Popularitas, Musik Anti Mainstream & Zona Nyaman yang Kurang Nyaman

0
883

Belakangan ini, kita cukup kenyang dengan suguhan musik aransemen dangdut koplo generasi millenial ala kids zaman now. Jika ditanya, siapa artis lakon di balik itu semua?? Maka sontak khalayak massa akan menjawab dengan lantang dialah Via Vallen dan Nella Kharisma.

Karier dua artis ini memang sedang moncer-moncernya. Tak tanggung lagi, kabarnya mereka berdua mendapat kepercayaan menjadi icon artis dalam agenda kampanye politik dari salah satu paslon dibursa Pemilukada Jatim mendatang.

Bicara citra popularitas, tentu ketenaran tersebut bukan tanpa alasan. Mereka berdua membawa sesuatu yang bisa dianggap sama sekali baru—maaf, lebih tepatnya pandai mengemas sesuatu yang telah ada menjadi sedikit berbeda­—dalam panggung hiburan masyarakat Indonesia.

Di lain sisi, selain cukup kenyang dengan arus hiburan dangdut kekinian agaknya saya juga dibuat nyenyak dengan lagu-lagu yang cukup familiar di kalangan orang berselera musik anti mainstream atau dalam kasta sosial musik, bisa juga disebut sebagai musik dari barisan band indie.

Tentu semua itu bukan karena paras cantik, juga bukan sebab goyang maju mundur ala-ala itik. Saya salut pada totalitas dan independensi dalam menyajikan karya.

Lalu, bagaimana sebenarnya band indie ini melayarkan nasib karya di jagad laut hiburan musik di Indonesia? Tentu menarik untuk diulas.

Pada intinya, istilah indie sendiri sederhananya bisa diartikan sebagai gerakan musik yang bebas dan mandiri. Rata-rata mereka tidak terikat dengan menejemen musik atau label tertentu. Mereka bebas berkarya bersama hati, karena mereka sadar dengan posisi sebagai insan dan bukan se-ekor sapi.

Tidak jarang, kumpulan band indie ini punya prinsip mulya dalam berkarya. Betapa tidak. Mereka memegang apa yang disebut dalam falsafah jawa sebagai “nerimo ing pandum” dan tetap “sepi ing pamrih, rame ing gawe” dalam berkarya. Sungguh prinsip mulya sekaligus juga bisa berakibat merana.

Memang, kebanyakan orientasi karya mereka hampir bisa dibilang nir-komersil. Maka jangan harap karya mereka terpampang dirak tempat penjual kaset VCD di pojok perempatan pasar layaknya kaset dari lagu Via Vallen dan Nella Kharisma yang setiap pagi bakal diputar sebagai backsound polisi mengatur lalulintas.

Untuk urusan rejeki, personil band indie ini ndak terlalu khawatir dengan ancaman dapur yang gagal ngepul jika alat ndak dipetik sambil dipukul. Sebab sebagian dari mereka punya pekerjaan utama sebagai penyangga logistik untuk penghidupan keluarga. Tentu ada juga yang bernasib sebaliknya. Akibatnya tidak jarang jika karyanya sepi penikmat maka ancamannya sudah pasti isi dompet sekarat.

Meski demikian, saya tetap meyakini semua karya akan menemukan penikmatnya. Penikmat di sini bisa disebut sebagai fans atau semacam kerumunan orang yang siap setia menanti buah karya dari band indie ini. Loyalis inilah yang selalu memberi apresiasi baik materil atau moril demi menjaga idolanya tetap survive berkarya.

Yang menarik lagi, band indie selalu menyimpan nilai lebih dalam penampilan yang disuguhkan. Entah dari formasi personil, style bernyanyi, alat yang dibawa, dan ndak ketinggalan juga dengan lirik-lirik khas mereka yang kental dengan dogma satire yang berat kebandul protes terhadap kenyamanan yang tidak sepenuhnya nyaman.

Mereka tidak canggung dengan klaim-klaim stereotip para haters yang kebanyakan menganggap karyanya tidak layak jual karena dianggap melawan arus sekaligus tidak peka menangkap selera pasar.

Pada kondisi itulah, Justru band indie ini menemukan sisi aslinya. Seolah menjadi oase di tengah keringnya independensi berkarya. Menjadi cermin bagi khalayak untuk mengingat kembali tentang ke-aku-an yang kian teralienasi semangat zaman.

Itulah pesona ganda dari band indie yang senantiasa memunculkan keunikan. Memancing hasrat penikmat musik kalangan minoritas agar ikut terketuk alam bawah sadarnya. Menyampaikan misi besar agar iklim dunia hiburan tidak melulu terpatri semangat eksploitatif dari kaum berduit.

Bagi pekerja musik, mungkin kerja keras tidak hanya diukur dari seberapa banyak keringat yang harus diperas dari tubuh lewat kegiatan fisiknya, namun juga seberapa besar pula karyanya bisa dianggap mewakili penikmat untuk menyuarakan segala bentuk kenyamanan dari lubuk hati, bukan kenyamanan yang lahir dari manipulasi.

Demikian, ulasan singkat dan tidak terlalu penting ini. Kiranya akan lebih afdhol lagi jika anda tergerak hati dan berkenan menyisikan sedikit waktu untuk mendengarkan langsung karya band indie. Cari dan temukan sensasi karya musik dari sisi yang berbeda dari yang biasanya. Nikmati, jangan lupa sambil minum kopi.

SHARE
Penulis adalah pelayan di komunitas literasi Sasana Aksara yang lagi jatuh hati dengan karya band indie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here