Perkutut

0
219

FIKSI// Jangan pernah mengaku mengenal Kang Sareh sebelum membaca kisah ini. Eh, keliru. Jangan pernah mengaku mengenal perkutut sebelum membaca kisah ini.

Begini. Kang Sareh, begitu kami mengenalnya di kampung. Kampung kami berada di tepi kali yang tak punya nama. Atau setidaknya tidak ada satu nama yang digunakan warga. Ada yang menyebut kali bengkong karena ada belokan ke kampung sebelah. Ada yang menamainya kali randu, karena dulu ada pohon randu besar sekali di pinggir kali itu.

Kang Sareh memelihara perkutut. Hampir tiap waktu, sepengetahuanku, ia selalu sibuk dengan perkututnya. Ada tiga perkutut yang dipelihara Kang Sareh. Perkutut pertama didapatnya dari familinya di kampung jaran. Disebut kampung jaran karena dulu hampir semua warganya punya kuda. Termasuk keluarga Kang Sareh.

“Perkutut ini aku nggak beli. Tapi dikasih. Ini bagus. Karena perkutut kalau diberi orang itu artinya memang perkutut itu jodoh kita,” katanya padaku suatu sore saat aku lewat depan rumahnya. Lantaran dia ngomong denganku, terpaksa aku berhenti dan menyempatkan diri ngobrol barang sejenak.

Kang Sareh memang suka bercerita tentang perkutut. Siapa saja pasti diajak ngobrol, diceritakanlah perkutut-perkutut peliharaannya. Tak peduli orang yang diajak bicara menyukai perkutut atau tidak.

“Namanya Bejo. Kalau aku pulang dari mana saja, wah Bejo selalu manggung, menyambut. Aku pasti mengucapkan salam padanya,” katanya.

“Salam bagaimana? Assalamu’alaikum begitu?” tanyaku.

“Ya enggak to Kang. Ya cukup taklambaikan tangan ke arahnya. Bejo pasti mbekur,” tuturnya sambil membuka kandang dan mengganti air minum Bejo.

“Sampean memang ngeten,” kataku sambil menunjukkan jempol ke arahnya.

“Perkutut manggung itu bikin adem. Ati rasanya tenang,” katanya lagi.

Dan memang benar. Kang Sareh di kampung dikenal orang yang jarang neko-neko. Hidupnya begitu santai, tidak kemrungsung, rakus, tamak atau semacamnya. Kang Sareh orangnya sareh. Tenang.

Tentang ‘kesaktian’ perkutut yang bisa bikin hati adem, Kang Sareh punya banyak kisah penguat.

Pada suatu hari, ada perkutut lain yang masuk rumahnya. Darimana asalnya, Kang Sareh tidak tahu. Dan soal asal usul perkutut masuk rumah itu pun jadi makna khusus baginya.

“Itu pasti sudah ditunjukkan jalan oleh Tuhan, kalau perkutut itu memang harus ke sini,” katanya semangat.

Lalu perkutut itu pun dipegang dengan lembut. Aneh, perkutut itu diam saja. Maka jadilah dua perkutut menghiasi teras rumah Kang Sareh. Rumah joglo peninggalan orangtuanya. Dan sejak pagi buta, perkutut itu manggung saling bersahutan mirip irama gending jawa yang indah dan menenangkan.

“Tapi, musibah datang. Perkutut baru itu lepas dari kandangnya. Aku sedih. Aku sempat bertanya, kenapa diberi lalu diambil lagi? Aku sempat protes pada Tuhan,” ceritanya.

Tapi saat hatinya penuh amarah, pikirannya enggan menerima kenyataan hilangnya perkutut, ada yang aneh. Bejo diam. Bejo tidak mau manggung. Rumah joglo jadi sepi.

“Aku coba merenung, kenapa dengan Bejo?”

Hampir saja aku menimpali dengan kata-kata “lha sampean tidak minta Bejo cari teman sendiri saja. Mbok sesekali Bejo suruh berpikir tentang dirinya sendiri yang dikurung”. Tapi sebelum kalimat itu keluar dari mulutku, Kang Sareh melanjutkan ceritanya.

“Aku sempat berpikir, apa aku salah mengurung perkutut dalam sangkar? Lama aku berpikir. Tapi aku yakin, aku tidak menyengsarakan Bejo. Aku hanya mengajaknya jadi bagian dari rumah ini,” katanya kalem.

Seminggu berlalu perkutut hilang itu tidak ada kabar. Sudah seminggu pula Bejo membisu. Duh Gusti.

“Aku lalu belajar nerimo. Hati kutata. Dan ajaib. Keesokan harinya, di tengah kepasrahan akan kehilangan, tiba-tiba perkutut itu kembali. Aku hampir tidak percaya. Tapi itu nyata. Perkutut itu kembali ke rumah. Dan saat kutangkap, diam saja. Mungkin perkutut itu sedang mengujiku,” katanya.

Aku ingin menyela kisahnya dan mengatakan apa yang diceritakan itu bagiku terlalu dibesar-besarkan. Mestinya ya biasa-biasa saja. Apa hebatnya memelihara perkutut. Kalau bawa uang ke pasar, bisa mendapat perkutut sepuluh, tergantung seberapa tebal kantong kita. Tapi kemudian aku berpikir lagi, kenapa aku tidak mencoba memahami Kang Sareh? Kenapa aku tidak melihat sisi bagaimana Kang Sareh memaknai hubungan dia dengan perkututnya? Jangan-jangan aku yang tak mampu memberi makna secara mendalam?

“Terus perkutut satunya lagi itu dapatnya bagaimana?” itulah yang akhirnya keluar dari mulutku.

“Itu terjadi sore hari. Waktu itu aku menyiram bonsai asem yang kupelihara puluhan tahun. Ada anak muda mengejar perkutut yang terbang rendah. Perkutut itu menghindar sekuat tenaga, sayapnya dikepakkan dengan berat, napasnya tersengal-sengal. Menabrak gebyok rumahku dan terjatuh. Pemuda itu tidak tahu kalau perkutut itu di rumahku, diam tak bergerak,” ceritanya.

“Mati?” tanyaku.

“Pemuda itu sempat bertanya padaku. Tapi aku bohong dengan mengatakan perkutut itu terbang ke samping rumah. Pemuda itu bergegas mengejar. Aku lalu memegang perkutut itu. Masih bernapas. Tapi sayapnya berdarah. Mungkin pemuda itu menembaknya dan mengenai sayap kirinya,” tuturnya.

“Kang Sareh pasti merawatnya, membersihkan darahnya, membalut lukanya, hingga sembuh. Lalu sekarang, perkutut itu membalas kebaikan Kang Sareh dengan suara koongnya yang merdu serupa gending jawa yang menenteramkan hati,” kataku entah kenapa tiba-tiba mudah sekali keluar.

“Betul sekali. Coba lihat saat aku mendekati sangkarnya,” katanya sambil berjalan.

Perkutut itu pun mendekat, lalu mbekur, sayapnya agak mengembang, kepalanya mengangguk-angguk seperti sedang berbicara menyambutnya. Kang Sareh membuka sangkar dan telunjuknya dijentikkan dengan ibu jari di dalam sangkar. Perkutut itu makin bergairah, serupa sambutan penghormatan pada seorang teman akrab.

“Pintu sangkar kubuka, perkutut ini tidak akan keluar,” katanya.

“Benarkah?”

“Untuk apa aku berbohong?”

Kang Sareh terus berkisah tentang perkututnya. Aku benar-benar terpesona. Aku pamit pulang. Dalam perjalanan pulang, melewati jembatan kecil, masjid dengan dua menara, dan gang kuburan, tiba-tiba muncul sebuah harapan besar untuk mendapatkan perkutut di rumah. Aku berharap sesampai di rumah, ada perkutut di teras rumah, lalu aku pegang dan kumasukkan ke sangkar. Esok harinya manggung dan suaranya merdu serupa gending jawa. Harapan it uterus membesar dan berubah menjadi sebuah paksaan pada keadaan. Sesampai di rumah harus ada perkutut, sesampai di rumah harus ada perkutut. Kata-kata itu memenuhi kepalaku.

Dan ketika rumahku kelihatan dari jalan, dadaku berdebar-debar. Makin dekat makin berdebar-debar. Pertanda ada perkutut kah? Apa Tuhan mendengarku? Konon keinginan yang kuat akan mewujud jadi kenyataan.

Aku menginjakkan kaki di halaman rumah. Dadaku makin berdebar-debar. Perasaanku campur aduk. Persis di depan pintu kulihat ada sesuatu tertelungkup. Ya Tuhan, ada perkutut. Horeee. Aku sedikit berlari. Tuhan Maha Baik. Aku makin mendekat. Oh perkutut akhirnya datang ke rumahku. Aku membungkuk, melihat dengan teliti.

Asyem, ternyata tahi kucing. Kurang ajar, kucingnya siapa ini? Oh Tuhan, kenapa bukan perkutut, tapi malah tahi kucing? Sekejab aku teringat cerita Kang Sareh. Ah, aku harus nerimo. Tapi apa makna semua ini? Aku belum tahu jawabannya. Aku langkahi tahi kucing itu. Aku masuk ke rumah. Kepalaku mendadak pusing.

Omah Buku, 15 Oktober 2019

 

 

SHARE
Penulis adalah pecinta buku dan kopi. Pernah menerbitkan buku berjudul Buku yang Membaca Buku (2013).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here