Hingga, pada suatu hari, Tanujoyo kehilangan jejak, setelah beberapa hari tak muncul di pesantren dia mencarinya ke mana ke mana, tapi tak ketemu. Tanujoyo lalu memberanikan diri lapor ke Kyai Hasan perihal ulah Ronggo. Kyai Hasan lantas memberi arahan agar Tanujoyo mencarinya ke daerah Madiun, ketemu, Ronggo lantas diajak balik ke pesantren.

Tanujoyo sangat malu dengan kyai Hasan, setelah itu, diam diam dia pulang ke Surakarta untuk melapor ke Pajangswara. “Saya sudah benar benar kewalahan, Gusti,” begitu kira kira. Bagai disambar petir di siang bolong, kepala Pajangswara seperti hendak pecah mendapat laporan Tanujoyo. Saat itu juga, dia langsung mengajak Tanujoyo pergi ke pesantren untuk melampiaskan amarahnya ke anaknya dan minta maaf kepada kyai Hasan.

Sesampai di pesantren, dia langsung sowan ke kyai Hasan untuk minta maaf. Setelah itu dia menuju komplek Ronggo. Lhadalah… Ronggo Warsito ternyata tidak ada di kamarnya. Kepala Pajangswara makin cenut cenut, dia lantas mencari sendiri anaknya, dalam beberapa waktu, akhirnya ketemu. Dia lantas menyeret anaknya itu untuk diajak kembali ke pesantren, bersujud dan minta maaf kepada kyai Hasan.

Dengan tenang kyai Hasan memaafkan Ronggo dan meminta Pajangswara bersabar. Sebenarnya, jauh di luar konteks lahir, kyai Hasan telah tahu sejak awal tentang fenomena yang menimpa Ronggo. Kyai keturunan Brawijaya V itu lantas memberi hukuman kungkum (berendam) kepada Ronggo selama 40 malam di kolam di dalam kompleks pesantren.

Perintah kungkum 40 malam oleh kyai Besari kepada Ronggo Warsito itu bukan hukuman lho. Malah kalau menurut saya hadiah terindah, tak semua santri bisa dipercaya untuk mengamalkan ilmu ini. Ini sebuah proses penting, konteks syariah disebut riyadlah untuk sampai pada kesadaran ilahiyah, konteks thoriqoh ini suluk, konteks hakikat ini untuk sebuah jalan yang lazim disebut wihdatul wujud alias manunggaling kawula marang gusti.

Sederhananya begini secara aplikatif, seseorang akan memiliki sifat menang tanpa ngasorake, ngluruk tanpo bolo, sakti tanpo aji aji. Maknanya tidak usah dikupas dalam dalam ya, nanti kejeron hehe. Sekarang kita pergi ke contoh, pernah dengar kan kisah nabi Khidzir dan nabi Musa ? Pasti lah, lha wong itu di al-Quran ada dan dikupas dengan jlentreh. Media belajarnya air kan? Kalau nabi Musa gagal berguru, itu agar menjadi pelajaran buat umat bro.

Terus kisah ketemunya Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, media belajarnya air kan? Lagi, Raden Ronggo putra Sutowijoyo, dia juga menemukan jati dirinya di perairan. Meski setelah berhasil malah gagal membawa diri dan akhirnya mati karena ilmunya sendiri. Bahkan, menurut keyakinan Kerajaan Yogyakarta hingga kini, leluhurnya, pendiri Mataram, si Bagus Kacung alias Sutowijoyo, alias Danang Sutowijoyo, alias Panembahan Senopati Sayidin Panotogomo menerima wahyu keprabon juga saat menjalani riyadlah di sungai. Ngintir (menghanyutkan diri) saat telasan dipandu uwaknya, Ki Juru Martani. Balok kayu yang digunakan perahu dan lujuknya juga masih tersimpan hingga kini di komplek makamnya di Kotagede.

Di jaman kini, dengan segala modifikasi dan penyesuaiannya, tentu masih sangat banyak yang memilih jalur demikian. Nah, Ronggo Warsito, dapat mencapai titik nol kesadarannya adalah saat melaksanakan ijazah gurunya itu. Hingga dapat mencapai apa yang disebut kesempurnaan hidup. Apa itu kesempurnaan hidup? Ya iman, taqwa, dan bermanfaat untuk umat. Sudah pernah baca karya karya Ronggo Warsito belum? Hehe.

O iya, saat ke Makamnya tempo hari, di Desa Palar Kecamatan Trucuk, Klaten, saya ditemani Mbok Giyem, istri juru kunci. Ada banyak makam kerabat keraton di sana, ada juga sumur tiban. Yang sudah ada sejak Ronggo Warsito hidup, tak diketahui pasti kapan munculnya. Usai dari sana, saya melaju ke gunung jabalkat, ke Makam Bupati Semarang, Pandanaran II. Murid Sunan Kalijaga…

 

SHARE
Politisi PKB di Bojonegoro, menyukai sejarah. Punya kebiasaan mengunjungi situs-situs kuno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here